Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pulang Kampung Demi Jadi Tatung

Misbahul Munir S • Minggu, 5 Februari 2023 | 09:15 WIB
Pelantikan Harisson sebagai Sekda Kalimantan Barat pada Jumat (14/1). Shando Safela/Pontianak Post)
Pelantikan Harisson sebagai Sekda Kalimantan Barat pada Jumat (14/1). Shando Safela/Pontianak Post)
Terbang dari Hongkong dan Singapura

Bagi masyarakat Tionghoa Kota Singkawang, perayaan Cap Go Meh sudah menjadi tradisi dan budaya yang terus dilestarikan. Bahkan, para perantau keturunan Tionghoa Singkawang selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung. Termasuk mereka yang memiliki darah keturunan tatung. Dua bersaudara Sucin dan Su Sian adalah contohnya. Mereka rela jauh-jauh datang dari Hongkong dan Singapura untuk ikut memeriahkan Cap Go Meh.

IDIL AQSA AKBARY, Singkawang 

SETELAH dua tahun ditiadakan karena pandemi Covid-19, festival Cap Go Meh Kota Singkawang yang berlangsung hari ini dipastikan bakal meriah. Kemeriahan itu sudah tampak sejak H-1 puncak perayaan Cap Go Meh, Sabtu (4/2) kemarin. Sesuai tradisinya, sejak pagi ratusan tatung menjalani ritual cuci jalan dari satu kelentang atau vihara ke kelenteng lainnya.

Salah satu yang ramai dikunjungi adalah Vihara Tri Dharma Bumi Raya (Toa Pekong). Ritual cuci jalan sendiri digelar untuk membersihkan kota dari ruh-ruh jahat. Tatung-tatung yang datang dari beberapa wilayah hingga pinggiran kota, ikut menjalani ritual tersebut. Mereka silih berganti mengunjungi pekong tertua di Kota Singkawang itu.

Ada tiga tatung wanita yang cukup menarik perhatian. Mereka berasal dari pekong Cetya Tho Fab di Jalan Pulau Belitung No.34, Singkawang Barat. Ketiganya merupakan saudara kandung dari pasangan Akong dan Ah Ngo. Akong dulunya juga seorang tatung yang selalu ikut festival Cap Go Meh. Bisa dibilang ia merupakan salah satu tatung senior di Kota Singkawang.

Kini di usianya yang sudah 83 tahun, Akong tidak lagi mengikuti festival. Anak-anaknya yang kemudian melanjutkan tradisi turun-temurun itu, termasuk ketiga tatung wanita tadi, dan beberapa anak laki-lakinya yang lain. Total anak Akong ada 14 orang. Enam di antaranya merupakan tatung.

Photo
Photo


Dari ketiga anak wanita Akong yang menjadi tatung, kakak tertua bernama Sucin. Ia anak kesembilan. Lalu Su Sian, anak ke-10, dan Susan (dewi Hoi Liung Nyiong Nyiong) anak ke-11. Uniknya lagi, dua di antaranya tidak tinggal di Kota Singkawang. Sucin dan Su Sian bisa dibilang diaspora yang sudah lama tinggal di luar negeri.

Sucin misalnya, sudah 20 tahun tinggal di Hongkong. Ia merantau sejak masih gadis. Kini ia telah berkeluarga dan memiliki satu anak di sana. Menjadi tatung menurutnya bukan pilihan, tapi dirinyalah yang dipilih. Darah seorang tatung biasanya diturunkan dari leluhur, hingga ke anak dan cucu.

“Menjadi tatung itu dipilih karena keturunan leluhur kita ada yang menjadi tatung. Saya menjadi tatung sudah hampir 16 tahun. Saya tinggal dan berkeluarga di Hongkong. Setahun sekali pulang ke Singkawang saat Imlek dan Cap Go Meh,” ungkap perempuan yang ketika menjadi tatung dirasuki Dewi Jun Fung Sian Ku itu.

