PONTIANAK POST – Meta memaksa ribuan karyawannya pindah ke divisi kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian restrukturisasi besar perusahaan. Langkah agresif perusahaan milik Mark Zuckerberg itu dilakukan karena AI kini dianggap menjadi masa depan baru dunia teknologi dan pusat persaingan industri global.
Dilansir dari The Guardian, lebih dari tujuh ribu pegawai Meta diwajibkan bergabung ke tim baru yang berkaitan dengan pengembangan agen AI dan infrastruktur komputasi awan.
Sebagian pegawai ditempatkan pada pengembangan cloud AI, sementara kelompok lain diarahkan ke proyek agen AI internal bernama sandi “Hatch”.
Meta Ubah Struktur Kerja InternalRestrukturisasi ini menjadi bagian dari langkah Meta mempercepat pembangunan teknologi AI di tengah persaingan dengan OpenAI, Google, dan Anthropic.
Wakil Presiden Production Engineering Meta Peter Hoose mengatakan perubahan tersebut menjadi konsekuensi dari percepatan perkembangan AI yang mengubah arah bisnis perusahaan.
“Pekerjaan, infrastruktur, dan produk kami pada dasarnya sedang berubah akibat percepatan AI,” ujarnya.
Menurut dia, kecepatan pembangunan teknologi yang dilakukan Meta saat ini belum pernah terjadi sebelumnya.
“Kecepatan pembangunan yang kami lakukan juga belum pernah terjadi sebelumnya dan inilah jenis tantangan yang mendefinisikan kemampuan terbaik kami,” lanjut Peter.
Manajer Dialihkan Jadi Pekerja TeknisSelain memindahkan ribuan pegawai, Meta juga mulai memangkas struktur manajemen tradisional di internal perusahaan.
Sejumlah manajer kehilangan bawahan langsung dan dialihkan menjadi pekerja teknis yang dituntut menghasilkan produk dan pekerjaan secara langsung.
Sebelumnya, Meta juga telah memindahkan sedikitnya 1.000 insinyur ke tim pelabelan data bernama Applied AI (AAI).
Langkah tersebut menunjukkan perubahan budaya kerja di perusahaan teknologi besar yang kini lebih fokus pada pengembangan AI dibanding struktur birokrasi perusahaan konvensional.
Perang AI Antar Raksasa TeknologiPerombakan besar di Meta memperlihatkan semakin panasnya persaingan industri teknologi global dalam perebutan dominasi AI.
Setelah ledakan popularitas AI generatif dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi berlomba memperkuat infrastruktur, merekrut talenta AI, hingga mengubah model bisnis mereka.
Pengamat teknologi menilai AI kini tidak lagi sekadar proyek tambahan, tetapi telah menjadi pusat strategi bisnis perusahaan teknologi dunia.
Nasib Pekerja Teknologi Mulai Berubah
Restrukturisasi besar di Meta juga memperlihatkan perubahan besar dunia kerja di industri teknologi.
Jika sebelumnya perusahaan digital bertumpu pada struktur manajerial dan pengembangan aplikasi media sosial, kini kebutuhan bergeser ke bidang komputasi awan, pelabelan data, hingga pengembangan agen AI.
Kondisi itu membuat banyak pekerja teknologi harus beradaptasi cepat dengan keterampilan baru agar tetap relevan di tengah transformasi AI yang semakin agresif.
Di sisi lain, sejumlah pengamat ketenagakerjaan mulai mengingatkan potensi tekanan psikologis dan ketidakpastian karier akibat perubahan struktur kerja yang berlangsung sangat cepat di perusahaan teknologi global. (ars)