PONTIANAK POST — Setiap tahun, Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang selalu dipadati lautan manusia.
Ribuan orang tumpah ke jalan untuk menyaksikan parade Tatung, barongsai, dan naga yang menjadi ikon budaya Tionghoa di Kalimantan Barat.
Namun, di balik kemeriahan itu, muncul persoalan klasik: desak-desakan, sulit bergerak, hingga keterbatasan akses menonton yang aman dan nyaman.
Kondisi tersebut membuat sebagian wisatawan mulai mencari alternatif agar tetap bisa menikmati Cap Go Meh tanpa harus terjebak di tengah kerumunan.
Salah satunya dengan menonton dari podium khusus yang disiapkan di titik-titik strategis jalur parade.
Pemandu wisata spesialis budaya Tionghoa Kalimantan Barat, Herfin Yulianto, menilai lonjakan jumlah penonton dari tahun ke tahun membuat pengalaman menonton di badan jalan semakin tidak ideal, terutama bagi wisatawan keluarga, lansia, dan tamu dari luar daerah.
“Cap Go Meh itu ritual budaya, bukan sekadar tontonan. Kalau penonton terlalu sibuk berdesakan, pesan budaya dan prosesi Tatung justru tidak tersampaikan,” ujar Herfin, Sabtu (3/1/2026).
Menurut Ketua Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI) Kapuas itu, kebutuhan akan ruang menonton yang lebih tertata menjadi konsekuensi logis dari naiknya status Cap Go Meh Singkawang sebagai agenda wisata nasional, bahkan internasional.
Ia menyebut, tanpa pengaturan yang baik, kenyamanan dan keselamatan penonton berpotensi terabaikan.
Selain persoalan ruang, Herfin juga menyoroti minimnya pemahaman sebagian penonton terhadap makna ritual Cap Go Meh.
Banyak wisatawan datang hanya untuk mengambil gambar, tanpa mengetahui filosofi Tatung, simbol naga, hingga nilai spiritual yang terkandung dalam prosesi.
“Banyak yang menonton, tapi tidak benar-benar memahami apa yang mereka lihat,” katanya.
Karena itu, layanan pemandu budaya mulai diminati sebagian wisatawan yang ingin mendapatkan konteks sejarah dan makna ritual, terutama bagi pengunjung dari luar Kalimantan Barat dan mancanegara.
Festival Cap Go Meh Singkawang 2026 diperkirakan berlangsung pada awal Maret dan kembali menjadi magnet wisata besar.
Dengan tingginya animo publik, persoalan akses, kenyamanan, dan kualitas pengalaman menonton diprediksi akan kembali menjadi tantangan utama.
Di tengah euforia festival, Herfin mengingatkan bahwa Cap Go Meh bukan hanya soal keramaian, melainkan warisan budaya yang perlu dinikmati dengan tertib, aman, dan penuh penghormatan terhadap tradisi. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro