AI Semakin Cakap, Peran Manusia Tetap Penting dalam Keamanan Siber

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:28 WIB
Head of Cybersecurity Education and Academic Affairs Kaspersky Evgeniya Russkikh dalam acara Kaspersky Academy Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu (19/8). (ANTARA/Livia Kristianti)
Head of Cybersecurity Education and Academic Affairs Kaspersky Evgeniya Russkikh dalam acara Kaspersky Academy Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu (19/8). (ANTARA/Livia Kristianti)

PONTIANAK POST- Peran manusia masih menjadi bagian penting dalam memastikan keandalan keamanan siber meski kecerdasan artifisial (AI) semakin banyak digunakan untuk menangani bidang tersebut. Kemampuan AI yang kian cakap dalam mempertahankan sistem maupun melakukan serangan membuat penilaian dan pemikiran kritis manusia tetap diperlukan.

Head of Cybersecurity Education and Academic Affairs Kaspersky Evgeniya Russkikh mengatakan kemampuan AI dalam bidang keamanan siber terus berkembang, baik untuk mempertahankan lingkungan digital maupun melakukan serangan.

"Ketika AI menjadi semakin cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting," kata Evgeniya lewat acara Kaspersky Academy Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu.

Dalam acara tersebut, Evgeniya menyampaikan bahwa dunia saat ini menghadapi persoalan kekurangan tenaga ahli keamanan siber. Kondisi itu terjadi di tengah meningkatnya penerapan AI untuk menangani keamanan siber.

Hal tersebut tergambar dalam studi International Information System Security Certification Consortium (ISC2) 2025. Studi itu menunjukkan AI telah mengubah lanskap industri yang berkaitan dengan pekerjaan keamanan siber.

Sebanyak 47 persen organisasi bisnis di dunia menempatkan pelatihan AI untuk keamanan siber. Pada saat yang sama, ancaman serangan siber yang menggunakan AI juga mengalami peningkatan.

Sebanyak 40 persen organisasi bisnis secara global setidaknya pernah mengalami kerugian akibat serangan siber yang ditimbulkan AI. Serangan tersebut di antaranya berupa deepfake dan penipuan identitas.

Kondisi itu membuat peran manusia tetap penting meski AI semakin cakap dalam menjaga keamanan siber maupun menciptakan serangan. Pemahaman manusia terhadap cara kerja AI diperlukan untuk menghadapi model AI yang digunakan dalam serangan siber.

"Jika model AI kini sudah dapat kini sudah bisa melancarkan penyerangan siber, maka manusia yang melawannya harus memahami cara kerja dari model AI itu," katanya.

Kesenjangan Talenta Siber di Asia Pasifik dan Asia Tenggara

Evgeniya menjelaskan kawasan Asia Pasifik menyumbang 60 persen dari kesenjangan talenta siber dunia.

Sementara di Asia Tenggara, persoalan tenaga ahli keamanan siber turut berkaitan dengan pengalaman kerja. Talenta digital keamanan siber pemula dinilai kesulitan mendapatkan kesempatan untuk mengasah kemampuan karena banyak pekerjaan mensyaratkan pengalaman.

Studi yang sama menyebut 65 persen pekerjaan keamanan siber di Asia Tenggara membutuhkan pengalaman kerja minimal tiga tahun. Persyaratan tersebut turut menjadi penyumbang kesenjangan talenta siber secara global.

Karena itu, dibutuhkan solusi untuk mencetak talenta digital, khususnya di bidang keamanan siber. Langkah tersebut diperlukan agar kesenjangan talenta dapat diatasi dan AI tetap terkendali saat diterapkan di dunia nyata.

Evgeniya mengatakan penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan kolaborasi kuat antara akademisi, industri, dan pembuat kebijakan di setiap negara. Kolaborasi itu diperlukan agar proses pencetakan talenta digital keamanan siber dapat berjalan optimal dan mengatasi kesenjangan yang terjadi.

Untuk kawasan Asia Tenggara, kerja sama tersebut juga diharapkan dapat menangani kekurangan instruktur keamanan siber yang kompeten untuk melatih generasi muda. Selain itu, kolaborasi diperlukan untuk mengatasi terbatasnya materi pelatihan dalam bahasa lokal masing-masing negara.

"Kolaborasi kuat antara akademisi, industri, dan sektor publik akan sangat penting untuk membangun sumber daya manusia yang dibutuhkan demi masa depan digital yang tangguh,” ujar Evgeniya. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
Kaspersky pemikiran kritis keamanan siber ai