PONTIANAK POST - Kelangkaan bahan bakar minyak selama beberapa pekan terakhir di perhuluan Kalimantan Barat diperkirakan akan segera berakhir. Naiknya ketinggian air Sungai Melawi menjadi titik balik pemulihan distribusi. Setelah sempat tersendat akibat pendangkalan sungai, kapal-kapal pengangkut BBM kini kembali bergerak menuju Fuel Terminal Sintang, akhir pekan lalu.
PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan menyatakan percepatan pemulihan distribusi terus dilakukan untuk memastikan pasokan BBM kembali stabil di Kabupaten Sintang, Melawi, Kapuas Hulu, Sanggau, dan Sekadau.
Sejumlah strategi dijalankan secara simultan, mulai dari optimalisasi jalur darat melalui pengiriman mobil tangki langsung dari Integrated Terminal Pontianak, penguatan koordinasi lintas pemangku kepentingan, hingga penerapan skema distribusi alternatif.
Seiring peningkatan signifikan tinggi muka air Sungai Melawi dalam beberapa hari terakhir, kapal-kapal yang sebelumnya tertahan kini dapat berlayar secara bertahap menuju Fuel Terminal Sintang. Pergerakan ini menjadi momentum penting dalam mempercepat pemulihan distribusi BBM di wilayah perhuluan Kalimantan Barat.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan seluruh jalur distribusi terus dimaksimalkan agar pasokan segera kembali normal. “Dengan naiknya level air dan bergeraknya kembali kapal suplai menuju Fuel Terminal Sintang, kami berharap distribusi BBM di wilayah hulu Kalbar segera stabil. Upaya percepatan juga dilakukan melalui optimalisasi pengiriman dari Pontianak serta pengaturan pola distribusi yang lebih efisien,” ujarnya, kemarin.
Sebagai langkah strategis, Pertamina juga mengaktifkan dermaga alternatif di Sanggau sebagai titik pembongkaran sementara. Skema ini memungkinkan proses alih muat BBM dari kapal ke mobil tangki berlangsung lebih cepat dan fleksibel. Dengan adanya titik bongkar tambahan tersebut, waktu tempuh distribusi ke wilayah terdampak dapat dipangkas secara signifikan sehingga mempercepat penguatan stok di SPBU.
Pertamina memastikan stok BBM untuk wilayah Kalimantan Barat secara umum dalam kondisi aman. Penyaluran ke SPBU terus diprioritaskan, terutama pada jalur strategis dan pusat aktivitas masyarakat. Koordinasi dengan pemerintah daerah serta aparat penegak hukum juga terus dilakukan agar distribusi berjalan lancar dan tepat sasaran.
Selain itu, Pertamina mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, mitra lembaga penyalur, serta masyarakat yang tetap tenang dan bijak dalam melakukan pembelian selama proses pemulihan berlangsung.
“Kami memohon kerja sama seluruh pihak agar distribusi dapat berjalan lancar dan merata. Dukungan seluruh pemangku kepentingan sangat membantu percepatan pemulihan demi terpenuhinya kebutuhan energi masyarakat di wilayah hulu Kalbar,” tutup Edi.
Sebelumnya, distribusi BBM ke wilayah hulu Kalimantan Barat mengalami gangguan serius akibat pendangkalan Sungai Kapuas–Melawi selama beberapa pekan terakhir. Rendahnya curah hujan sejak Januari hingga pertengahan Februari membuat ketinggian air sungai turun drastis hingga sekitar 2,1–2,25 meter, jauh di bawah batas aman navigasi kapal tanker yang membutuhkan kedalaman minimal 4 meter.
Akibat kondisi tersebut, sedikitnya tiga kapal pengangkut BBM berkapasitas ribuan kiloliter tertahan di wilayah Sanggau dan tidak dapat melanjutkan pelayaran menuju Fuel Terminal Sintang. Pasokan BBM ke Kabupaten Sintang, Melawi, dan Kapuas Hulu pun tersendat dan hanya mengandalkan stok darurat di depo setempat.
Gangguan distribusi ini memicu antrean panjang di sejumlah SPBU serta lonjakan harga BBM di tingkat pengecer. Di Kabupaten Kapuas Hulu, harga Pertalite di kios-kios dilaporkan melonjak hingga Rp15 ribu sampai Rp25 ribu per liter. Kondisi tersebut memicu keluhan masyarakat, penertiban jeriken oleh kepolisian, serta desakan DPRD agar pemerintah daerah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) BBM di tingkat pengecer.
Untuk menutup kekosongan pasokan, PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan terpaksa mengalihkan distribusi melalui jalur darat dari Integrated Terminal Pontianak dengan operasional 24 jam. Namun, jarak tempuh yang lebih panjang membuat suplai tidak secepat jalur sungai dan berdampak langsung pada ketersediaan BBM di wilayah perhuluan. (nda)
Editor : Hanif