PONTIANAK POST - Pemerintah Kabupaten Sintang tengah merampungkan logo dan slogan pariwisata baru sebagai identitas resmi promosi wisata daerah. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Sintang, Hendrika, menjelaskan bahwa logo akan memvisualkan kekhasan Sintang melalui sejumlah ikon lokal, seperti Gunung Kelam, pertemuan Sungai Saka Tiga, tenun ikat khas Sintang, hingga Galeri Motor Bandong sebagai simbol kreativitas masyarakat. “Kita ingin logo ini benar-benar mencerminkan identitas Sintang. Tidak hanya indah secara visual, tapi juga bermakna dalam dan mudah dikenali,” ujar Hendrika, kemarin di Sintang.
Selain logo, slogan pariwisata Sintang juga tengah difinalisasi dalam dua versi bahasa—Indonesia dan Inggris. Strategi bilingual ini disiapkan untuk menyesuaikan target promosi, baik kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. “Kalau targetnya wisatawan lokal, kita pakai versi bahasa Indonesia. Untuk promosi luar negeri, kita siapkan versi Inggris. Ini bagian dari strategi branding agar Sintang lebih kompetitif sebagai tujuan wisata,” jelasnya.
Hendrika menegaskan bahwa sebelum diluncurkan, logo dan slogan tersebut akan terlebih dahulu didaftarkan hak ciptanya. “Pendaftaran hak cipta ini penting agar identitas pariwisata kita aman secara hukum dan tidak diklaim pihak lain. Setelah teregistrasi, barulah kita mulai tahap sosialisasi luas,” tambahnya. Ia juga mengungkapkan bahwa desain logo menyesuaikan standar warna yang ditetapkan Kementerian Pariwisata dalam pedoman "Pesona Indonesia", yang membatasi penggunaan warna hanya pada lima palet utama untuk keseragaman identitas visual pariwisata nasional.
Menurutnya, Bupati Sintang turut memberi masukan terhadap desain yang dikembangkan. Salah satu unsur penting yang diakomodasi adalah motif tenun Sintang, sebagai warisan budaya lokal yang khas dan bernilai tinggi. “Masukan dari Bupati menjadi bagian penting dari konsep visual yang kami kembangkan. Kami juga akan segera menyusun Surat Keputusan Bupati untuk mengatur penggunaan logo dan slogan ini agar implementasinya lebih terarah,” tutup Hendrika. (nda)
Editor : Hanif