PONTIANAK POST - Pemerintah Kabupaten Sintang menargetkan layanan pemasangan ring atau cincin jantung sudah dapat dilakukan di RSUD Ade M Djoen dalam waktu satu tahun ke depan. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan layanan kesehatan rujukan di wilayah timur Kalimantan Barat, sekaligus mengurangi ketergantungan pasien untuk berobat ke luar daerah bahkan luar negeri.
Sekretaris Daerah Sintang, Kartiyus, menyebutkan kesiapan layanan tersebut kini terus dimatangkan, baik dari sisi infrastruktur maupun sumber daya manusia. Rumah sakit yang saat ini berstatus kelas II itu telah memiliki fasilitas awal untuk tindakan bedah jantung, termasuk ruang klinik khusus yang telah dibangun.
“Ruang klinik bedah jantung sudah tersedia. Sekarang kami fokus pada peningkatan kapasitas tenaga medis agar layanan ini benar-benar bisa berjalan,” ujar Kartiyus, Rabu (15/4).
Kartiyus menyatakan, satu diantara dokter spesialis jantung tengah menjalani pendidikan lanjutan sekaligus proses sertifikasi di luar negeri. Sertifikasi tersebut menjadi syarat utama bagi tenaga medis untuk dapat melakukan tindakan pemasangan ring jantung secara mandiri.
“Dokternya sedang mengambil sertifikasi sekaligus pendidikan lanjutan di China. Memang untuk izin tindakan ini, sertifikatnya hanya bisa diperoleh dari Malaysia dan China,” terangnya.
Kartiyus menilai, keterbatasan lembaga sertifikasi di dalam negeri membuat pemerintah daerah harus mencari alternatif ke luar negeri demi mempercepat peningkatan layanan kesehatan. Jika proses tersebut rampung, kapasitas layanan ditargetkan cukup tinggi.
“Ke depan, dalam satu hari bisa melayani belasan pasien untuk pemasangan cincin jantung,” ungkapnya.
Selain peningkatan layanan medis, pengembangan RSUD AM Djoen juga didorong oleh faktor konektivitas wilayah. Rencana pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sungai Kelik dinilai akan membuka akses yang lebih luas ke Malaysia, termasuk untuk kerja sama sektor kesehatan.
“Kalau akses ke Malaysia terbuka, tentu peluang kolaborasi layanan kesehatan juga semakin besar,” tutur Kartiyus.
Di sisi lain, tingginya mobilitas masyarakat Sintang ke luar daerah turut menjadi perhatian. Data menunjukkan ratusan warga setiap bulan mengurus paspor ke Sanggau, yang sebagian di antaranya untuk keperluan berobat. Kondisi ini memperkuat urgensi peningkatan layanan kesehatan di dalam daerah.
"Dengan berbagai langkah tersebut, kami berharap masyarakat tidak lagi harus bepergian jauh untuk mendapatkan layanan jantung yang selama ini terbatas," tutupnya. (nda)
Editor : Hanif