Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Batik dari Sampah: Inovasi Hijau Warga DSA Singkawang

Heriyanto • Kamis, 25 September 2025 | 21:14 WIB
Dari limbah jadi karya, batik Singkawang hadir dengan warna alami penuh makna.
Dari limbah jadi karya, batik Singkawang hadir dengan warna alami penuh makna.

PONTIANAK POST – Sampah sering dianggap masalah, tetapi bagi masyarakat Desa Sejahtera Astra (DSA) Singkawang, sampah justru bisa jadi sumber rezeki sekaligus karya seni. Lewat tangan kreatif mereka, limbah sehari-hari diolah menjadi pewarna alami untuk kain batik. Hasilnya bukan hanya produk unik yang bernilai tinggi, tetapi juga ramah lingkungan.

Batik sebagai Gerakan Ekonomi

DSA Singkawang sejak lama dikenal sebagai komunitas penggerak ekonomi berbasis kraf dan kriya. Produk unggulan mereka adalah batik dan turunannya yang semakin banyak diminati seiring waktu. Namun, di balik kesuksesan itu, ada tantangan besar: bagaimana menjaga keberlanjutan produksi tanpa menambah beban lingkungan?

Dari situlah muncul ide berani untuk mengubah limbah menjadi pewarna. Warga melihat bahwa Singkawang yang dipenuhi warung kopi, pasar seafood, hingga pepohonan kota ternyata menyimpan potensi bahan pewarna alami yang belum dimanfaatkan.

Tinta Cumi: Hitam yang Pekat

Dalam proses pembuatan cumi kering, tinta cumi biasanya dibuang begitu saja. Warga DSA Singkawang melihat peluang dari limbah laut ini. Pigmen hitam pekat pada tinta cumi ternyata sulit hilang jika menempel di kain. Sifat inilah yang membuatnya ideal digunakan sebagai pewarna alami.

Kini, batik dengan warna hitam dari tinta cumi memiliki karakter kuat, stabil, dan tahan lama. Limbah yang dulunya terbuang sia-sia justru berubah menjadi kekuatan utama untuk menghasilkan kain yang istimewa.

Ampas Kopi: Cokelat yang Hangat

Kopi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Singkawang. Sayangnya, ampas kopi yang tersisa sering berakhir di tempat sampah atau menumpuk di selokan. Padahal, ampas kopi kaya akan tanin, kafein, dan antioksidan yang bisa menghasilkan warna cokelat pekat dan awet.

Dengan mengolah ampas kopi menjadi pewarna, DSA Singkawang bukan hanya mengurangi limbah, tetapi juga menghadirkan nuansa warna hangat yang khas. Setiap lembar kain batik pun seolah membawa cerita dari budaya ngopi yang begitu lekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Daun Ketapang: Hijau yang Menyejukkan

Di jalan-jalan Kota Singkawang, daun ketapang berguguran setiap hari. Bagi sebagian orang, ini hanya sampah yang mengotori halaman. Namun, pengrajin batik di DSA Singkawang menemukan cara untuk memanfaatkannya.

Daun ketapang dikumpulkan, lalu dihaluskan dan direbus untuk menghasilkan ekstrak warna alami. Tergantung teknik fiksasi yang digunakan, warna yang lahir bisa beragam, mulai dari hijau army, olive, hingga abu-abu lembut. Dengan begitu, batik Singkawang memiliki variasi warna yang kaya sekaligus ramah lingkungan.

Kardus Bekas Jadi Canting Cap

Inovasi tidak berhenti pada bahan pewarna. Kardus bekas, seperti kotak nasi dan kotak rokok, juga disulap menjadi canting cap. Dengan alat sederhana ini, motif batik bisa dibuat lebih cepat, presisi, dan tetap murah biaya. Sekali lagi, sampah terbukti bukan barang sisa, melainkan sumber daya berharga jika dikelola dengan kreatif.

Mengharumkan Nama Singkawang

Kerja keras masyarakat DSA Singkawang mendapat pengakuan di tingkat nasional. Pada Festival Astra 2025, mereka berhasil meraih Juara 2 kategori Inovasi Kewirausahaan Berbasis Masyarakat.

Penghargaan ini menjadi bukti bahwa kreativitas warga bisa melahirkan inovasi yang tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga menjaga lingkungan. Batik Singkawang kini bukan sekadar kain, melainkan simbol harmoni antara tradisi, inovasi, dan keberlanjutan.

Menjahit Masa Depan yang Berkelanjutan

Inovasi pewarna alami dari limbah ini membuka peluang baru bagi masyarakat. Selain mengurangi sampah, mereka juga menciptakan identitas unik yang membedakan batik Singkawang dari daerah lain.

Program ini memberi inspirasi bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus datang dari teknologi mahal. Kadang jawabannya ada di sekitar kita, di tinta cumi, ampas kopi, atau daun ketapang yang berserakan di jalan.

Semangat warga DSA Singkawang menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa berjalan seiring dengan kreativitas dan budaya. Dari tangan mereka, sampah disulap menjadi karya. Dari Singkawang, lahirlah pesan optimisme bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari ide sederhana lalu dijalankan dengan tekad dan kebersamaan.(*)

Editor : Hanif
#daun ketapang #Festival #ampas kopi #batik #tinta cumi #pewarna alami #singkawang #DSA