PONTIANAK POST - Memasuki usia ke-65 tahun, Bupati Kabupaten Sintang Jarot Winarno berharap agar tetap ada hingga akhir masa jabatan dirinya sebagai bupati. Hal itu ia sampaikan sebagai ungkapan terima kasih atas penerimaan seluruh masyarakat Sintang selama 10 tahun masa jabatannya.
"Saya berharap bisa tetap hidup sampai bisa pisah sambut dengan Bupati Sintang terpilih Pak Bala, karena hidup yang tidak diperhitungkan adalah hidup yang tidak dipertaruhkan," ujar Jarot Winarno di Pendopo Bupati Sintang, Rabu (22/1).
Jarot bercerita selama menjadi bupati ia pun pernah melewati masa suram yakni ditahun 2021, saat itu dirinya mengidap stroke mengakibatkan tidak bisa berbicara dan bergerak.
"Dalam masa sulit itu Pak Sudiyanto Wakil Bupati Sintang meninggal dunia. Dan Sekda Sintang saat itu Bu Yosepha lah yang banyak bantu saya. Hidup ini suram dan naik turun seperti rollercoaster," ungkap Jarot.
Selain itu, Jarot pun bercerita memiliki ayah yang merupakan seorang prajurit TNI berpangkat mayor ia selalu dipesankan agar tidak menetap di tanah kelahiran sehingga ia pun memutuskan untuk merantau ke Kalimantan dan memutuskan untuk mengabdi di Kabupaten Sintang hingga menjadi seorang bupati.
"Saya lahir tahun 1960, dan punya pandangan bahwa dalam bertugas ini, semakin jauh semakin senang. Bapak saya bilang, laki-laki tidak boleh di Jakarta. Keluar semua, sehingga saya bertugas di Kalimantan. Mengabdilah pada negara itu pesan beliau," tutur Jarot.
Sebelum menjadi bupati berprofesi sebagai dokter juga membuatnya terbiasa dengan suasana pedalaman. Ia pun mengaku selama menjadi dokter pernah hanya dibayar dengan upah seekor ayam dan membayarkan obat demi kesembuhan pasien.
"Tentu semuanya tidak puas, ada yang komplain, itu biasa. Tetapi saya yakin, banyak yang senang. Sebelum mengakhiri masa jabatan, saya sudah susun jadwal keliling ke kecamatan. Terakhir nanti, akan ada konser perpisahan, menghadirkan Grup Band Boomerang," ungkap Jarot.
Selama masa jabatannya pun ia mengaku tidak pernah membedakan antar suku dan agama yang ada di Kabupaten Sintang. Sebab bagi dirinya, Sintang merupakan rumah besar yang harus terus dijaga kerukunan dan kedamaiannya.
"Jangan pernah menyerah, kalau jatuh bangun lagi, jatuh lagi, bangun lagi," pungkas Jarot. (nda)
Editor : A'an