Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Film 'Tuak Pamali': Meluruskan Miskonsepsi tentang Budaya Dayak Sintang

Riska Nanda Kumala Sari • Selasa, 29 April 2025 | 13:42 WIB
FILM : Membongkar stereotype negatif bujang dan dara gawai Sintang 2024 merilis film berjudul Tuak Pamali.
FILM : Membongkar stereotype negatif bujang dan dara gawai Sintang 2024 merilis film berjudul Tuak Pamali.

PONTIANAK POST - Sebuah film dokumenter berjudul "Tuak Pamali" resmi dirilis, mengangkat kisah dan makna filosofis di balik tradisi minum tuak dalam budaya masyarakat Dayak Desa Sebruang, Kabupaten Sintang.

Film ini berupaya membongkar stereotype negatif yang selama ini melekat pada tradisi tersebut. Bujang dan Dara Gawai Sintang 2024, sebagai penggagas, mengungkapkan kekhawatiran terhadap makin jauhnya pemahaman generasi muda terhadap makna asli minuman tuak dalam adat istiadat Dayak.

"Kami memilih tema ini karena melihat banyak anak muda sekarang salah kaprah. Mereka hanya melihat tuak dari sisi konsumsi berlebihan, padahal ada nilai adat yang luhur di baliknya," ujar Dela, Dara Dayak Sintang.

Dela menuturkan proses produksi film berlangsung di Desa Suka Jaya, Kecamatan Tempunak, dengan latar Sekolah Adat Rumah Punjung, sebuah tempat yang menjadi pusat pembelajaran budaya bagi masyarakat setempat.

"Di dalam film dokumenter itu, kita memberi gambaran bahwa tuak di dalam adat itu memiliki makna tersendiri," tuturnya.

Ensawing, Sekretaris Jenderal Dewan Adat Dayak (DAD) Sintang, yang turut hadir dalam acara penayangan perdana, menegaskan pentingnya pelestarian makna budaya tersebut.

"Kalau kita tidak mendokumentasikan nilai-nilai ini, akan semakin banyak generasi yang kehilangan pemahaman tentang jati dirinya," ungkapnya.

Film dokumenter ini diharapkan menjadi jembatan edukasi agar generasi muda memahami budaya tidak hanya dari permukaan, tetapi juga mengerti nilai-nilai spiritual dan sosial yang terkandung di dalamnya.

“Semoga dokumenter ini membuka mata kita bahwa adat bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari identitas yang harus dihargai,” tutupnya. (nda)

Editor : Hanif
#kisah #makna filosofis #sintang #DAD #bujang dan dara #adat istiadat #film dokumenter #dayak #tradisi #minum tuak