Kemarau Panjang Hambat Angkutan CPO dari Sintang ke Pontianak, Petani Sawit Ikut Terdampak

Riska Nanda Kumala Sari • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 10:13 WIB

 

Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala melakukan pertemuan bersama pimpinan perusahaan perkebunan yang memiliki PKS di Sintang.(ISTIMEWA)
Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala melakukan pertemuan bersama pimpinan perusahaan perkebunan yang memiliki PKS di Sintang.(ISTIMEWA)

PONTIANAK POST  - Kemarau panjang membuat hasil panen sawit petani mandiri di Kabupaten Sintang kesulitan masuk ke pabrik. Penurunan debit Sungai Kapuas dan Melawi menghambat pengangkutan Crude Palm Oil (CPO) menuju Pontianak, sementara keterbatasan truk tangki membuat kapasitas produksi sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) harus dikurangi.

Persoalan tersebut dibahas Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala bersama pimpinan perusahaan perkebunan yang memiliki PKS di Sintang. Pertemuan itu difokuskan untuk mencari jalan keluar atas menumpuknya Tandan Buah Segar (TBS) hasil kebun masyarakat yang tidak seluruhnya dapat diserap pabrik. Bala mengatakan, kondisi sungai yang tidak dapat dilalui kapal maupun tongkang membuat pabrik kehilangan jalur utama untuk mengangkut CPO ke Pontianak. Distribusi kemudian dialihkan menggunakan truk tangki.

“Sekarang kapal dan tongkang tidak bisa berjalan karena debit sungai turun. Akhirnya pabrik mengandalkan truk tangki untuk membawa CPO,” ujar Bala, Selasa (15/9).

 Baca Juga: Kurangi Pembakaran Lahan, Satgas Karhutla TNI Uji Limbah Sawit untuk Olah Lahan Padi

Masalah bertambah karena jumlah truk tangki yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan distribusi. Akibatnya, pabrik harus menekan produksi CPO, yang berimbas pada pembelian TBS dari petani masyarakat. Dalam kondisi tersebut, sebagian PKS lebih mengutamakan pengolahan TBS dari kebun inti dan plasma perusahaan. Bala meminta pola antrean TBS dari petani mandiri maupun mitra tetap mendapat perlakuan yang adil.

“Antrean TBS dari mitra dan petani mandiri harus sama-sama diprioritaskan. Jangan hanya inti dan plasma,” tegasnya.

Menurut Bala, keterbukaan informasi juga penting agar petani mengetahui kondisi penerimaan TBS di masing-masing pabrik. PKS diminta menyampaikan informasi secara transparan kepada masyarakat, terutama ketika terjadi pembatasan pembelian. Pemkab Sintang juga akan membangun komunikasi dengan pemerintah daerah sekitar, yakni Melawi, Sekadau, Sanggau dan Kapuas Hulu, terkait persoalan transportasi sungai dan kewenangan KSOP. (nda)

Editor : Miftahul Khair
TBS petani Sawit Sintang Angkutan CPO CPO kemarau panjang