PONTIANAK POST – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sanggau mencatat sebanyak 80 kasus suspek chikungunya pada periode minggu epidemiologi 1 hingga 19 tahun 2026. Kecamatan Kapuas menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.
Berdasarkan data sementara Dinkes Sanggau, Kecamatan Kapuas mencatat 55 kasus suspek, disusul Tanjung Sekayam sebanyak 24 kasus, serta 1 kasus dari RS Sentra Medika. Seluruh kasus tersebut masih berstatus suspek dan terus dipantau oleh tim kesehatan.
Pihak Dinkes membenarkan adanya peningkatan kasus suspek chikungunya di Kecamatan Kapuas sejak April 2026. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus itu umumnya ditandai dengan gejala demam tinggi, nyeri sendi hebat, sakit kepala, hingga muncul ruam pada sebagian pasien.
Baca Juga: Kasus Suspek Chikungunya Meningkat, Dinkes Sanggau Turunkan Tim Surveilans dan Intensifkan Fogging
“Betul, ada peningkatan kasus suspek chikungunya di Kecamatan Kapuas sejak April 2026. Tim surveilans Dinkes sudah turun melakukan verifikasi dan pendataan kasus,” demikian disampaikan dalam keterangan Dinkes Sanggau.
Untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih luas, Dinkes Sanggau telah menerjunkan tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) guna melakukan penyelidikan epidemiologi di wilayah terdampak. Selain itu, fogging focus dilakukan di lokasi dengan jumlah kasus tinggi guna memutus rantai penularan nyamuk.
Tak hanya itu, Dinkes bersama Puskesmas Kapuas juga telah mendistribusikan abate dan bahan edukasi kepada masyarakat serta kader kesehatan. Koordinasi dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga kader kesehatan terus diperkuat untuk menjalankan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus secara rutin.
Upaya pencegahan yang dianjurkan kepada masyarakat meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penampungan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta menggunakan kelambu maupun obat antinyamuk.
Baca Juga: Demam Mirip Chikungunya Diduga Mulai Merebak di Sanggau, Sejumlah Anak Terserang
Dinkes juga mengimbau masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi disertai nyeri sendi hebat, terlebih jika terdapat kasus serupa di lingkungan sekitar.
Pemantauan kasus saat ini dilakukan setiap hari melalui sistem Surveilans dan Kewaspadaan Dini Respons (SKDR) guna memastikan respons cepat apabila terjadi peningkatan kasus di wilayah lain di Kabupaten Sanggau. (*)
Editor : Miftahul Khair