Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

13 Jembatan Putus Bikin Akses Bantuan Korban Banjir di Sintang Terhambat

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 21 Mei 2026 | 22:26 WIB
Kondisi debit air Sungai Kayan meningkat hingga membanjiri Kecamatan Kayan Hulu dan dua kecamatan sekitarnya pada Senin (18/5). (ISTIMEWA)
Kondisi debit air Sungai Kayan meningkat hingga membanjiri Kecamatan Kayan Hulu dan dua kecamatan sekitarnya pada Senin (18/5). (ISTIMEWA)

 

PONTIANAK POST — Banjir yang melanda Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, memutus 13 jembatan gantung dan melumpuhkan akses bantuan ke sejumlah desa terdampak. Putusnya jalur penghubung membuat distribusi logistik darurat menuju wilayah pedalaman, terutama Kecamatan Kayan Hilir, menjadi terkendala.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut kerusakan infrastruktur terjadi setelah banjir luapan merendam wilayah Sintang sejak Minggu (17/5).

“Tercatat ada 13 jembatan gantung yang putus serta satu akses jalan utama masih terendam air,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Kamis (21/5).

Ribuan Warga Terdampak, Akses Desa Terisolasi

Selain memutus akses antarwilayah, banjir juga berdampak luas terhadap permukiman warga. BNPB mencatat sebanyak 5.078 kepala keluarga terdampak dan lima rumah mengalami rusak berat.

Para penyintas tersebar di 15 desa, di antaranya Desa Nanga Toran dan Pakak di Kecamatan Kayan Hulu, Desa Landau Beringin dan Nanga Mau di Kayan Hilir, serta Desa Sungai Sintang dan Bengkuang di Kelam Permai.

Kondisi paling berat dirasakan warga pedalaman yang selama ini bergantung pada jembatan gantung dan jalur sungai sebagai akses utama keluar masuk desa.

Sejumlah warga dilaporkan kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan, sekolah, hingga distribusi bahan makanan akibat putusnya akses penghubung.

BPBD Siapkan Bantuan Darurat

Saat ini, tim reaksi cepat BPBD Kabupaten Sintang masih melakukan penanganan darurat dan distribusi bantuan di lokasi terdampak.

Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kalbar, banjir di Sintang menyebabkan 3.835 kepala keluarga terdampak dan 186 kepala keluarga terpaksa mengungsi.

Sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, dan infrastruktur desa juga ikut terendam banjir.

Tak hanya Sintang, banjir juga melanda Kabupaten Kubu Raya dan Ketapang. Di Kubu Raya, sedikitnya 714 kepala keluarga atau 2.411 jiwa terdampak banjir di Desa Pasak Piang, Kecamatan Sungai Ambawang.

Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan debit air sungai meningkat dan meluap ke permukiman warga.

“Curah hujan yang tinggi menyebabkan debit air meningkat dan meluap ke permukiman warga,” ujarnya.

BPBD bersama instansi terkait kini menyiapkan kebutuhan mendesak seperti perahu karet, makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan bagi warga terdampak.

BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalbar memperingatkan potensi hujan sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah.

Daerah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem meliputi Sintang, Sanggau, Melawi, Sekadau, hingga Kubu Raya.

BMKG meminta masyarakat mewaspadai potensi genangan, pohon tumbang, serta gangguan aktivitas akibat cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

WALHI Soroti Kerusakan Hutan dan Alih Fungsi Lahan

Di tengah banjir yang terus berulang, WALHI Kalimantan Barat menilai bencana di Sintang bukan semata dipicu curah hujan tinggi, tetapi juga kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan dan eksploitasi hutan.

Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalbar, Indra Syahnanda, mengatakan daya dukung lingkungan di kawasan hulu sungai terus menurun akibat aktivitas perkebunan dan pertambangan.

“Bencana ekologis banjir yang terjadi ini bukan hanya sekadar fenomena alam akibat curah hujan tinggi, tetapi ada kerusakan ekosistem yang telah berlangsung lama,” katanya.

Menurut WALHI, hilangnya tutupan hutan membuat daerah aliran sungai tidak lagi mampu menahan debit air besar ketika hujan deras terjadi.

Sepanjang 2020 hingga 2025, Kalimantan Barat disebut kehilangan sekitar 179 ribu hektare tutupan hutan. Kondisi tersebut dinilai memperbesar risiko banjir dan cuaca ekstrem di berbagai daerah.

“Eksploitasi hutan yang begitu masif masih terjadi di Kalbar,” tegas Indra.

WALHI mendesak pemerintah melakukan pemulihan lahan kritis serta mengevaluasi izin perkebunan dan pertambangan di wilayah hulu guna mengurangi risiko bencana ekologis yang terus berulang di Sintang. (ars)

 

Tabel Infografis

 
Kategori Data Banjir Sintang 2026
Lokasi Utama Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat
Awal Banjir Minggu, 17 Mei 2026
Penyebab Utama Luapan sungai akibat curah hujan tinggi
Jumlah Jembatan Putus 13 jembatan gantung
Akses Jalan Terdampak 1 jalan utama masih terendam
Kepala Keluarga Terdampak 5.078 KK
Kepala Keluarga Mengungsi 186 KK
Rumah Rusak Berat 5 unit
Desa Terdampak 15 desa
Wilayah Paling Terdampak Kecamatan Kayan Hilir dan Kayan Hulu
Desa Terdampak Nanga Toran, Pakak, Landau Beringin, Nanga Mau, Sungai Sintang, Bengkuang
Dampak Utama Distribusi bantuan dan akses kesehatan terhambat
Fasilitas Terdampak Sekolah, tempat ibadah, infrastruktur desa
Bantuan Darurat Perahu karet, makanan siap saji, air bersih, obat-obatan
Peringatan BMKG Potensi hujan sedang hingga lebat masih berlanjut
Catatan WALHI Kerusakan hutan dan alih fungsi lahan memperparah banjir
Data Kehilangan Hutan Kalbar ±179 ribu hektare (2020–2025)
Ancaman Lanjutan Banjir susulan, longsor, pohon tumbang, isolasi desa

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#banjir Sintang 2026 #13 jembatan putus #bantuan banjir terhambat #kerusakan hutan Kalbar #Walhi Kalimantan Barat