PONTIANAK POST - Penampilan gemilang Michael Olise bersama Timnas Prancis di Piala Dunia 2026 memicu kekaguman media Inggris sekaligus memunculkan penyesalan bahwa Federasi Sepak Bola Inggris (FA) gagal meyakinkannya membela The Three Lions meski lahir di London.
Sejak bergabung dengan Bayern Munchen pada musim panas 2024, Olise berkembang menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di dunia dan kini tampil konsisten sebagai motor serangan Prancis di Amerika Serikat, membuat namanya terus menjadi perbincangan utama di ruang pers Inggris.
Media Inggris Soroti Kesalahan Pendekatan FA
Mantan kapten Inggris Gary Lineker mengaku perkembangan Olise jauh melampaui perkiraannya setelah melihat potensinya saat masih membela Crystal Palace.
"Saya tahu dia pemain yang spesial ketika di Crystal Palace, tetapi saya tidak menyangka dia akan menjadi sespesial ini," kata Gary Lineker dalam podcast The Rest Is Football, seperti dikutip media Prancis L'Équipe.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Perempat Final Piala Dunia 2026: Argentina Dianggap Mendapat Lawan Paling Ringan
Sorotan juga datang dari Daily Mirror yang menilai FA tidak cukup agresif membujuk pemain-pemain berkewarganegaraan ganda agar memilih Inggris, termasuk Olise.
Media tersebut secara khusus menyinggung pendekatan mantan pelatih Inggris Gareth Southgate yang dinilai tidak pernah memberikan tekanan kepada pemain berdarah ganda untuk memilih membela negaranya.
Daily Mirror menyimpulkan bahwa Inggris pada akhirnya "membiarkan Olise pergi", sebuah penyesalan yang kini semakin terasa setelah performa impresif sang gelandang serang di Piala Dunia.
Sulit Membayangkan Olise Berseragam Inggris
The Sun ikut mengulas bagaimana Olise kemungkinan akan menjadi bagian penting skuad Inggris apabila memilih The Three Lions.
Baca Juga: Mesir Tuding Ada Keberpihakan untuk Messi Usai Disingkirkan Argentina di Piala Dunia
Jurnalis Tom Barclay menilai pelatih Thomas Tuchel kemungkinan akan memainkan Olise di sisi kanan agar Jude Bellingham tetap mengisi posisi gelandang serang, sekaligus memanfaatkan kerja sama yang sudah terbangun antara Olise dan Harry Kane di Bayern Munchen.
Namun, kolumnis senior The Times Martin Samuel memiliki pandangan berbeda.
"Para pemain hebat sekarang memilih kewarganegaraan sepak bola seperti mereka memilih klub. Olise sudah jelas memilih Prancis dan FA tidak memiliki alasan untuk memaksanya," ujar Samuel, dikutip L'Équipe.
Keputusan Membela Prancis Sudah Bulat Sejak Remaja
Perdebatan tersebut mulai mereda setelah BBC menayangkan wawancara dengan mantan pelatih Reading, Mark Bowen, yang mengungkap keputusan Olise sebenarnya telah dibuat sejak usia remaja.
Baca Juga: Swiss Menang Adu Penalti atas Kolombia, Tantang Argentina di Perempat Final Piala Dunia 2026
Bowen menceritakan bahwa pada 2019 pelatih Timnas Inggris U-20 Paul Simpson ingin memanggil Olise, tetapi sang pemain langsung menolak.
"Saya menyampaikan kabar bahwa Inggris ingin memanggilnya, tetapi Michael menjawab, 'Saya tidak tertarik, saya akan bermain untuk Prancis'," kata Bowen kepada BBC.
Kisah itu memperlihatkan bahwa pilihan Olise bukan keputusan yang muncul belakangan, melainkan telah diyakininya sejak pertama kali menerima panggilan Timnas Prancis U-18.
Di balik perdebatan tersebut, keberhasilan Olise juga menjadi inspirasi bagi banyak pemain muda berdarah ganda yang berani menentukan jalan karier internasional berdasarkan keyakinan pribadi, bukan semata peluang tampil di level tertinggi.
Baca Juga: Messi Gagal Penalti Lagi, Argentina Bangkit Singkirkan Mesir
Performa konsisten Olise sepanjang Piala Dunia membuat namanya semakin diperhitungkan sebagai salah satu pemain kunci Prancis, sementara media Inggris masih terus mempertanyakan apakah kesempatan emas mempertahankannya sebenarnya telah terlewat. (*)
Editor : Efprizan