Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Gathering PMI Pontianak Tegaskan Peran Vital Koordinator dalam Gerakan Donor Darah

Hanif PP • Minggu, 23 November 2025 | 06:00 WIB
Koordinator donor darah mengikuti sesi diskusi dalam Gathering PMI Pontianak, dengan suasana forum yang hangat dan interaktif.
Koordinator donor darah mengikuti sesi diskusi dalam Gathering PMI Pontianak, dengan suasana forum yang hangat dan interaktif.

PONTIANAK POST – Peran koordinator donor darah sukarela kembali mendapat sorotan utama dalam Gathering Koordinator Donor Darah Sukarela PMI Kota Pontianak yang digelar di Hotel Horison Ultima Singkawang, 22–23 November 2025.

Sebanyak 49 koordinator hadir dalam forum dua hari ini, yang menjadi ajang berbagi pengalaman, menyampaikan masukan, serta mendalami lebih dalam bagaimana Unit Transfusi Darah (UTD) PMI mengolah setiap kantong darah hingga siap digunakan di rumah sakit.

Pengurus PMI Kota Pontianak, Salman Busrah, saat membuka kegiatan menegaskan bahwa para koordinator adalah kekuatan nyata yang menggerakkan donor darah di masyarakat.

“PMI tak ada apa-apanya tanpa kehadiran koordinator donor darah sukarela. Mereka bekerja tanpa pamrih, tak mengenal waktu, dan menjadi perpanjangan tangan PMI dalam mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk berdonor,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa gathering ini bukan sekadar acara rutin, tetapi bentuk apresiasi dan ruang untuk mendengarkan tantangan serta kebutuhan para koordinator di lapangan.

Suasana dialog berlangsung hangat dan interaktif. Peserta terlihat duduk melingkar di meja-meja bundar, fokus menyimak paparan, mencatat, dan berdiskusi.

Beberapa koordinator terlihat angkat tangan untuk menyampaikan masukan, sementara lainnya berbincang singkat untuk merespons materi.

Atmosfer ruangan mencerminkan antusiasme dan kedekatan para pejuang kemanusiaan ini.

Materi inti disampaikan oleh Silvia, SKM, Kepala Bagian Pelayanan Darah UTD PMI Kota Pontianak. Ia menjelaskan secara rinci bagaimana darah dari pendonor diproses dalam sistem yang ketat dan berstandar tinggi sebelum tiba di ruang perawatan pasien. Dimulai dari skrining kesehatan pendonor—meliputi pemeriksaan tekanan darah, kadar hemoglobin, usia, berat badan, hingga riwayat penyakit—proses pengambilan darah dilakukan dengan peralatan steril sekali pakai. Setiap kantong darah diberi kode unik agar perjalanan darah dapat ditelusuri dengan tepat di setiap tahap.

Setelah donor selesai, darah masuk ke fase penyimpanan sementara dengan suhu terkontrol untuk menjaga kualitas. Di laboratorium UTD, darah kemudian diproses menjadi berbagai komponen sesuai kebutuhan medis, seperti sel darah merah pekat, trombosit, dan plasma. Pemisahan dilakukan menggunakan mesin centrifuge berstandar nasional. Silvia menegaskan bahwa seluruh darah harus melalui pemeriksaan laboratorium yang ketat untuk memastikan bebas dari penyakit infeksi seperti HIV, Hepatitis B dan C, serta sifilis. “Tak ada satu kantong darah pun yang keluar tanpa melalui uji saring lengkap. Darah yang lolos artinya benar-benar aman,” katanya.

Darah yang dinyatakan aman disimpan dalam bank darah dengan pengaturan suhu yang sangat ketat. Sel darah merah disimpan pada suhu 2–6°C, trombosit pada 22°C dengan penggoyangan konstan, sementara plasma dibekukan pada suhu -18°C atau lebih rendah. Saat rumah sakit membutuhkan darah, petugas UTD mengirimkannya menggunakan cooler box medis agar suhu tetap stabil selama perjalanan.

Paparan tersebut membuka wawasan para koordinator mengenai betapa panjang dan ketatnya proses yang harus dilalui satu kantong darah sebelum akhirnya menyelamatkan suatu nyawa. Hal ini sekaligus mempertegas bahwa tugas mereka di lapangan bukan hal kecil, melainkan bagian penting dari rantai panjang penyelamatan hidup.

Dalam sesi dialog, para koordinator tanpa ragu menyampaikan masukan. Salah satu yang menjadi pembahasan adalah efektivitas program pemberian sembako bagi pendonor pemula, yang dinilai sangat membantu meningkatkan partisipasi. Namun beberapa peserta mengaku sempat kewalahan mencari dana karena tingginya minat masyarakat. Ada juga harapan agar pencatatan aktivitas donor lebih aktif dan terintegrasi, mengingat donor sering dilakukan di berbagai lokasi berbeda. Selain itu, para koordinator meminta agar PMI mengirimkan pengingat melalui WhatsApp ketika masa donor berikutnya telah tiba, agar rutinitas donor dapat terjaga.

Gathering ini menjadi momen penting memperkuat sinergi antara PMI dan para koordinator yang selama ini menjadi motor penggerak donor darah. Mereka pulang dengan pemahaman lebih luas tentang “dapur” kerja UTD, sementara PMI memperoleh masukan berharga dari mereka yang berada di garda terdepan. Semua itu menghadirkan satu pesan kuat bahwa keberhasilan menjaga stok darah aman tidak hanya ditentukan oleh PMI, tetapi oleh kerja bersama mereka yang setiap hari menggerakkan aksi kemanusiaan.**

Editor : Hanif
#stok darah aman #gathering #peran #PMI Pontianak #donor darah #relawan #Koordinator