Awalnya ia juga tidak menyangka bisa terpilih menjadi tatung. Waktu kecil ia bahkan selalu takut melihat tatung. Saking takutnya, bisa terbawa-bawa sampai dalam mimpi. Apalagi dulunya jarang sekali perempuan yang menjadi tatung. Di awal-awal, ia sempat merasa malu, bahkan sampai stres. Namun, lama-kelamaan ia pun terbiasa. Ia justru bersyukur dengan kelebihan yang dimiliki.

“Saya juga sempat merasakan sakit-sakitan (di awal), lalu dibawa ke dokter, tetapi tidak bisa sembuh. Ternyata saya dipilih (dirasuki ruh) menjadi tatung. Dengan menjadi tatung (punya kelebihan), saya bisa mengobati penyakit (menolong orang),” tuturnya.

Sucin merasa senang tahun ini bisa kembali ke Kota Singkawang. Untuk mengikuti festival Cap Go Meh, ia rela terbang jauh-jauh dari Hongkong. Selain pulang kampung agar bisa berkumpul bersama keluarga besar, kedatangannya juga khusus untuk menjaga tradisi tatung yang diturunkan leluhur. “Waktu pandemi Covid-19 kemarin (dua tahun) tidak pulang,” ucapnya.

Hal serupa juga dirasakan Su Sian. Wanita yang selalu dirasuki Dewi Kim Liung Nyiong Nyiong itu sudah belasan tahun tinggal di Singapura. Ia juga telah berkeluarga dan memiliki satu anak di sana. Su Sian pulang ke kota kelahirannya setahun sekali, untuk merayakan Imlek dan Cap Go Meh. “Baru tahun ini pulang (lagi) ke Singkawang setelah pandemi Covid-19. Rasa rindu pasti ada karena dulu setiap tahun pulang. Tahun ini perayaan Imlek dan Cap Go Meh juga lebih meriah,” ujarnya.

Terpilihnya Su Sian menjadi tatung terhitung baru. Kira-kira sekitar lima tahun yang lalu. Ruh dewa atau dewi yang merasuki tubuh seorang tatung memang tak mengenal usia. Ada yang sedari kecil atau anak-anak, ada juga yang sudah dewasa seperti Su Sian.

Ibu satu anak itu awalnya juga tidak menyangka. Pertama kali ia dirasuki ruh Dewi Kim Liung Nyiong Nyiong itu justru ketika berada di Singapura. “Saya bahkan awal masuknya dewi saat di rantauan (Singapura). Saya merasa sakit-sakitan, lalu telepon orang tua (ayah). Saya diminta pulang ke Singkawang. Pas pulang, ternyata langsung masuk dewinya,” ceritanya.

Saat awal-awal menjadi tatung, Su Sian juga sempat merasa malu karena dulunya yang menjadi tatung hanya laki-laki. Ia juga mulanya tidak percaya diri, karena ketika kerasukan, gestur dan mimik wajahnya tak bisa dikontrol. “Jadi wajah kita yang cantik jadi berubah aneh,” kelakarnya.

Photo
Photo


“Saya awalnya merasa tidak mau (jadi tatung). Saya bahkan tidak mau pulang ke Singkawang. Saya bilangnya (ke orang tua) sibuk kerja, tapi malah kena (dirasuki ruh) di sana (Singapura), bukan di sini (Singkawang). Habis itu saya terima saja. Lagian juga dewinya baik hati dan suka menolong kita,” tambahnya.

Sang suami yang merupakan warga Singapura sempat heran atau merasa aneh. Tidak percaya sang istri bisa terpilih menjadi tatung. Namun, karena sudah diberikan pengertian oleh Su Sian dan keluarga, suami akhirnya bisa memaklumi. “Awalnya suami agak kaget kok bisa gitu (kerasukan ruh dewi). Anak saya juga sama, kaget dan takut, karena di sana (Singapura) tidak ada (tradisi tatung). Kemudian saya berikan pemahaman,” katanya.

