PONTIANAK POST - Meski teknologi smartphone lipat terus melaju sepanjang 2026, harga jual yang masih tinggi tetap menjadi batu sandungan terbesar.
Berbagai merek seperti Samsung, Motorola, Honor, Oppo, dan vivo menghadirkan perangkat yang semakin tipis, ringan, serta lebih tangguh, tetapi belum mampu menjangkau mayoritas konsumen.
Perkembangan desain dan daya tahan memang membuat ponsel foldable semakin menarik sebagai perangkat premium.
Namun, banderol yang jauh di atas smartphone konvensional membuat banyak calon pembeli memilih menunda atau beralih ke opsi yang lebih terjangkau.
Sejumlah analis industri menilai harga masih menjadi faktor utama yang menghambat adopsi smartphone lipat secara massal.
Selama selisih harga dengan ponsel biasa masih lebar, perangkat foldable diperkirakan tetap menjadi produk premium dengan pangsa pasar yang terbatas.
Dalam beberapa tahun terakhir, produsen berhasil mengurangi ketebalan perangkat, memperbaiki mekanisme engsel, serta menyamarkan lipatan pada layar.
Peningkatan itu membuat pengalaman menggunakan smartphone lipat semakin mendekati ponsel premium biasa.
Generasi terbaru smartphone lipat kini membawa berbagai peningkatan, mulai dari layar yang lebih terang, bobot lebih ringan, sertifikasi ketahanan terhadap air, hingga performa chipset kelas flagship.
Samsung, misalnya, memperkenalkan Galaxy Z Fold8 dengan desain baru yang lebih lebar untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan layar luar.
Sementara Motorola, Honor, Oppo, dan vivo juga menghadirkan pendekatan serupa melalui perangkat yang lebih tipis dengan kapasitas baterai lebih besar.
Meski teknologi semakin matang, harga perangkat foldable masih berada di kelas premium.
Di banyak negara, harga smartphone lipat umumnya berada di kisaran Rp16,3 juta hingga Rp32,6 juta.
Baca Juga: Honor Magic V6 vs Galaxy Z Fold 8, Duel Ponsel Lipat Premium dengan Fitur AI Makin Sengit
Banderol tersebut membuat banyak konsumen memilih smartphone flagship konvensional yang menawarkan performa tinggi dengan harga lebih terjangkau.
Selain harga, sebagian perangkat lipat juga masih menghadapi sejumlah kompromi.
Beberapa model menawarkan kamera yang belum setara dengan flagship terbaik, sementara sebagian lainnya harus menyesuaikan kapasitas baterai atau sistem pendingin agar desain tetap tipis.
Dukungan aplikasi juga masih terus disempurnakan. Meskipun sistem operasi Android kini semakin optimal untuk perangkat layar lipat, belum semua aplikasi mampu memanfaatkan layar besar secara maksimal.
Lembaga riset pasar memperkirakan segmen smartphone lipat akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan seiring meningkatnya persaingan antarprodusen.
Kehadiran lebih banyak pemain dan perkembangan teknologi diperkirakan dapat menekan biaya produksi sehingga harga perangkat menjadi lebih kompetitif.
Analis juga menilai masuknya lebih banyak merek ke pasar foldable akan mempercepat inovasi, baik pada desain, daya tahan, maupun efisiensi komponen.
Apabila harga semakin terjangkau, smartphone lipat diperkirakan memiliki peluang lebih besar untuk menjadi pilihan utama di segmen premium.
Meski demikian, hingga saat ini harga tetap menjadi tantangan terbesar yang harus diatasi industri agar perangkat lipat dapat menjangkau lebih banyak konsumen.(*)
Editor : Budi Miank