PONTIANAK POST - Southampton resmi mengajukan banding atas keputusan pencoretan mereka dari babak play-off Championship akibat skandal mata-mata.
Pihak klub menilai hukuman dari EFL tersebut sangat tidak proporsional dibandingkan sejarah sanksi sepak bola Inggris.
Sebelumnya, komisi disiplin independen EFL mendepak Southampton dan mengembalikan posisi Middlesbrough ke babak final melawan Hull City.
Keputusan mendadak ini langsung memicu reaksi keras dari manajemen Saints.
Pengurangan Poin dan Kerugian Finansial Besar
Selain dicoret dari laga krusial, Southampton juga mendapat hukuman pengurangan empat poin untuk kompetisi musim depan.
Sanksi berat ini dijatuhkan setelah klub berjuluk Saints tersebut mengakui pelanggaran dua regulasi EFL.
CEO Southampton, Phil Parsons, langsung menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada para pendukung dan klub lain.
Namun, ia menegaskan sanksi mata-mata Southampton ini terlalu berlebihan bagi klub.
"Apa yang terjadi memang salah. Namun, kami tidak dapat menerima sanksi yang sama sekali tidak proporsional dengan pelanggaran ini," ujar Phil Parsons dikutip BBC.
Baca Juga: Jelang Semifinal Piala FA Manchester City vs Southampton: Pep Simpan Rodri Agar Tak Cedera Parah
Southampton Menilai Keputusan EFL Tidak Adil
Pihak klub merasa dirugikan karena kehilangan kesempatan dalam laga yang bernilai lebih dari £200 juta.
Nilai ekonomi yang sangat tinggi ini membuat hukuman tersebut menjadi penalti finansial terbesar dalam sejarah.
Southampton kemudian membandingkan kasus mereka dengan denda £200.000 yang diterima Leeds United pada tahun 2019.
Saat itu, Leeds United juga terjerat kasus serupa karena memata-matai sesi latihan Derby County.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Pecahkan Rekor, Portugal Bawa Sang Kapten ke Piala Dunia Keenam
Perbedaan Regulasi Masa Lalu dan Sekarang
Namun, saat Leeds dihukum tujuh tahun lalu, regulasi nomor 127 belum berlaku di kompetisi.
Aturan tegas yang melarang pengintaian lawan dalam waktu 72 jam sebelum laga baru dibuat setelah kasus Leeds.
Southampton juga mencontohkan beberapa kasus pengurangan poin bersejarah lain, seperti yang menimpa Luton Town pada 2008.
Saat itu, Luton Town mendapat hukuman pemotongan hingga 30 poin akibat masalah administrasi keuangan.
"Komisi disiplin memang berhak menjatuhkan sanksi. Namun, kami berargumen mereka tidak berhak memberikan hukuman yang sangat tidak proporsional," tegas Parsons.
Kasus pemotongan poin Derby County, Everton, hingga hukuman finansial Chelsea juga ikut disinggung dalam banding tersebut.
Kini, nasib Southampton akan ditentukan oleh panel arbitrase liga independen yang menggelar sidang darurat.*
Editor : Uray Ronald