PONTIANAK POST - Sinyal ketertarikan membela Timnas Indonesia datang dari bek Reno Munz.
Pemain yang kini memperkuat Greuther Furth itu memicu spekulasi usai mengunggah bendera Indonesia di akun Instagram pribadinya, @renommuenz, di tengah aktivitas latihan bersama klubnya.
Dalam unggahan tersebut, pemain berusia 20 tahun itu menyematkan tiga bendera, yakni Uruguay, Brasil, dan Indonesia.
Uruguay dan Brasil merujuk pada rekan-rekan setimnya, sementara Indonesia diyakini sebagai penegasan identitas kelahirannya di Jakarta.
Isyarat ini langsung dikaitkan dengan peluang membela skuad Garuda.
Kabar ini menjadi perhatian karena pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, tengah mencari tambahan pemain dari Eropa.
Bahkan, sinyal dari Reno Munz dinilai bisa menjadi pintu masuk proses naturalisasi dalam waktu dekat.
Baca Juga: Fadly Alberto Menyesal dan Minta Maaf Atas Tendangan Kungfunya yang Mencoreng Timnas Indonesia
Profil dan Karier Reno Munz
Reno Munz lahir di Jakarta pada 2 Oktober 2005 dari orang tua berdarah Jerman.
Secara regulasi, ia berpeluang dinaturalisasi menjadi Warga Negara Indonesia karena lahir di Tanah Air.
Kariernya berkembang pesat sejak memperkuat akademi Bayer Leverkusen U-19 pada 2022–2024 sebelum akhirnya direkrut Greuther Furth.
Bersama klub Liga 2 Jerman tersebut, ia langsung menjadi andalan di lini belakang dengan catatan satu assist dari 24 pertandingan musim 2025–2026.
Penampilan konsisten itu juga membawanya ke level internasional bersama Timnas Jerman U-20.
Hingga kini, ia telah mengoleksi lima caps, termasuk saat menghadapi Polandia U-20 pada ajang U-20 Elite League, 31 Maret 2026.
Isu naturalisasi pemain diaspora kembali mencuat setelah pernyataan Staf Khusus Menteri Hukum RI, Noor Korompot.
Ia menyebut adanya rencana dari pelatih Timnas Indonesia untuk merekrut pemain dari Eropa.
“Serta rencana pelatih John Herdman merekrut dua pemain baru dari Eropa,” tulis Noor Korompot di akun Instagram pribadinya.
Peluang Reno Munz untuk terus bermain di Timnas Jerman kelompok umur akan segera berakhir.
Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mendekatinya secara serius.(*)
Editor : Budi Miank