PONTIANAK POST - Belgia memastikan langkah ke babak 16 besar Piala Dunia dan akan berhahadapan Amerika Serikat setelah membalikkan ketertinggalan dua gol menjadi kemenangan 3-2 atas Senegal melalui perpanjangan waktu, berkat gol penalti Youri Tielemans pada menit ke-125 yang juga tercatat sebagai gol paling akhir dalam sejarah turnamen.
Senegal sempat berada di atas angin setelah Habib Diarra dan Ismaila Sarr membawa timnya unggul 2-0 hingga menit ke-86, namun Belgia bangkit lewat gol Romelu Lukaku dan sundulan Tielemans untuk memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan.
Senegal Gagal Mengunci Kemenangan
Permainan disiplin Senegal selama lebih dari 80 menit akhirnya runtuh ketika Lukaku memanfaatkan umpan Thomas Meunier untuk memperkecil ketertinggalan pada menit ke-86.
Tiga menit berselang, Tielemans menanduk umpan silang Leandro Trossard untuk menyamakan skor setelah kiper Mory Diaw gagal mengantisipasi bola dengan sempurna.
Kebangkitan Belgia menjadi pukulan telak bagi Senegal yang sebelumnya tampil dominan dan hanya tinggal beberapa menit lagi memastikan tiket ke babak berikutnya.
Mantan penyerang Inggris Dion Dublin mengatakan kepada BBC Sport bahwa Senegal tampil lebih baik sepanjang sebagian besar pertandingan sebelum masuknya Lukaku mengubah arah permainan.
"Senegal lebih baik daripada Belgia selama sekitar 70 menit, lalu Lukaku masuk dan mengubah momentum pertandingan," ujar Dublin.
Penalti VAR Jadi Sorotan
Drama mencapai puncaknya pada penghujung babak tambahan ketika wasit menunjuk titik putih setelah meninjau tayangan VAR atas pelanggaran Lamine Camara terhadap Tielemans.
Baca Juga: Meksiko Perkasa di Azteca, Inggris Terancam Tersingkir di 16 Besar Piala Dunia
Tielemans sukses mengeksekusi penalti pada menit 124 menit 44 detik sekaligus mencetak gol paling akhir dalam sejarah Piala Dunia.
Keputusan tersebut memicu perdebatan karena banyak pihak menilai kontak yang terjadi tidak cukup kuat untuk menghasilkan penalti.
Mantan bek Inggris Gary Neville mengatakan kepada ITV bahwa menurut penilaiannya insiden tersebut tidak layak berbuah penalti.
"Saya benar-benar tidak yakin itu adalah penalti," kata Neville.
Baca Juga: Koeman Mundur Usai Belanda Tersingkir di Piala Dunia: Akhiri Periode Kedua Bersama Oranje
Roy Keane juga mempertanyakan lamanya proses peninjauan VAR sebelum keputusan diambil.
"Penalti itu terasa cukup berat dan wasit terlalu lama melihat tayangan ulang. Seharusnya keputusan diambil dengan penuh keyakinan," ujar Keane.
Belgia Ukir Rekor dan Jaga Asa
Pelatih Belgia, Rudi Garcia, memuji mental para pemainnya yang tidak menyerah meski tertinggal dua gol hingga penghujung waktu normal.
"Dalam sepak bola segalanya mungkin terjadi selama Anda percaya. Kekuatan tim ini juga datang dari para pemain yang masuk dari bangku cadangan karena kemenangan tidak diraih hanya oleh sebelas pemain," kata Garcia kepada BBC Sport.
Baca Juga: Amad Diallo Sebut Piala Dunia 2026 Jadi Pelajaran Berharga bagi Pantai Gading
Masuknya Lukaku terbukti menjadi titik balik pertandingan, sementara para pemain senior seperti Thibaut Courtois, Thomas Meunier, Kevin De Bruyne, Axel Witsel, dan Tielemans kembali menunjukkan pengalaman mereka di panggung Piala Dunia.
Belgia juga menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mampu menghindari kekalahan setelah tertinggal dua gol hingga menit ke-86 waktu normal.
Kekecewaan Mendalam Senegal
Bagi Senegal, kekalahan ini menjadi luka baru setelah sebelumnya kehilangan gelar Piala Afrika awal tahun akibat keputusan kontroversial yang juga melibatkan tinjauan VAR.
Pelatih Pape Thiaw tetap memberikan apresiasi kepada para pemainnya meski gagal mempertahankan keunggulan.
"Kami tersingkir dan itu sangat menyakitkan. Para pemain sudah memberikan segalanya, tetapi kami tidak mampu mempertahankan keunggulan dua gol. Kami harus menerimanya karena memang seperti itulah sepak bola," ujar Thiaw.
Belgia selanjutnya akan menghadapi Amerika Serikat di babak 16 besar dengan modal kebangkitan bersejarah, sedangkan Senegal harus mengakhiri perjuangan setelah kehilangan kemenangan yang sudah berada di depan mata. (*)
Editor : Efprizan