PONTIANAK POST - Sore itu, perjalanan dari Sintang menuju Pontianak berubah menjadi kabar duka yang menyebar cepat.
Di antara puluhan penumpang Bus DAMRI rute Sintang - Pontianak, satu nama kemudian dikenang lebih dalam: Martini.
Ia duduk di kursi nomor 22, memulai perjalanan dari Tugu BI dengan tujuan Terminal Antar Negara Ambawang. Namun, takdir berkata lain ketika bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan tunggal di kawasan Penyeladi, Kabupaten Sanggau, Minggu, (5/4).
Martini menjadi satu-satunya korban meninggal dunia dalam peristiwa itu. Kepergiannya menyisakan kesedihan yang terasa nyata di kediamannya di Jalan MT Haryono Gang Wiyata 2, Sintang.
Rumah duka dipenuhi pelayat, keluarga, dan kerabat yang datang silih berganti, mencoba menerima kenyataan yang datang begitu mendadak.
Di tengah suasana itu, Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, hadir secara langsung. Ia duduk bersama keluarga, tanpa sekat, larut dalam suasana duka yang sama.
“Almarhum pernah menjadi staf di SMA Negeri 2 Sintang dan kini bekerja sebagai PPPK di laboratorium Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak,” ujar Bala.
Bagi Bala, kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk empati terhadap warganya. “Ini duka kita bersama. Almarhum adalah warga Sintang, dan sudah sepatutnya kita saling menguatkan,” ucapnya.
Kecelakaan itu sendiri sempat menggemparkan publik setelah video kejadian beredar luas di media sosial.
Dalam rekaman tersebut, terlihat bagaimana kondisi jalan yang sempit dan berkelok di turunan Penyeladi menjadi salah satu tantangan berat bagi kendaraan besar seperti bus.
Namun di balik peristiwa itu, kisah Martini menjadi pengingat tentang rapuhnya perjalanan hidup. Ia berangkat dengan rencana sederhanamenempuh perjalanan antar kota untuk kembali menjalani aktivitas namun tak pernah tiba di tujuan.
Di rumah duka, cerita tentang dirinya terus hidup. Tentang dedikasinya sebagai tenaga laboratorium, tentang kesehariannya yang bersahaja, hingga kenangan kecil yang kini menjadi berarti.
Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi lingkungan yang mengenalnya sebagai sosok yang tekun dan rendah hati.
Perjalanan di kursi 22 itu kini menjadi jejak terakhir, yang akan selalu dikenang. (nda)
Editor : Miftahul Khair