Upacara ini ruang lingkupnya tidak sebesar Gawai Dayak dan Naik Dango. Hanya masyarakat suku Dayak Salako saja yang melaksanakannya. Upacara adat ini dilaksanakan seusai panen padi. Ini berarti masyarakat setempat akan memulai kembali tahun pertanian membuka ladang baru yang biasanya ditandai dengan ritual sam-sam. Ngabayotn terdiri dari tiga bagian ritual, yaitu Nurutni’, Nyangohotn, Matekng, dan Tari Narokng yang bertujuan sebagai pengundang, menjamu, dan mengantar Jubata kembali ke asalnya.
Dalam pelaksanaan ritual adat Ngabayotn ini juga dilakukan pengukuhan terhadap Kepala Binuo Garantukng Sakawokng, Marsianus Kodim.
Wali Kota (Wako) Singkawang, Tjhai Chui Mie, menyambut baik pelaksanaan ritual adat Ngabayotn. Dalam sambutannya, Wako, mengatakan Kota Singkawang memiliki bermacam ragam suku dan budaya. Begitu pula halnya dengan ragam sumber mata pencaharian masyarakat kota Singkawang.
“Karena kekayaan adat budaya, kita yang berbeda-beda secara suku, adat dan budaya, juga dipersatukan dengan menghidupi nilai-nilai Pancasila. Maka dengan begitu, adat budaya juga berfungsi sebagai sarana pemersatu bangsa yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila,” katanya.
Ia mengungkapkan rasa kebanggaan Pemerintah Kota Singkawang terhadap toleransi yang dibangun dan dijaga oleh masyarakatnya, yang memiliki bermacam ragam suku dan kebudayaan. “Dari sudut pandang kepariwisataan, semua kegiatan tradisi dan keagamaan di kota Singkawang merupakan hal yang bisa dimaksimalkan sebagai suatu potensi yang bisa mendapatkan wisatawan. Jika pandemi Covid-19 berlalu, tentunya kita bisa mendatangkan wisatawan dan memperkenalkan bermacam ragam kebudayaan yang kita miliki. Dan salah satunya adalah Ngabayotn,” ungkap Wako.
Ia berharap melalui pelaksanaan ritual ini hasil panen semakin berlimpah dan dapat menyejahterakan kehidupan bermasyarakat, khususnya di bidang pertanian. Wako menilai pengelolaan bidang pertanian yang baik menghasilkan pendapatan daerah yang baik pula. (har) Editor : admin2