Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Cerita dari Ensaid Panjang: Saat Rumah Betang, Tenun Ikat, dan Hutan Menjadi Nafas Kehidupan Masyarakat Adat Dayak

Agung Rajali Saputra • Jumat, 26 Juni 2026 | 14:39 WIB
Ricardus Sembay, Kepala Dusun Rentap Selatan Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat pada Kamis (25/6). (AGUNG RAJALI SAPUTRA/ PONTIANAKPOST)
Ricardus Sembay, Kepala Dusun Rentap Selatan Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat pada Kamis (25/6). (AGUNG RAJALI SAPUTRA/ PONTIANAKPOST)

PONTIANAK POST – Kepala Dusun Rentap Selatan, Ricardus Sembay, mengungkap sejarah dan nilai kehidupan masyarakat adat Dayak Desa di Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, yang hingga kini menjaga keseimbangan antara adat, hutan, dan budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Sembay menjelaskan bahwa Ensaid Panjang merupakan kampung adat yang dibangun dengan semangat kebersamaan dan kehidupan komunal. Nilai-nilai adat menjadi pedoman masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari, mulai dari pengelolaan hutan, penyelesaian persoalan, hingga pelestarian budaya.

"Rumah Betang bukan sekadar tempat tinggal, tetapi menjadi simbol persatuan masyarakat Dayak Desa. Di sinilah kami hidup bersama, menjaga adat, saling menghormati, dan mewariskan nilai-nilai leluhur kepada generasi berikutnya," ujar Sembay Kamis (25/6).

Baca Juga: Rumah Betang Ensaid Panjang di Sintang Rampung Direhabilitasi

Ia menegaskan, masyarakat Ensaid Panjang memandang hutan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Karena itu, pengelolaan sumber daya alam selalu dilakukan dengan mengedepankan aturan adat agar tetap lestari.

"Kalau hutannya rusak, budaya kami juga akan ikut hilang. Hutan bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga warisan yang harus kami jaga untuk anak cucu," katanya.

Selain itu, kata Sembay, tenun ikat khas Dayak Desa telah menjadi identitas Ensaid Panjang. Menurutnya, keterampilan menenun diwariskan secara turun-temurun dan kini menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat melalui konsep bioekonomi yang tetap menjaga kelestarian alam.

"Kami ingin masyarakat luar mengetahui bahwa budaya bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga dijaga. Tenun, adat, dan hutan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan," tuturnya.

Baca Juga: Persiapan Gawai Adat Dayak Sanggau Hampir Sempurna, Panitia Matangkan Agenda Budaya di Rumah Betang

Sementara itu, Jurnalis Katadata Green, Ajeng mengatakan dokumentasi ini merupakan bagian dari liputan Katadata Green untuk mengangkat praktik-praktik baik masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan pengembangan ekonomi berbasis sumber daya hayati.

"Ensaid Panjang menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki pengetahuan dan praktik nyata dalam menjaga alam sekaligus mengembangkan ekonomi. Cerita seperti inilah yang penting untuk didokumentasikan agar dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain," kata Ajeng.

Melalui wawancara ini, Katadata Green berharap sejarah, nilai-nilai adat, dan praktik bioekonomi yang dijalankan masyarakat Ensaid Panjang semakin dikenal luas, sekaligus memperkuat peran masyarakat adat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (agg)

Editor : Miftahul Khair
#Ensaid Panjang #Masyarakat Adat Dayak #rumah betang #Tenun Ikat #hutan