PONTIANAK POST – Kepolisian Resor (Polres) Sintang telah mengambil langkah tegas terhadap sejumlah anggotanya yang terlibat dalam penyalahgunaan narkotika. Sejak tahun 2020 hingga 2024, tercatat empat personel aktif diberhentikan tidak dengan hormat setelah terbukti menggunakan hingga mengedarkan Narkoba.
“Mulanya mereka pengguna, lama-lama jadi pengedar. Ada yang sebagian barangnya dipakai, sebagian dijual untuk menutupi biaya makai. Dari situ mereka akhirnya menjadi kurir atau penjual,” ungkap AKP Dedi Supriadi, Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Sintang, Kamis (22/5).
Menurut AKP Dedi, keterlibatan oknum polisi dalam kasus narkoba tidak hanya mencoreng institusi, tetapi juga menunjukkan lemahnya efek jera dari penindakan yang sebelumnya telah dilakukan.
“Ada satu orang yang bahkan sudah dua kali terlibat, tetap mengulang lagi. Akhirnya diproses dan dipecat,” tegasnya.
Pengungkapan kasus ini, lanjut Dedi, dilakukan melalui berbagai upaya internal, salah satunya pemeriksaan urin secara mendadak terhadap anggota.
“Kita sering razia internal tanpa pemberitahuan. Dari situ ada yang terdeteksi positif. Lalu diproses oleh bagian Propam. Kalau hanya sekali dan masih bisa dibina, diberikan sanksi disiplin. Tapi jika mengulang, tidak ada toleransi, langsung pemecatan,” jelasnya.
Fenomena ini menjadi ironi, mengingat proses seleksi masuk kepolisian sangat ketat. “Untuk jadi polisi saja susah, ribuan pendaftar tapi yang diterima hanya beberapa. Tapi setelah lolos, malah bermain-main dengan barang haram. Padahal jelas Narkoba dilarang undang-undang dan agama,” ujar Dedi.
Ia juga menambahkan bahwa indikasi anggota terlibat narkoba bisa terlihat dari perilaku keseharian.
“Kerja jadi malas, sering bolos, jarang masuk kantor. Itu sudah jadi perhatian bagi kami,” tuturnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa institusi kepolisian pun tidak kebal dari ancaman Narkoba. Namun, Dedi memastikan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir pelanggaran semacam ini.
“Faktanya, di Sintang, sudah ada yang dipecat. Kami tegas terhadap oknum, dan itu harus jadi pelajaran,” pungkasnya. (nda)
Editor : Hanif