PONTIANAK POST - Arsenal harus mengubur impian meraih gelar Liga Champions setelah kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) melalui adu penalti di partai final, Sabtu (30/5), sementara gelandang Declan Rice menyoroti keputusan wasit yang tidak memberikan penalti saat Noni Madueke dijatuhkan di kotak terlarang pada babak tambahan waktu.
Rice mengaku belum melihat tayangan ulang insiden tersebut, tetapi merasa Madueke berada di posisi lebih unggul sebelum terjatuh dalam duel dengan Nuno Mendes.
"Saya belum melihat tayangan ulangnya, tetapi saat berada di lapangan saya merasa Noni berada di depan dia. Jika melihat penalti yang kami dapatkan saat melawan Bayer Leverkusen, situasinya sangat mirip," kata Rice kepada Sky Sports, usai pertandingan.
Pemain timnas Inggris itu mengaku kecewa dengan keputusan tersebut dan memilih tidak memperdebatkannya lebih jauh setelah pertandingan.
Baca Juga: PSG Juara Liga Champions Lagi, Arsenal Tumbang Lewat Adu Penalti
"Saat itu saya sangat terpukul," ujarnya.
Kekalahan Menyakitkan Setelah Musim Panjang
Rice mengatakan kekalahan di final Liga Champions menjadi pukulan berat setelah Arsenal menjalani musim yang sangat panjang dengan total 63 pertandingan di semua kompetisi.
Menurutnya, adu penalti sering kali ditentukan oleh keberuntungan sehingga hasil akhir tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas sebuah tim.
"Perasaan utama kami adalah kecewa karena kalah di final Liga Champions. Adu penalti adalah lotere. Anda bisa menang atau kalah, dan malam ini kami berada di pihak yang kalah," katanya.
Baca Juga: Baru Dipecat Liverpool, Arne Slot Kini Jadi Incaran AC Milan
Meski gagal mengangkat trofi Eropa, Rice menegaskan pencapaian Arsenal sepanjang musim tetap layak diapresiasi.
Ia mengingatkan bahwa perjalanan tim dimulai sejak tur pramusim di Singapura pada Juli tahun lalu dan baru berakhir menjelang Juli tahun ini.
"Kami bangga satu sama lain. Menjuarai Premier League adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Jika bisa menambahnya dengan kemenangan malam ini tentu akan sangat spesial, tetapi inilah sepak bola," ujarnya.
Arsenal Diminta Belajar dari Kegagalan
Rice menilai kegagalan di final harus menjadi bahan pembelajaran bagi Arsenal untuk kembali lebih kuat pada musim berikutnya.
Baca Juga: Liverpool Bidik Iraola, Pelatih dengan Gaya Mirip Jürgen Klopp
Ia mencontohkan perjalanan sejumlah klub besar yang membutuhkan waktu lama sebelum akhirnya mampu menjuarai Liga Champions.
"Mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memenangkan Liga Champions pertama mereka. Itulah kenyataannya. Malam ini kami kalah, tetapi kami akan menggunakan perasaan ini untuk mencoba memenangkan kompetisi ini pada masa depan," katanya.
Gelandang berusia 27 tahun itu juga mengaku termotivasi saat melihat lawan mengangkat trofi yang selama ini menjadi target Arsenal.
"Melihat trofi itu dan melihat mereka mengangkatnya, itulah yang kami inginkan," ujarnya.
Baca Juga: Liverpool Pecat Arne Slot, Andoni Iraola Jadi Kandidat Terkuat
Perjalanan Arsenal Terus Menanjak
Rice menyoroti perkembangan Arsenal dalam beberapa musim terakhir yang dinilainya menunjukkan tren positif.
Pada musim pertamanya bersama Arsenal, klub London Utara itu hanya mencapai perempat final Liga Champions sebelum kemudian menembus semifinal dan kini berhasil melaju hingga final.
Ia membandingkan perjalanan tersebut dengan perjuangan Arsenal di Premier League yang beberapa kali finis sebagai runner-up sebelum akhirnya berhasil menjadi juara.
"Musim pertama saya kami mencapai perempat final, musim kedua semifinal, dan malam ini kami kalah di final. Hal yang sama terjadi di Premier League. Tiga tahun menjadi runner-up sebelum akhirnya juara," katanya.
Baca Juga: Koeman Bongkar Strategi Inggris di Piala Dunia: Andalkan Bola Mati Seperti Arsenal
Rice optimistis Arsenal memiliki masa depan cerah dan mampu kembali bersaing untuk merebut gelar Liga Champions.
"Sekarang saya merasakan sakitnya kalah di final Liga Champions dan saya ingin kembali untuk mengangkat trofi itu. Saya yakin kami akan kembali. Klub ini memiliki masa depan yang menarik. Kami akan tetap bersatu dan terus berjuang," tutupnya. (*)
Editor : Efprizan