Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Dari Singkawang ke Borobudur, Tjhai Chui Mie Ikuti Prosesi Sakral Waisak hingga Puncak Perayaan Nasional

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 31 Mei 2026 | 23:31 WIB
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie (paling kiri) mengikuti rangkaian prosesi Tri Suci Waisak 2570 BE di Magelang, Jawa Tengah. Selain menghadiri ritual sakral dari Umbul Jumprit hingga Candi Mendut, ia juga hadir dalam puncak perayaan Waisak di Candi Borobudur yang diikuti ribuan umat Buddha dari berbagai daerah dan mancanegara. (WALUBI)
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie (paling kiri) mengikuti rangkaian prosesi Tri Suci Waisak 2570 BE di Magelang, Jawa Tengah. Selain menghadiri ritual sakral dari Umbul Jumprit hingga Candi Mendut, ia juga hadir dalam puncak perayaan Waisak di Candi Borobudur yang diikuti ribuan umat Buddha dari berbagai daerah dan mancanegara. (WALUBI)

PONTIANAK POST – Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengikuti rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE di Magelang, Jawa Tengah, mulai dari prosesi sakral hingga puncak peringatan detik-detik Waisak di kawasan Candi Borobudur, Minggu (31/5/2026).

Kehadiran Tjhai Chui Mie menunjukkan komitmennya dalam merawat nilai-nilai toleransi dan kerukunan yang selama ini menjadi identitas Kota Singkawang, salah satu kota paling toleran di Indonesia.

Melalui akun media sosial pribadinya, Tjhai Chui Mie mengaku merasakan suasana spiritual yang mendalam selama mengikuti seluruh rangkaian Waisak.

Mengikuti Prosesi dari Umbul Jumprit hingga Candi Mendut

Dalam unggahannya, Tjhai Chui Mie menceritakan pengalaman mengikuti prosesi pengambilan air suci dari Umbul Jumprit yang menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Waisak.

"Hari ini saya berkesempatan mengikuti rangkaian prosesi Waisak yang begitu sakral. Dari mata air suci Umbul Jumprit, mengalir berkah dan kedamaian menuju Candi Mendut," tulisnya.

Ia juga menyaksikan langsung prosesi pensakralan yang dipimpin Sangha dan para rohaniawan Buddha sebelum mengikuti pradaksina atau ritual berjalan mengelilingi candi sebagai bentuk penghormatan dan perenungan spiritual.

Hadir pada Puncak Waisak di Borobudur

Tidak hanya mengikuti prosesi awal, Tjhai Chui Mie juga hadir dalam puncak perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE di Candi Borobudur yang dihadiri ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.

Momentum detik-detik Waisak yang berlangsung khidmat menjadi simbol penghormatan terhadap tiga peristiwa agung dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yakni kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan Parinibbana atau wafatnya Sang Buddha.

Di tengah ribuan umat yang memadati kawasan Borobudur, suasana hening dan penuh perenungan menyelimuti perayaan yang menjadi agenda keagamaan Buddha terbesar di Indonesia tersebut.

Membawa Pesan Harmoni dan Toleransi

Bagi masyarakat Singkawang, kehadiran Tjhai Chui Mie dalam perayaan Waisak memiliki makna tersendiri.

Singkawang selama ini dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi keberagaman dan kerukunan antarumat beragama.

Nilai-nilai yang diajarkan dalam perayaan Waisak seperti cinta kasih, welas asih, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap sesama sejalan dengan semangat kehidupan masyarakat kota tersebut.

Melalui peringatan Waisak, pesan perdamaian dan persaudaraan kembali digaungkan di tengah berbagai tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks.

Doa untuk Kedamaian Semua Makhluk

Dalam unggahannya, Tjhai Chui Mie juga menuliskan kalimat dalam bahasa Pali yang sarat makna.

"Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta," tulisnya.

Kalimat tersebut memiliki arti "Semoga semua makhluk hidup berbahagia", sebuah doa universal yang mencerminkan ajaran cinta kasih dan kedamaian dalam agama Buddha.

Di tengah perayaan Waisak yang berlangsung khidmat, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kedamaian, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama merupakan nilai yang relevan bagi seluruh umat manusia tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya. (ars)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#mendut #waisak #singkawang #borobudur #Tjhai Chui Mie