PONTIANAK POST – Tiongkok mempercepat pengembangan 6G dengan target menyiapkan teknologi komunikasi seluler generasi keenam itu untuk komersialisasi sebelum 2030. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Beijing membangun fondasi industri baru yang menggabungkan konektivitas berkecepatan tinggi, kecerdasan buatan (AI), robotika, dan komputasi.
Pengembangan 6G tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan jaringan seluler. Teknologi ini diproyeksikan menjadi infrastruktur bagi pabrik pintar, kendaraan otonom, interaksi manusia-mesin, hingga sistem kecerdasan buatan berwujud.
6G Masuk Agenda Industri Baru
Pemerintah Tiongkok memasukkan 6G dalam agenda pengembangan industri untuk lima tahun mendatang. Teknologi tersebut ditempatkan sejajar dengan sejumlah bidang strategis seperti komputasi kuantum, biomanufaktur, energi hidrogen dan fusi, antarmuka otak-komputer (BCI), serta AI berwujud.
Kombinasi 6G dan AI dipandang dapat membuka kemampuan baru dalam pengolahan data dan komunikasi antarmesin. Integrasi tersebut juga diharapkan memperkuat penggunaan teknologi digital dalam berbagai sektor industri.
Menurut laporan Global Times, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) Tiongkok akan memperkuat riset dan pengembangan 6G sekaligus membangun ekosistem industri yang mendukung penerapannya.
Wakil Menteri MIIT Xin Guobin mengatakan Tiongkok juga akan mempercepat pembangunan jaringan telekomunikasi dan jaringan daya komputasi generasi berikutnya.
"Tiongkok juga akan mempercepat pembangunan jaringan telekomunikasi dan jaringan daya komputasi generasi berikutnya, memperluas penerapan 5G dan internet industri dalam skala besar di sektor-sektor industri utama, serta memperkuat keamanan jaringan seluler dan keamanan data di dunia maya," ujar Xin.
Kejar Terobosan Teknologi dan Standar
Pejabat MIIT Liu Yulin mengatakan lima tahun mendatang akan menjadi periode penting untuk mencapai terobosan teknologi 6G.
Selain pengembangan teknologi, Tiongkok akan mendorong penyusunan standar serta pembentukan ekosistem industri. Langkah tersebut dipandang penting agar teknologi 6G tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi memiliki basis industri yang siap mendukung penggunaan komersial.
Anggota Komite Ahli MIIT Pan Helin menilai pengembangan 6G juga dapat mendorong pembaruan teknologi di kalangan produsen perangkat. Menurut dia, penguasaan teknologi tersebut penting bagi keberlanjutan posisi Tiongkok dalam industri komunikasi digital.
Dari 5G Menuju Interaksi Manusia-Mesin
6G diproyeksikan tidak sekadar menghadirkan koneksi yang lebih cepat dibandingkan 5G.
Pan mengatakan sejumlah skenario yang belum optimal pada era 5G berpotensi ditingkatkan melalui teknologi generasi berikutnya. Infrastruktur 6G juga dipandang penting untuk mendukung interaksi manusia-mesin, komunikasi antagen kecerdasan buatan, dan pengembangan kecerdasan berwujud.
Konsep tersebut mengarah pada ekosistem ketika manusia, robot, kendaraan, perangkat pintar, dan sistem AI dapat berkomunikasi secara lebih cepat dan responsif.
Bangun Basis Demonstrasi
Untuk memperluas basis industri, MIIT juga menyiapkan pembangunan basis demonstrasi nasional.
Tiongkok menargetkan 100 kawasan percontohan dan 1.000 perusahaan demonstrasi terkemuka pada 2035. Program tersebut diarahkan untuk mempercepat penerapan teknologi baru sekaligus mempertemukan penelitian, industri, dan penggunaan nyata.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Beijing melihat 6G sebagai bagian dari strategi industrialisasi jangka panjang, bukan sekadar proyek pengembangan jaringan telekomunikasi.
Menuju Era Industri yang Terhubung
Perjalanan menuju 6G masih membutuhkan sejumlah tahapan. Pengembangan teknologi, standardisasi, pembangunan infrastruktur, kesiapan perangkat, hingga model bisnis harus berjalan secara bersamaan sebelum layanan komersial dapat diterapkan secara luas.
Bagi Tiongkok, penguasaan 6G menjadi bagian dari persaingan untuk menentukan teknologi komunikasi masa depan.
Jika target tersebut tercapai, jaringan generasi keenam tidak hanya menjadi penerus 5G. 6G berpotensi menjadi fondasi yang menghubungkan manusia, mesin, AI, dan industri dalam satu ekosistem digital.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro