PONTIANAK POST - Kolaborasi lintas pihak didorong untuk memperkuat peran dan posisi petani perempuan di Kota Singkawang. Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Multistakeholder bertema “Penguatan Petani Perempuan Melalui Kolaborasi Lintas Pihak di Kota Singkawang” yang diselenggarakan Perkumpulan Gemawan di Ruang Rapat Bumi Betuah, Kantor Wali Kota Singkawang, Selasa (1/9/2026).
Forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, organisasi masyarakat sipil, kelompok perempuan dan petani, komunitas orang muda, akademisi, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan lainnya.
Pertemuan itu menjadi ruang untuk melihat kondisi dan kebutuhan petani perempuan sekaligus membicarakan dukungan serta peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan di Kota Singkawang.
Baca Juga: Serikat Petani Datangi Kantor Bupati Kapuas Hulu, Desak Penyelesaian Konflik Agraria dan HGU
Perwakilan Perkumpulan Gemawan, Uray Endang Kusumajaya, mengatakan FGD diharapkan menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi petani perempuan, mulai dari kebutuhan, program dan kebijakan pemerintah, aktor serta sumber daya yang tersedia, hingga kesenjangan dukungan dan peluang kolaborasi.
“Harapannya forum ini menghasilkan kesepahaman mengenai prioritas intervensi dan rencana aksi kolaborasi untuk memperkuat petani perempuan,” ujar Uray.
Moderator FGD, Rahma, menjelaskan bahwa perempuan memiliki keterlibatan besar dalam sistem pangan. Perempuan tidak hanya terlibat dalam kegiatan budidaya, tetapi juga pemilihan dan penyimpanan benih, pengolahan hasil pertanian, pemasaran, hingga pengelolaan ekonomi rumah tangga.
Namun, kontribusi tersebut belum selalu terlihat dalam data, kebijakan, maupun proses pengambilan keputusan. Petani perempuan masih menghadapi berbagai persoalan, seperti keterbatasan akses terhadap lahan dan sumber daya produksi, teknologi, pembiayaan, informasi, pelatihan, pasar, serta kelembagaan ekonomi. Keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan juga masih menjadi persoalan.
Baca Juga: Perhiptani Kalbar Dorong Petani Olah Lahan Tanpa Bakar untuk Cegah Karhutla
Sebagian petani perempuan juga belum tercatat secara resmi sebagai petani. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap akses mereka terhadap bantuan, program pemberdayaan, maupun legalitas usaha. Karena itu, penguatan petani perempuan perlu dilakukan tidak hanya melalui peningkatan kapasitas individu, tetapi juga penguatan kelembagaan dan kepemimpinan perempuan.
Gemawan mengembangkan Program Perempuan Petani KUAT, yang merupakan singkatan dari Kepemimpinan, Usaha, Agroekologi, dan Teknologi. Program tersebut menggunakan pendekatan Rekognisi, Representasi, dan Redistribusi atau 3R.
Pendekatan tersebut mendorong perempuan memperoleh pengakuan atas perannya, memiliki ruang representasi dalam proses pengambilan keputusan, serta mendapatkan akses yang lebih adil terhadap sumber daya, informasi, dan manfaat pembangunan.
Melalui program tersebut, petani perempuan didorong untuk tidak hanya dipandang sebagai tenaga kerja dalam produksi pangan, tetapi juga sebagai pemimpin, pelaku ekonomi, inovator, serta bagian penting dalam menjaga ketahanan ekologis dan sosial.
Terry Listiyadi dari Bappeda Kota Singkawang menyampaikan bahwa Singkawang masih memiliki wilayah yang potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan pertanian, terutama di Singkawang Selatan, Singkawang Timur, dan Singkawang Utara.
Namun, sebagai wilayah perkotaan, pertanian Singkawang menghadapi tekanan dari perkembangan kawasan permukiman dan alih fungsi lahan. Sementara Singkawang Barat dan Singkawang Tengah diarahkan sebagai kawasan perkotaan dengan pengembangan perdagangan, jasa, dan permukiman.
Baca Juga: Petani dan Nelayan Kubu Raya Diminta Adaptif Hadapi Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim
Terry juga memaparkan sejumlah persoalan lain yang dihadapi petani, seperti minimnya pelatihan, penggunaan alat kerja yang masih manual, kualitas benih, mahalnya pupuk dan media organik, keterbatasan modal dan air, status lahan sewa, pemasaran yang terbatas, serta fluktuasi harga pasar.
Perwakilan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Singkawang, Nispuhani atau Anis, menyampaikan bahwa berbagai program Dinas Pertanian pada dasarnya tidak membedakan petani berdasarkan gender. Dukungan diberikan melalui kelompok tani sesuai ketentuan program.
Dinas Pertanian telah menjalankan sejumlah program, seperti penyediaan sarana produksi dan prasarana pertanian serta peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan pangan lokal dan pembuatan pupuk organik.
Namun, karena sebagian besar program berbasis anggaran, bantuan tidak diberikan secara langsung kepada individu. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya kolaborasi dengan pihak lain agar kebutuhan petani perempuan dapat didukung secara lebih luas.
Baca Juga: Sengketa Lahan Eks Petani KUD Semegah Berlarut 9 Tahun, DPRD Sanggau Desak TP5K Bertindak
Ke depan, penguatan diarahkan pada peningkatan kapasitas budidaya, pengolahan hasil, kewirausahaan, dan literasi digital.(har)
Editor : Miftakhair