Sunardi Ginting Raih Doktoral dengan Nilai Ujian Disertasi A Tanpa Revisi

Yulfi Asmadi • Dipublikasikan Selasa, 7 Juni 2022 | 19:05 WIB
Photo
Photo

Menjadi Doktor Berarti Melayani


 

PONTIANAK - Sidang Terbuka Promosi Doktor merupakan penantian dari peserta program doktoral atau Strata III. Pada Senin (6/6), Program Studi Doktoral Ilmu Manajemen - Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tanjungpura melakukan promosi doktor kepada dua orang, yaitu; Promovendus Sunardi Ginting dan Promovendus Ridwan Tony Hasiholan Pane.

Berlangsung secara tatap muka, Sunardi Ginting berhasil mempertahankan Disertasinya yang berjudul " Pengaruh Perencanaan Pensiun Terhadap Sikap Atas Pensiun Dimediasi oleh Kekayaan Pensiun Kemampuan Beradaptasi Karir dan Faktor Psikososial di Tempat Kerja Pada Karyawan Credit Union Kalimantan Barat".

Nilai A berhasil diraihnya dalam ujian ini, sehingga menambah total IPK-nya menjadi 3,95. Bertindak sebagai promotor dan tim penguji; Prof Dr Eddy Suratman sebagai representative guru besar/penguji, Dr Barkah sebagai ketua sidang sekaligus sebagai Dekan FEB Untan, Dr Maria Christiana I Kalis sebagai sekretaris sidang sekaligus sebagai Ketua Program Doktor Ilmu Manajemen FEB Universitas Tanjungpura Pontianak, Dr Yanki Hartijasti sebagai promotor, Dr Titik Rosnani sebagai Ko-Promotor, Dr Rizky Fauzan sebagai penguji 1, Ilzar Daud, PhD sebagai penguji 2, Dr M Irfani Hendri sebagai penguji 3 dan Dr Ahmad Shalahuddin.

Penelitian ini dilakukannya lantaran melihat hasil riset di Belanda bahwa hanya sedikit pekerja yang mempersiapkan pensiun dengan baik, dan fakta riset bahwa sebagian besar pekerja Indonesia tidak siap menghadapi pensiun. Ditambah lagi tingginya tingkat stres yang dialami karyawan senior saat menjelang pensiun.

"Saya juga menemukan hasil riset yang menyatakan bahwa banyak pensiunan yang hidup kurang sejahtera karena kurangnya perencanaan, dan banyak pekerja meninggalkan lapangan pekerjaan tanpa persiapan yang matang," sebut dia pria 57 tahun ini.

Lewat disertasi ini Sunardi ingin melihat pengaruh langsung atau tidak langsung dari perencanaan pensiun terhadap sikap atas pensiun. Ke depan, penelitian ini akan menjadi bahan pembelajaran betapa pentingnya merencanakan pensiun secara dini, menata pengelolaan keuangan sejak dini, dan membangun hubungan sosial, serta merancang aktivitas pensiun dengan baik.

"Hal ini penting bagi setiap pekerja. Agar ketika mendekati masa pensiun kita bisa lebih siap dan hidup sejahtera di masa pensiun. Pensiun sejahtera bukan berarti memiliki kekayaan yang cukup semata, tapi kita memiliki hubungan sosial yang baik dan tetap memiliki aktivitas mengisi waktu luang mencegah kebosanan," kata dosen Universitas Widya Dharma Pontianak ini.

Menurutnya, menjadi seorang Doktor yang merupakan gelar pendidikan formal tertinggi, bukan untuk gagah-gagahan. Melainkan untuk melayani orang lain.

"Makna Doktor bagi saya adalah pelayanan, karena Tuhan sudah membawa saya sampai ke level setinggi ini, berarti Tuhan mau memakai saya secara lebih lagi, untuk menarik orang-orang yang saya temui ke level yang sama. Saya berharap bisa mewujudkan mimpi ini," sebutnya.

Selain tekat pantang menyerah ada istri anak-anak dan ibu mertua yang sangat mendukung Sunardi Ginting selama menempuh pendidikan S-III ini. Mereka ini adalah motivator dan tiang doa saya, yang yang terus mendukung memotivasi kalau mereka melihat saya mulai kendor. Support dan kesabaran istri paling saya rasakan ketika saya berada pada puncak-puncak kesibukan penyusunan disertasi yang mungkin bagi orang lain tidak masuk diakal, pungkasnya.

Hasil serupa juga diraih Ridwan Tony Hasiholan Pane. ASN di Dinas Kesehatan ini juga berhak menyandang gelar Doktor setelah disertasinya dinyatakan diterima. Dipromotori Prof Dr Djoko Setyadi dan ko promotor Dr Titik Rosnani, pria 49 tahun ini mengambil tema penerapan mutu yang baik di Puskesmas.

"Diharapkan penelitian ini akan meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, meningkatkan kinerja Puskesmas dan tentunya meningkatkan kepuasan kerja tenaga kesehatan," kata dia.

Bagi dia, menempuh pendidikan doktor bagi saya adalah mampu memberi kontribusi kepada tempatnya bekerja dan kepada ilmu pengetahuan. "Dan tentunya inspirasi bagi anak anak saya," sebut dia. Menurutnya, keluarga memegang peranan penting baginya selama menempuh pendudukan. "Keluarga pemegang peranan penting terutama istri dan ibu saya, anak-anak tentunya, Pimpinan saya di kantor, pemimpin Rohani saya dan masih banyak lagi yang tidak mungkin disebut satu persatu," pungkasnya. (ars/ser) Editor : Yulfi Asmadi
Sunardi Ginting Tanpa Revisi Disertasi A Raih Doktoral Nilai Ujian