PONTIANAK POST – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Sanggau mulai dirasakan masyarakat. Sejumlah wilayah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih karena sumber air semakin terbatas akibat minimnya curah hujan.
Kondisi tersebut mendapat perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sanggau. Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena mengatakan, pemerintah daerah tengah menyiapkan langkah untuk mengantisipasi persoalan air bersih, termasuk rencana penggalian sumur bor di wilayah yang selama ini sulit mendapatkan sumber air.
“Untuk daerah-daerah yang memang sulit mendapatkan air bersih, kita akan melihat kemungkinan dilakukan penggalian sumur bor. Ini menjadi salah satu upaya agar masyarakat tetap memiliki sumber air yang bisa dimanfaatkan,” ujar Susana.
Baca Juga: Warga Pontianak Kesulitan Air Bersih akibat Kemarau, Satarudin Minta Distribusi Terus Dilakukan
Menurutnya, pemetaan terhadap wilayah yang mengalami krisis air bersih penting dilakukan agar penanganan dapat diberikan secara tepat sasaran. Kondisi masing-masing daerah akan menjadi pertimbangan sebelum pembangunan sumur bor dilakukan.
Selain menyiapkan solusi jangka panjang, Pemkab Sanggau juga mendorong langkah penanganan sementara untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat selama kemarau berlangsung. Distribusi air bersih menjadi salah satu opsi untuk membantu warga yang mulai kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari.
Di tengah kondisi kemarau panjang tersebut, pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) juga menjadi perhatian. Kapolres Sanggau AKBP Kadek Ary Mahardika mengimbau seluruh masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan, karena kondisi cuaca yang panas dan kering dapat membuat api dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan.
Kapolres berharap masyarakat ikut berperan aktif menjaga lingkungan dengan tidak membuka maupun membersihkan lahan menggunakan cara dibakar.
Baca Juga: Polres Sanggau Salurkan Bantuan Air Bersih Bagi Warga Lingkungan Semajau di Tengah Musim Kemarau
“Di tengah kondisi kemarau seperti sekarang, kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan. Api yang awalnya kecil bisa dengan cepat membesar dan menimbulkan dampak yang lebih luas,” tegasnya.
Menurutnya, pencegahan Karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat, tetapi membutuhkan kepedulian seluruh lapisan masyarakat. Apalagi kebakaran lahan berpotensi menimbulkan kabut asap, mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat, hingga memperburuk kondisi lingkungan.
Susana berharap hujan segera turun sehingga kondisi sumber air masyarakat kembali normal. Namun, pemerintah tetap perlu melakukan langkah antisipasi mengingat musim kemarau dapat kembali terjadi.
“Yang terpenting sekarang bagaimana kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih, tetap terpenuhi. Kita akan berupaya mencari solusi, baik untuk penanganan saat ini maupun untuk jangka panjang,” katanya.
Persoalan kekeringan sekaligus menjadi bagian dari perhatian pemerintah dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Penyediaan sarana air bersih, termasuk sumur bor di wilayah rawan kekeringan, diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan bagi masyarakat Sanggau.
Di sisi lain, upaya pencegahan Karhutla terus diperkuat melalui koordinasi lintas sektor. Sinergi antara pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni dan masyarakat dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas selama musim kemarau.
Baca Juga: Norsan Salurkan Air Bersih di Kubu Raya, Ancam Cabut Izin Empat Perusahaan Terkait Karhutla
Di tengah kemarau yang semakin panjang, ketersediaan air dan pencegahan Karhutla menjadi dua persoalan yang saling berkaitan. Karena itu, selain menyiapkan sumber air bagi masyarakat, kesadaran untuk tidak membakar hutan dan lahan menjadi langkah penting untuk menjaga lingkungan dan keselamatan bersama. (agg)
Editor : Miftahul Khair