Pada momen itu, Erick Thohir tampak terkesan dengan atraksi yang ditunjukkan oleh para tatung. Dari kursi VVIP, Erick berkali-kali mengabadikan momen menggunakan ponselnya.
Sementara itu, Kepala Staf Presiden, Moeldoko juga tak kalah terkesima, meskipun perayaan atau Festival Cap Go Meh di Singkawang bukan hal yang baru baginya. Moeldoko pernah bertugas dan menjabat sebagai Pangdam XII Tanjungpura.
Dalam pidatonya, Moeldoko pun menceritakan pengalamannya waktu itu. Menurutnya, kala itu sempat terjadi perdebatan tentang pembangunan patung naga di Singkawang. Dalam perjalanannya, patung tersebut ada yang ingin membongkarnya.
“Saya katakan kepada mereka, hai kalian, sebelum kalian lahir, Kota Singkawang sudah seperti ini. Jangan ada yang macam-macam. Jika kalian macam-macam membongkar patung naga, Moeldoko akan berdiri di barisan paling depan,” katanya.
Oleh karena itu, melalui Festival Cap Go Meh ini, ia berharap soliditas dan solidaritas nasional dapat diperkuat. Festival Cap Go Meh dianggap sebagai simbol toleransi yang patut dicontoh oleh daerah lain di Indonesia. Ia berharap semangat toleransi ini bisa menular ke berbagai daerah lain di Indonesia.
“Saya berharap, ini bisa menjadi virus di Indonesia. Karena itu sangat penting bagi Indonesia, siapa pun pemimpinannya nanti,” katanya.
Selain itu, ia juga berharap, Festival Cap Go Meh yang menampilkan arak-arakan para tatung atau loya (dukun) itu bisa dilaksanakan lebih meriah dan megah lagi.
Sementara itu, Wakil Gubernur Ria Norsan menyebutkan atraksi tatung dalam Cap Go Meh merupakan suatu keunikan yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Para wisatawan rela datang ke Kota Singkawang untuk melihat pertunjukan tatung.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar memastikan dukungan penuh bagi penyelenggaraan Festival Cap Go Meh. “Pemprov Kalbar sangat mendukung festival ini. Mudah-mudahan festival berikutnya ditata lebih apik dan meriah dari sekarang,” jelasnya.
Ria Norsan dalam kesempatan ini juga menyampaikan rasa bahagia karena Kota Singkawang ditetapkan sebagai kota tertoleransi se-Indonesia. Hal itu menurutnya menunjukkan bahwa Kota Singkawang bisa menerima berbagai etnis dan agama, untuk bersama membangun daerah.
"Terlebih dengan perayaan Cap Go Meh yang dirangkaikan dengan festival tatung. Makna tatung dalam perayaan Cap Go Meh adalah untuk membersihkan, dan membuang ruh jahat setelah Imlek," ujarnya.
Ria Norsan mengungkapkan, karena keunikannya, festival tatung selama ini mampu membuat masyarakat dunia tertarik. Hal itu yang kemudian membuat para wisatawan rela datang ke Kota Singkawang untuk melihat pertunjukan tatung. Meski atraksi-atraksi yang ditampilkan sedikit menegangkan, namun dipastikan tidak berbahaya.
Menteri BUMN RI Erick Thohir menyatakan, predikat Singkawang sebagai kota tertoleran merupakan representasi dari Indonesia. Negara ini menurutnya bisa menjadi negara yang sangat toleran karena ada Pancasila sebagai falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Inilah Indonesia yang kita kenal (toleransi). Jangan jadikan Indonesia yang tidak kita kenal, justru Tuhan menjadikan Indonesia negara yang sangat beragam, dan tidak ada negara seperti Indonesia," ujar Erick.
