Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Gawai Dayak Sintang, Benteng Budaya di Tengah Arus Modernisasi

Riska Nanda Kumala Sari • Selasa, 15 Juli 2025 | 12:39 WIB
KEARIFAN LOKAL: Staf Ahli Bupati Sintang Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Asmidi.
KEARIFAN LOKAL: Staf Ahli Bupati Sintang Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Asmidi.

PONTIANAK POST - Tradisi Gawai Dayak di Kabupaten Sintang kembali disorot sebagai lebih dari sekadar perayaan adat. Di tengah modernisasi yang terus berkembang, gawai dinilai menjadi benteng penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Dayak.

Staf Ahli Bupati Sintang Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Asmidi, menegaskan bahwa gawai tidak boleh dipandang semata-mata sebagai hiburan atau seremoni tahunan.

“Gawai adalah simbol kekuatan budaya, kearifan lokal, serta jati diri masyarakat Dayak yang telah lama menjaga keharmonisan hidup di tanah ini,” ujar Asmidi, Senin (14/7).

Menurut Asmidi, penting bagi generasi muda untuk memahami makna yang lebih dalam dari perayaan tersebut. Di tengah arus globalisasi dan budaya instan, pelestarian warisan lokal seperti gawai justru menjadi bentuk perlawanan terhadap hilangnya akar identitas bangsa.

“Budaya bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman, sebaliknya, siapa yang mampu mempertahankan dan mengembangkan budayanya dengan baik, maka dialah yang akan tetap eksis dan dihormati," tegas Asmidi.

Asmidi juga mengingatkan bahwa dalam dunia yang semakin global, negara-negara dengan kekuatan budaya yang kuat cenderung lebih dihargai dalam percaturan internasional. Ia mendorong agar masyarakat tidak hanya menjadikan Gawai sebagai tradisi tahunan, tetapi juga sebagai momentum refleksi dan regenerasi nilai-nilai lokal yang selama ini menjadi perekat sosial masyarakat Dayak.

Penguatan budaya, lanjutnya, juga menjadi langkah penting dalam menjaga harmoni dan keberagaman di daerah. “Kabupaten Sintang adalah rumah bersama berbagai suku dan agama. Pelestarian budaya lokal seperti ini justru memperkuat kebersamaan kita,” kata Asmidi.

Asmidi berharap dengan menjadikan gawai sebagai ruang pembelajaran, ekspresi, dan regenerasi budaya seluruh masyarakat Sintang tidak hanya sekadar menjaga warisan, tetapi juga memperkaya nilai-nilai yang mampu menjawab tantangan zaman. (nda)

Editor : Hanif
#modernisasi #sintang #masyarakat dayak #budaya lokal #Gawai Dayak #Arus Globalisasi