Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sulap Kesan Kumuh Jadi Penuh Kreativitas

Misbahul Munir S • Senin, 31 Oktober 2022 | 14:20 WIB
KREATIVITAS: Sejumlah siswa di SDN 22 Penyeladi terlihat sedang menyalurkan hobinya di dinding-dinding ruang kreativitas. SUGENG/PONTIANAK POST
KREATIVITAS: Sejumlah siswa di SDN 22 Penyeladi terlihat sedang menyalurkan hobinya di dinding-dinding ruang kreativitas. SUGENG/PONTIANAK POST
Melihat Ruang Kreativitas SDN 22 Penyeladi

Disamping mengajak anak untuk tekun belajar, guru juga dituntut mau memberikan ruang kreativitas bagi anak didiknya. Meskipun, ruang tersebut masih sangat terbatas dan sederhana. Demikian halnya yang dilakukan di SDN 22 Penyeladi, Kota Sanggau.

SUGENG ROHADI, SANGGAU

PAGI itu, Rabu lalu, sejumlah siswa terlihat sedang asyik mencoret-coret dinding dengan kapur tulis. Semuanya terlihat sangat antusias menggambar apa saja untuk menuangkan idenya. Momen itu, tidak luput dari pengawasan langsung para pendidik.

Kepala SDN 22 Penyeladi, Titis Kartikawati saat ditemui Pontianak Post menyampaikan, ruang kreativitas anak tersebut memang sengaja diciptakan untuk memberikan ruang belajar bagi anak didik agar mereka dapat mengekspresikan sesuatu yang ada dalam benaknya. Tentunya dalam koridor yang positif.

Di awal dirinya memimpin sekolah tersebut, ruang kreativitas tersebut merupakan ruangan yang terkesan kumuh. Ditambah lagi terdapat tulisan-tulisan yang bernuansa tabu dan pornografi bagi anak-anak didiknya. Tentu, kata dia, hal tersebut sangat tidak baik.

"Awalnya ruangan itu kelihatan kumuh. Apalagi ada tulisan-tulisan yang tidak senonoh yang tidak sedap dibaca. Akhirnya saya cari ide saja untuk memanfaatkan ruang itu bagi anak, tetapi yang bisa membawa dampak positif," katanya menceritakan.

Bersama rekan-rekan guru lainnya, ruangan tersebut kemudian dibenahi secara perlahan dan dilakukan pengecatan ulang sehingga nampak lebih berseri. Idenya, ruangan itu memang akan dijadikan sebagai tempat anak menyalurkan hobi, baik itu menggambar atau menulis maupun lainnya yang sifatnya positif.

"Ya mau tidak mau kami harus carikan solusi untuk anak-anak. Akhirnya kami cat ulang. Nah, sekarang, anak-anak bisa menuangkan ide baik dalam bentuk gambar atau apa saja di situ. Alhamdulillah, anak-anak senang dan nuansa yang kesannya tidak senonoh dan kumuh itu hilang dengan sendirinya," jelasnya.

Titis mengakui, mengubah pola dan cara pikir memang tidak mudah. Bahkan membuat perubahan itu tidak mudah. Tetapi, rekan-rekan guru di sini, Alhamdulillah, punya kemauan untuk melakukan perubahan itu.

"Pelan-pelan kami ubah. Mudah-mudahan nanti akan jauh lebih baik. Bahkan awalnya ketika membiasakan sekolah tanpa tong sampah pun sulit. Tapi perlahan, guru dan anak-anak didik mulai terbiasa," ujar dia.

Menurutnya, sebagai pimpinan sekolah, membuat kebijakan-kebijakan bukan sesuatu yang terlalu sulit. Tetapi, membentuk mentalitas untuk komitmen merealisasikan kebijakan itu yang kadang tidak mudah. Mental perubahan mesti harus dibentuk, walaupun secara perlahan.

"Apa yang kami lakukan memang secara perlahan. Mudah-mudahan dengan perlahan, kelamaan menjadi terbiasa. Terbiasa dengan sekolah yang bersih, anak-anak yang mau memunculkan kreativitasnya, guru-guru yang tidak capek mendidik dan membimbing anak-anak didiknya ke arah yang positif untuk masa depan mereka kelak," harapnya. (*) Editor : Misbahul Munir S
#Kumuh #Penuh Kreativitas #Sulap #SDN 22 Penyeladi #Ruang Kreativitas