Karena itu, ia berpesan agar semangat toleransi ini bisa terus dijaga. Termasuk dalam menghadapi tahun-tahun politik, atau Pemilihan Umum di 2024 mendatang. "Jangan sampai pas pemilu justru (perbedaan) ini yang ditonjolkan, setiap lima tahun sekali, padahal Indonesia umurnya sudah ribuan tahun," katanya.
Sementara itu, Kepala Staf Presiden, Moeldoko juga tak kalah terkesima, meskipun perayaan atau Festival Cap Go Meh di Singkawang bukan hal yang baru baginya. Moeldoko pernah bertugas dan menjabat sebagai Pangdam XII Tanjungpura.
Dalam pidatonya, Moeldoko pun menceritakan pengalamannya waktu itu. Menurutnya, kala itu sempat terjadi perdebatan tentang pembangunan patung naga di Singkawang. Dalam perjalanannya, patung tersebut ada yang ingin membongkarnya.
“Saya katakan kepada mereka, hai kalian, sebelum kalian lahir, Kota Singkawang sudah seperti ini. Jangan ada yang macam-macam. Jika kalian macam-macam membongkar patung naga, Moeldoko akan berdiri di barisan paling depan,” katanya.
Oleh karena itu, melalui Festival Cap Go Meh ini, ia berharap soliditas dan solidaritas nasional dapat diperkuat. Festival Cap Go Meh dianggap sebagai simbol toleransi yang patut dicontoh oleh daerah lain di Indonesia. Ia berharap semangat toleransi ini bisa menular ke berbagai daerah lain di Indonesia.
“Saya berharap, ini bisa menjadi virus di Indonesia. Karena itu sangat penting bagi Indonesia, siapa pun pemimpinannya nanti,” katanya.
Selain itu, ia juga berharap, Festival Cap Go Meh yang menampilkan arak-arakan para tatung atau loya (dukun) itu bisa dilaksanakan lebih meriah dan megah lagi.
Sementara itu, Wakil Gubernur Ria Norsan menyebutkan atraksi tatung dalam Cap Go Meh merupakan suatu keunikan yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Para wisatawan rela datang ke Kota Singkawang untuk melihat pertunjukan tatung.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar memastikan dukungan penuh bagi penyelenggaraan Festival Cap Go Meh. “Pemprov Kalbar sangat mendukung festival ini. Mudah-mudahan festival berikutnya ditata lebih apik dan meriah dari sekarang,” jelasnya.
Ria Norsan dalam kesempatan ini juga menyampaikan rasa bahagia karena Kota Singkawang ditetapkan sebagai kota tertoleransi se-Indonesia. Hal itu menurutnya menunjukkan bahwa Kota Singkawang bisa menerima berbagai etnis dan agama, untuk bersama membangun daerah.
“Terlebih dengan perayaan Cap Go Meh yang dirangkaikan dengan festival tatung. Makna tatung dalam perayaan Cap Go Meh adalah untuk membersihkan, dan membuang ruh jahat setelah Imlek,” ujarnya.
Ria Norsan mengungkapkan, karena keunikannya, festival tatung selama ini mampu membuat masyarakat dunia tertarik. Hal itu yang kemudian membuat para wisatawan rela datang ke Kota Singkawang untuk melihat pertunjukan tatung. Meski atraksi-atraksi yang ditampilkan sedikit menegangkan, namun dipastikan tidak berbahaya.
Menteri BUMN RI Erick Thohir menyatakan, predikat Singkawang sebagai kota tertoleran merupakan representasi dari Indonesia. Negara ini menurutnya bisa menjadi negara yang sangat toleran karena ada Pancasila sebagai falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Inilah Indonesia yang kita kenal (toleransi). Jangan jadikan Indonesia yang tidak kita kenal, justru Tuhan menjadikan Indonesia negara yang sangat beragam, dan tidak ada negara seperti Indonesia,” ujar Erick.
Karena itu, ia berpesan agar semangat toleransi ini bisa terus dijaga. Termasuk dalam menghadapi tahun-tahun politik, atau Pemilihan Umum di 2024 mendatang. “Jangan sampai pas pemilu justru (perbedaan) ini yang ditonjolkan, setiap lima tahun sekali, padahal Indonesia umurnya sudah ribuan tahun,” katanya.
