Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Grebeg Suro Singkawang 2026 Jadi Simbol Harmoni Budaya dan Toleransi Warga Kota

Hari Kurniathama • Selasa, 23 Juni 2026 | 06:17 WIB
Ketua Paguyuban Jawa Kota Singkawang (PJKS), Sutopo Aryanto
Ketua Paguyuban Jawa Kota Singkawang (PJKS), Sutopo Aryanto

PONTIANAK POST – Ketua Paguyuban Jawa Kota Singkawang (PJKS), Sutopo Aryanto, menegaskan bahwa kegiatan Singkawang Grebeg Suro merupakan perayaan milik seluruh masyarakat Kota Singkawang, bukan hanya komunitas Jawa.

“Jadi bukan hanya perayaan masyarakat Jawa saja, tetapi Grebeg Suro ini adalah milik seluruh warga Singkawang,” kata Sutopo, Senin (22/6).

Ia menjelaskan, Grebeg Suro 2026 mengusung tema “Harmoni Budaya di Kota Tertoleran, Merajut Tradisi Memperkokoh Keberagaman”. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti nyata bahwa budaya Jawa dapat tumbuh berdampingan secara harmonis dengan budaya lain di Kota Singkawang.

Baca Juga: Grebeg Suro 2026 di Singkawang Tampilkan Perpaduan Tradisi Jawa dan Kreativitas Modern

“Pergelaran ini adalah bukti nyata bagaimana budaya Jawa tumbuh subur, bersanding harmonis, dan memperkaya warna toleransi di Kota Singkawang yang kita cintai ini,” ujarnya.

Sutopo menambahkan, pelaksanaan Grebeg Suro juga menjadi pesan kuat bahwa keberagaman merupakan kekuatan utama masyarakat di kota yang dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia tersebut.

Ia juga menyinggung kepemimpinan Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, yang dinilai konsisten dalam mendorong pengembangan pariwisata berbasis keberagaman budaya serta penggerak toleransi dan harmoni sosial. 

Tjhai Chui Mie sebelumnya menerima Disway Top Regional Leader Award 2026 dari Disway National Network, yang proses penilaiannya dilakukan oleh tim riset bersama juri yang dipimpin Dahlan Iskan.

Baca Juga: Refly Harun Protes Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa, Ini Jawaban Polisi

Sementara itu, Grebeg Suro 2026 telah berlangsung sejak 20 hingga 27 Juni 2026 dan dipusatkan di Taman Parkir Kridasana, Singkawang.

“Selama satu minggu penuh kita akan berpesta budaya. Jangan lewatkan berbagai agenda yang telah disiapkan, antara lain Festival Reog dan Jaranan se-Kalimantan Barat,” katanya.

Rangkaian kegiatan lainnya meliputi pawai kirab dan gunungan sebagai simbol rasa syukur, One Thousand Java Night Blangkon & Tari Kolosal, pemilihan Arjuna dan Srikandi PJKS, fashion show busana Jawa, serta pameran seni dan kuliner khas Jawa.

Baca Juga: Sejarah Malam Satu Suro, Tradisi Jawa yang Berawal dari Upaya Sultan Agung Menyatukan Rakyat

Sutopo menekankan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dilakukan secara terbatas, melainkan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Budaya tidak akan besar jika hanya dirawat oleh segelintir orang. Budaya akan hidup jika dirayakan bersama-sama. Budaya adalah tontonan yang memiliki tuntunan,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat menjadikan Grebeg Suro sebagai momentum memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman Kota Singkawang.

“Budaya adalah perekat, agama adalah penuntun kedamaian, dan pariwisata adalah motor penggerak ekonomi rakyat,” tuturnya. (har)

 

Editor : Hanif
#toleransi #Grebeg Suro 2025 #singkawang #Harmoni Budaya Indonesia