PONTIANAK POST — Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan pendidikan berbasis nilai dan teknologi, melalui seminar dan workshop kecerdasan buatan (AI) yang digelar di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Singkawang. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diikuti oleh para kepala sekolah, guru, pengawas, serta unsur Dinas Pendidikan dari wilayah Sambas, Singkawang, Bengkayang, dan Mempawah.
Fokus utama kegiatan adalah pengenalan relasi antara kecerdasan buatan dan pendidikan, etika penggunaannya, serta strategi adaptasi pendidikan masa depan. Empat dosen Fakultas Filsafat UGM terlibat dalam kegiatan ini, yakni Dr. Sonjoruri Budiani Trisakti, M.A, Dr. Misnal Munir, M.Hum, Dr. Rizal Mustansyir, dan Rangga Kala Mahaswa, S.Fil., M.Phil.
Workshop dibuka oleh Kepala Disdikbud Kota Singkawang, Asmadi, S.Pd., M.Si., yang menekankan pentingnya inovasi dalam dunia pendidikan, terutama kesiapan guru dalam menyambut transformasi teknologi. “Kita tidak bisa lagi menghindar dari perubahan. Guru harus adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan AI di ruang-ruang kelas,” ujarnya.
Acara ini juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama antara Disdikbud Singkawang dan Fakultas Filsafat UGM sebagai langkah awal sinergi program jangka panjang. Salah satu pemateri, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., dalam paparannya menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran manusia sebagai agen moral dan nilai. “AI mungkin dapat mentransfer pengetahuan, tetapi tidak bisa menggantikan rasa, karsa, dan karya manusia. Pendidikan memerlukan sentuhan kemanusiaan,” tegasnya.
Pemateri kedua, Alda Cendekia Siregar, S.Kom., M.Cs., membahas aspek praktis AI dalam dunia pendidikan. Ia mengajak para guru untuk aktif memanfaatkan teknologi agar pekerjaan menjadi lebih mudah dan efisien. “Teknologi itu dibuat untuk membantu, bukan membebani. Guru harus tahu cara kerja dan pemanfaatan AI agar pembelajaran lebih relevan,” ujarnya sambil memaparkan berbagai bentuk generative AI yang bisa diterapkan di kelas.
Sementara itu, Dr. Rizal Mustansyir menambahkan bahwa teknologi tidak bisa menggantikan pembentukan keutamaan dalam diri manusia. “Secanggih apa pun teknologi, ia tetap tak bisa membentuk karakter atau kebijaksanaan. AI adalah alat bantu, bukan tujuan akhir,” ungkap Rizal.
Kegiatan ini merupakan bagian dari misi Fakultas Filsafat UGM untuk memperkenalkan pendekatan pendidikan berkelanjutan yang seimbang antara nilai-nilai humanistik dan inovasi teknologi. Kerja sama ini direncanakan berlanjut dalam bentuk program pelatihan dan pengembangan kurikulum yang memasukkan literasi kecerdasan buatan di wilayah Kalimantan Barat. (har)
Editor : Hanif