PONTIANAK POST – Kota Singkawang mencatatkan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi di Kalimantan Barat. Hingga 27 November 2025, tercatat 236 kasus dengan satu pasien meninggal dunia. Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang, Achmad Hardin.
Menurut Hardin, lonjakan kasus mulai terjadi sejak Oktober. Perubahan cuaca dari panas ke hujan serta kondisi lingkungan yang kurang bersih menjadi faktor utama pemicu meningkatnya kasus. "DBD ini sulit dihentikan jika lingkungan tidak dijaga. Yang paling penting adalah kebersihan dan pemberantasan sarang nyamuk di seluruh tempat penampungan air,” ujarnya.
Pemerintah Kota Singkawang, kata Hardin, telah melakukan berbagai upaya pemberantasan jentik. Namun, kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan. Ia menegaskan bahwa fogging bukan solusi utama karena hanya membunuh nyamuk dewasa yang usianya sekitar 10 hari.
“Tanpa dibunuh pun, nyamuk dewasa akan mati sendiri. Yang harus dibasmi adalah telurnya di tempat penampungan air karena bisa bertahan berbulan-bulan,” jelasnya.
Jika harus dilakukan fogging, Hardin menekankan perlunya penyemprotan menyeluruh. “Semua rumah dalam radius 100 meter harus di-fogging. Jangan sampai ada yang terlewat, karena bisa menjadi tempat pelarian nyamuk,” katanya.
Ia mendorong masyarakat melakukan gerakan gotong royong membersihkan lingkungan untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk. Hardin juga mengingatkan pihak sekolah agar lebih memperhatikan kebersihan lingkungan belajar.
“Banyak pasien DBD adalah siswa sekolah. Nyamuk aktif di siang hari, saat anak-anak belajar. Jadi pemberantasan sarang nyamuk di sekolah sangat penting,” tegasnya. (har)
Editor : Hanif