Asal Usul Tatung
Atraksi tatung pada perayaan Cap Go Meh selalu mengundang perhatian banyak orang. Puluhan ribu wisatawan domestik maupun mancanegara, berdatangan ke Singkawang, untuk menyaksikan langsung aksi para tatung pada puncak perayaan Cap Go Meh setiap tahunnya. Tahun ini tak terkecuali.
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang dinilai sebagai salah satu pagelaran budaya yang sangat berbeda dari daerah lainnya. Atraksi para tatung inilah yang menjadi daya tarik. Tatung adalah orang yang dirasuki dewa atau leluhur. Tatung juga dipercaya sebagai orang yang mampu berkomunikasi dengan dewa.
Ada banyak versi tentang asal-usul tatung. Namun, salah satu yang diyakini mendekati kebenaran ialah bahwa istilah tatung berasal dari dialek Khek etnis Tionghoa, yang terdiri dari dua suku kata, yakni Ta yang berarti pukul, dan Tung yang berarti sakit.
Ini merujuk pada metode penyembuhan yang dilakukan para tabib, atau yang biasa disebut loya (dukun). Saat penyembuhan penyakit, mereka memukul-mukul bagian yang sakit dari pasiennya. Setelah pasien tersebut sembuh, para loya ini pun mendapat pengakuan dari warga yang tinggal di daerah itu.
Versi lain menyebutkan, ritual Cap Go Meh yang dilakukan oleh para tatung di Singkawang berasal dari Monterado. Di Kawasan itu, sejak abad ke-17, para pekerja dari negeri Tiongkok, menetap untuk menambang emas.
Meskipun tidak lebih banyak dari komunitas penambang emas yang berada di kawasan kongsi dagang Lau Te Fak (di Kabupaten Landak), namun komunitas Tionghoa di Monterado diperkirakan mencapai ribuan orang.
Pada masa itu, wabah penyakit menyerang warga setempat. Para tabib kemudian melakukan pengobatan dengan metode tatung. Para warga yang terjangkit pun akhirnya sembuh. Kemudian dilakukanlah acara arak-arakan para tatung dengan iringan suara tetabuhan yang nyaring. Masyarakat Tionghoa percaya suara yang nyaring dapat mengusir roh jahat yang menjadi penyebab merebaknya wabah penyakit tersebut.
Saat arak-arakan itulah, para tatung yang telah dirasuki roh menunjukkan aksi kebal mereka. Kebanyakan yang merasuki adalah roh panglima perang. Oleh karena itu, tatung kerap tampil dengan baju kebesaran, layaknya jubah para panglima perang di negeri Tiongkok pada masa lalu.
Aksi kebal yang dilakukan para tatung yakni dengan menusukkan jarum ke pipi. Ada pula yang menyayat lidah dengan pedang. Beberapa di antaranya juga duduk di atas tombak, serta berdiri di atas bilah parang, atau susunan paku. Atraksi ini menjadi simbol kekuatan para tatung.
Atraksi ini terus berkembang dan tersiar hingga ke mancanegara, terutama negara China. Banyak warga Tiongkok yang datang ke Singkawang untuk menyaksikan atraksi para tatung. Mereka menyebut tatung di negara asal mereka sudah tidak ada.
Melihat potensi ini, Pemerintah Kota Singkawang lantas menggagas Festival Cap Go Meh. Sejak Presiden Gus Dur mengizinkan warga Tionghoa menjalankan ritual keagamaan secara terbuka, dan Singkawang beralih status menjadi pemerintahan kota, ritual Cap Go Meh kemudian menjadi agenda rutin pariwisata. Kegiatan ini juga ditetapkan menjadi agenda pariwisata nasional.(arf/bar)
Editor : Misbahul Munir S