PONTIANAK POST - Federasi sepak bola Italia (FIGC) mulai mengerucutkan kandidat pelatih tim nasional dengan dua nama teratas, Antonio Conte dan Roberto Mancini, menyusul agenda pemilihan presiden federasi pada 22 Juni mendatang di Italia.
Menurut laporan Gazzetta dello Sport, Jumat (29/5), siapa pun presiden baru yang terpilih, baik Giovanni Malagò maupun Giancarlo Abete, diperkirakan telah memiliki gambaran sosok pelatih yang akan memimpin kebangkitan Gli Azzurri setelah kegagalan beruntun di pentas dunia.
Antonio Conte disebut sebagai kandidat utama karena rekam jejaknya saat menangani Italia pada 2014–2016, termasuk membawa tim hampir mencapai semifinal Piala Eropa sebelum tersingkir lewat adu penalti.
Namun, peluang Conte terganjal faktor ekonomi karena pelatih Napoli itu diperkirakan meminta bayaran tinggi sehingga FIGC perlu mencari skema kreatif melalui sponsor dan bonus jika ingin merekrutnya.
Baca Juga: Siapa Matthias Jaissle? Arsitek Pressing Tinggi Incaran AC Milan
Mancini Ingin Pulang ke Italia
Roberto Mancini muncul sebagai opsi yang dinilai lebih realistis karena biaya kontraknya lebih terjangkau dibanding Conte.
Mantan pelatih juara Piala Eropa 2021 itu dikabarkan ingin kembali ke Italia setelah menjalani karier di Arab Saudi dan Qatar bersama Al Sadd, bahkan disebut menyesali keputusan mundur dari Timnas Italia pada Agustus 2023.
Menurut Gazzetta dello Sport, Mancini bersedia menerima gaji sekitar dua juta euro atau lebih rendah dibanding kontrak-kontrak besar yang pernah ia dapatkan di Timur Tengah.
Meski begitu, muncul pertanyaan apakah Mancini mampu mengulang performa impresifnya saat membawa Italia juara Eropa atau justru kembali menghadapi inkonsistensi seperti menjelang kegagalan lolos Piala Dunia Qatar.
Baca Juga: Napoli Capai Kesepakatan dengan Allegri, Kontrak Dua Tahun Segera Diteken
Masa Depan Italia Dipertaruhkan
Pencarian pelatih baru dipandang penting karena Italia menghadapi tekanan besar setelah beberapa kali gagal tampil di Piala Dunia.
FIGC dinilai tidak hanya membutuhkan pelatih, tetapi juga proyek jangka panjang untuk memperbaiki pembinaan pemain muda, kalender kompetisi, dan koordinasi dengan klub demi mengembalikan daya saing sepak bola Italia. (*)
Editor : Efprizan