PONTIANAK POST - Masa remaja merupakan periode krusial yang penuh dinamika, di mana tekanan akademik, sosial, dan perubahan fisik kerap menjadi pemicu stres. Psikolog dari RSJ Sudiyanto Sintang, Noverita Siboro, menekankan pentingnya kesadaran remaja dan orang tua terhadap tanda-tanda awal stres agar tidak berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih serius.
"Remaja usia 12 sampai 18 tahun sangat rentan mengalami stres karena pada rentang usia itu kemampuan berpikir dan mengelola emosi mereka belum berkembang secara sempurna," ujar Noverita di Sintang kemarin.
Ia menambahkan bahwa perubahan hormon saat pubertas juga berperan besar dalam memicu gejolak emosi dan tekanan psikologis. Menurutnya, satu diantara langkah awal dalam menghindari stres adalah dengan belajar mengenali gejalanya.
“Kalau merasa mudah lelah, gampang marah, sakit kepala, atau susah tidur, itu bisa jadi sinyal awal bahwa seseorang sedang mengalami stres,” jelasnya.
Ia mengajak para remaja untuk berefleksi terhadap penyebab stres mereka.
“Mungkin karena tugas sekolah terlalu banyak, terlalu sering bermain HP, atau karena tuntutan dari teman sebaya yang terasa membebani. Atau bisa juga karena nilai sekolah rendah yang membuat mereka merasa gagal,” ungkapnya.
Setelah mengenali pemicu stres, langkah berikutnya adalah menyeimbangkan rutinitas. “Remaja perlu memiliki jadwal yang seimbang antara belajar, istirahat, dan hiburan. Jangan hanya fokus pada akademik. Kesehatan mental juga harus mendapat perhatian yang sama,” tambahnya.
Noverita juga menekankan pentingnya belajar mengekspresikan emosi sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental. Dengan memahami emosi yang dirasakan dan berbicara tentangnya secara terbuka, remaja dapat menghindari tekanan batin yang berlebihan.
Pendekatan ini dinilai penting tidak hanya bagi remaja, tetapi juga bagi orang tua dan guru agar bisa mendeteksi sejak dini dan memberi dukungan yang tepat.
“Kesadaran adalah langkah awal. Tapi yang lebih penting adalah membangun lingkungan yang mendukung remaja untuk tumbuh tanpa tekanan berlebihan,” tutup Noverita. (nda)
Editor : Hanif