Baik Sucin, Su Sian, maupun Susan, ketiganya berharap perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Kota Singkawang tahun ini dan seterusnya bisa selalu meriah. Bagi mereka, yang terpenting adalah bisa terus menjaga tradisi turun-temurun keluarga, menjadi tatung. “Kami harapkan pada Imlek dan Cap Go Meh tahun ini, kita selalu diberikan kesehatan, dan keselamatan, kemudian perekonomian juga lancar,” ujarnya.

Seperti diketahui, tatung dalam bahasa Hakka adalah orang yang dirasuki ruh dewa dewi atau leluhur. Ketika kerasukan, raga atau tubuh orang tersebut dijadikan alat komunikasi atau perantara antara ruh leluhur atau dewa dewi tersebut. Caranya melalui doa atau mantra, ruh dewa atau dewi itu dipanggil ke altar tempat berdoa. Kemudian ruh akan memasuki raga orang-orang terpilih tersebut.

Festival Cap Go Meh Masuk KEN 2023

Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji mengungkapkan, saat ini terdapat dua event budaya yang secara resmi telah masuk dalam kalender wisata nasional atau Kharisma Event Nusantara (KEN) Tahun 2023. Dua event tersebut yaitu Festival Imlek dan Cap Go Meh di Kota Singkawang, dan yang kedua Nyobeng Dayak Bidayuh di Kabupaten Bengkayang.

“Kemarin disetujui oleh kementerian (Kemenparekraf RI). Ada dua event Kalbar yang berhasil masuk dalam Kharisma Event Nusantara 2023. Kalau event kulminasi Kota Pontianak, belum masuk karena terlambat menyampaikan proposal, jadi tak lolos administrasi,” ungkapnya.

Midji-sapaan karibnya berharap daerah-daerah lain yang memiliki event potensial juga bisa mengirimkan proposal ke pemerintah pusat dengan difasilitasi Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kalbar. Ada beberapa keuntungan jika event daerah masuk dalam kalender wisata nasional.

Photo
Photo


Selain mengangkat nama daerah menjadi terkenal, pemerintah pusat juga akan menyiapkan anggaran bagi pelaksanaannya. Daerah akan mendapat sarana promosi, baik di tingkat nasional bahkan internasional.

“Saya harap ke depan usulan itu harus cepat. Karena (kalau) masuk ke dalam KEN, pasti ada anggaran pusat, jadi menarik. Minimal kita dipromosikan,” pungkasnya.

Sementara itu, Menteri BUMN Erick Tohir mengungkapkan Kota Singkawang memiliki event yang sangat besar yakni Festival Cap Go Meh. Bahkan, Kota Singkawang mendapatkan julukan kota seribu kelenteng yang sangat toleran. Kota Singkawang dinilai telah memiliki branding yang sangat kuat, khususnya di sektor pariwisata.

"Tadi saya sampaikan, kalau mau menjadi kota pariwisata, harus ada lima titik yang dibangun. Kalau Cap Go Meh, turis pasti datang. Tapi kalau bukan saat Cap Go Meh, perlu ada event lain atau sesuatu yang bisa dikunjungi," katanya saat diwawancarai di sela kunjungan ke Kota Singkawang, Sabtu (4/2).

Erick menyebutkan fasilitas bandara yang diberikan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) bagi Kota Singkawang juga menjadi bagian untuk mendukung dari sisi infrastruktur. Kota Singkawang diharapkan dapat memunculkan lima tujuan wisata yang bisa dikunjungi oleh wisatawan.

“Tadi saya datang ke rencana pembangunan Masjid Agung yang bertemakan kopiah, itu sangat bagus. Lalu, ada desa adat (Dayak). Itu baru dua, berarti ada yang perlu dibangun lagi. Wisata lokal sangat berpotensi besar, jadi jangan pernah menomorduakan (keberagaman) bangsa kita sendiri,” katanya.* Editor : Misbahul Munir S
#cap go meh singkawang #pulang kampung #Jadi Tatung #cap go meh #Kharisma Event Nusantara