Lama menunggu setrum tak kunjung mengaliri daerahnya, warga Dusun Silit, Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Kalimantan Barat kompak menciptakan pembangkit listrik sendiri. Memanfaatkan deras air Sungai Silit, dibangunlah Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).
ARIS MUNANDAR, SINTANG
KAMPUNG Silit (kampung adalah sebutan lokal untuk dusun) didiami oleh Masyarakat Hukum Adat (MHA) dari sub sub suku Dayak Seberuang yang baru saja mendapat pengakuan dari pemerintah Kabupaten Sintang pada 22 September lalu. Dihuni 294 jiwa. Dataran perbukitan adalah lanskap kawasan yang mengisi daerah ini. Karena memang daerah ini menjadi hulu Sungai Sepauk. Kampung ini pun masuk dalam kawasan hutan lindung.
Sejak ditinggali, Desa Nanga Pari memang belum tersentuh listrik negara. Mereka hanya mengandalkan genset untuk penerangan. Begitupun Kampung Silit. Jarak dari ibukota kabupaten saja 130 km. Dengan akses jalan dari tanah kuning khas perbukitan yang jika musim hujan akan licin dan becek. Serta musim panas akan sangat berdebu. Jarak dan akses itulah yang agaknya membuat sulitnya jaringan listrik masuk. Karena akan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk membangun infrastruktur kelistrikan.
Sejak 2010, warga Silit telah menggagas pendirian PLTMH. Mereka menyadari potensi aliran Sungai Silit yang deras untuk menggerakkan turbin. Warga masygul, rencana mereka terkendala biaya. Mereka pun tidak punya kemampuan untuk merakit turbin PLTMH. Hal itu membuat rencana membangun PLTMH mangkrak selama 3 tahun.
Hingga ada Credit Union (CU) lokal yang membantu pinjaman uang. Gagasan membangun PLTMH dilanjutkan. Didatangkan teknisi untuk membantu pemasangan alat-alat pembangkit. Warga gotong royong membangun sekat, kanal dan bangunan tempat mesin dan turbin yang menggerakkan PLTMH, dan memasang kabel.
Petrus Dominikus Rigam adalah satu dari sekian saksi hidup pembangunan PLTMH yang diberi nama Peraya Pegelang Bersinar ini. “Tahun 2014, PLTMH mulai beroperasi. Mengalirkan listrik ke rumah-rumah warga Dusun Silit,” ujar Rigam.
Rigam dipercayakan oleh warga Dusun Silit untuk mengelola operasional PLTMH ini. “Sebenarnya ilmu yang kami punya seadanya dalam mengoperasikan mesin ini,” ujarnya saat itu pada warga.
Ada 75 rumah yang dialiri listrik dari PLTMH. Dengan aliran listrik itu, warga hanya membayar iuran 15 ribu sebulan. Digunakan untuk biaya perawatan dan jasa Rigam. Dengan uang itu pula, cicilan di CU dibayar. “Kami tetap perlu bimbingan dari orang-orang yang lebih paham operasional PLTMH ini. Agar PLTMH ini dapat bertahan lama,” katanya.
Ia juga berharap masyarakat selalu mempertahankan hutan di atas Bukit Batu dan sekitarnya yang menjadi sumber air Sungai Silit. Agar debit air di sungai itu tetap terjaga. Hingga bisa selalu menggerakkan turbin PLTMH.
Sedangkan Markurius Inus, tokoh masyarakat di Dusun Silit berbagi cerita suka cita. Ia mewakili kegembiraan warga yang sudah teraliri listrik. “Jauh lebih enak sekarang. Masyarakat merasa nyaman dengan hadirnya listrik. Dulu kita harus beli genset dulu baru bisa terang pada malam hari. Sejak ada listrik di Kampung (sebutan warga setempat untuk dusun) Silit, alat elektronik bisa menyala. Cukup satu mesin untuk mengalirkan listrik ke seluruh rumah di Silit,” ujarnya.
Kini warga Silit pun lebih mudah berhubungan dengan dunia luar lewat televisi dan gawai. Tak lagi benar-benar terkurung dalam wilayah terpencil. Anak-anak Silit pun tak lagi belajar pada malam hari dalam temaram lilin atau lampu minyak. Karena pada masa itu, tak banyak warga yang menggunakan mesin genset.
Merujuk data dari PLN Rayon Sintang, sampai September 2020, baru 56 persen desa di Kabupaten Sintang yang berlistrik. Tentu banyak pula daerah lain yang belum dapat manfaat setrum. Dusun Silit dan beberapa daerah lain di Kabupaten yang digelari Bumi Senentang termasuk yang beruntung karena mandiri dalam menghadirkan listrik untuk daerahnya dan lepas dari harapan pada negara.
Di hari Senin sampai Sabtu, listrik hanya menyala dari pukul 5 sore sampai jam 7 pagi. Minggu, listrik menyala sepanjang hari. Namun pada hari-hari khusus, warga bisa meminta listrik untuk menyala sepanjang hari.
Bukan sekedar untuk memelihara keawetan mesin dan memperpanjang usia baterai tempat menyimpan daya listrik. Jalan padam hidupnya listrik juga agar anak-anak Silit tidak malas untuk sekolah. Karena para orang tua Dusun Silit takut, jika listrik terus menyala dan anak mereka asyik menonton televisi, bisa malas untuk ke sekolah.
Bupati Sintang, Jarot Winarno pun mengapresiasi apa yang dilakukan warga Dusun Silit. “Inilah yang namanya energi baru yang terbarukan,” ujarnya.
Jarot mengatakan, PLTMH di Silit ialah contoh nyata dari kemandirian di bidang energi. Upaya warga Silit, nilai Jarot, patut dicontoh oleh masyarakat desa-desa yang lain. “Pembangunan PLTMH di desa-desa lain yang belum dialiri listrik, namun punya sumber daya alam yang memadai perlu didorong,” ungkapnya.
Perlu dorongan agar masyarakat Silit dapat memanfaatkan listriknya lebih maksimal lagi. Eko (27 tahun), pemuda Silit berharap ada pihak-pihak yang hadir dan memberikan pelatihan pada warga Silit dalam mengolah kekayaan alamnya hingga memiliki nilai jual lebih.
Sebenarnya ada Inuk-Inuk Bateras, komunitas wanita Dusun Silit yang sudah memulai. Mereka memproduksi anyaman seperti junguk (tempat menyimpan benih padi) yang menjadi oleh-oleh khas Silit. Mereka juga memproduksi anyaman untuk tempat smartphone. Bisa juga membuat wadah apapun sesuai kebutuhan. Listrik membantu menerangi mereka dalam berkreasi. Namun tentu perlu dukungan berbagai pihak agar usaha-usaha yang dilakukan warga Dusun Silit bisa lebih dikenal. Hingga mendatangkan ekonomi untuk warganya.(**) Editor : Super_Admin