Oleh : Siti Sulbiyah
Dana Darurat atau emergency fund merupakan bagian dalam konteks perencanaan keuangan (financial planning) yang ditujukan untuk membiayai kebutuhan mendadak (emergency) di masa mendatang. Pemahaman dana seperti ini telah dibahas sejak perkembangan ekonomi Klasik hingga Keynesian, terutama dalam konteks tabungan (saving) dan tujuan memiliki uang.
Dosen FEB Universitas Tanjungpura, Dr. Wendy, M.Sc, menjelaskan tujuan memegang uang setidaknya mencakup tiga hal, yaitu bertransaksi, berinvestasi, dan berjaga-jaga.
“Uang dalam konteks berjaga-jaga dapat diterjemahkan lebih lanjut ke dalam upaya menyiapkan sejumlah dana untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang bersifat insidentil dan tidak terprediksi sebelumnya di masa yang akan datang,” jelas Wendy
Menurutnya, dana darurat memiliki peran sangat penting dalam keluarga, terutama pada saat sedang menghadapi situasi genting (rainy day). Sebut saja seperti musibah kecelakaan, pengobatan karena terserang penyakit tertentu, perbaikan rumah dan biaya hidup pasca bencana alam, kebakaran, PHK, bangkrut, dan berbagai kejadian negatif lainnya.
“Perlu diingat bahwa masa depan penuh dengan ketidakpastian, sehingga apapun bisa terjadi. Untuk itu, cadangan uang dalam bentuk dana darurat sangat diperlukan dalam sebuah keluarga,” ungkap Wendy.
Wendy menjelaskan dana darurat berbeda dengan asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan menggunakan jasa pihak lain, yakni perusahaan asuransi. Proteksi diri dilakukan dengan cara membeli polis asuransi kesehatan. Masa pertanggungan asuransi juga beragam. Misalnya, pembayaran premi untuk pertanggungan satu bulan, satu tahun, atau bahkan seumur hidup seperti jenis asuransi jiwa tertentu. Sementara itu, dana darurat umumnya disimpan dan dikelola sendiri.
Wendy menuturkan untuk menghindari penurunan nilai uang akibat inflasi dan faktor ekonomi lainnya, dana darurat dapat diinvestasikan pada instrumen tertentu. Namun, perlu diingat bahwa dana darurat sifatnya insidentil sehingga harus dapat segera dicairkan pada saat dibutuhkan.
“Dengan demikian, instrumen investasi yang dipilih sifatnya juga harus sangat liquid (lancar, red), sehingga dapat dicairkan kapan saja menjadi uang tunai,” jelas dia.
Wendy menilai dana darurat tidak cocok ditempatkan pada obligasi (surat utang), deposito berjangka panjang, saham-saham berisiko dan tidak liquid, perdagangan berjangka (forex, gold, dan transaksi komoditas lainnya) dengan tingkat risiko sangat tinggi, maupun tanah dan properti yang sulit dijual dengan segera. Paling sederhana, dana darurat dapat ditempatkan pada logam mulia (emas 24 karat) yang bersertifikat resmi. Umumnya, logam mulia mudah dijual dan nilainya stabil meskipun perekonomian bergejolak.
Namun, bagaimana bila gaji hanya pas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Menurut Wendy, permasalahan ini dapat dimediasi dengan mengubah mindset individu. Umumnya orang menabung ketika ada sisa uang, dan biasanya hampir tidak dijumpai adanya sisa uang di setiap akhir bulan. Demikian juga, seorang anak yang ingin memberi uang pada orang tuanya, tetapi setiap bulan, uangnya selalu habis. Kondisi ini dapat terjadi karena menabung ditempatkan pada urutan terakhir dalam pengeluaran rumah tangga.
“Coba sesekali dibalik, setiap terima gaji, 10-15 persen disimpan untuk dana darurat, dan dilakukan secara harus disiplin. Sisanya baru digunakan untuk kebutuhan rumah tangga,” tutur dia.
Wendy menambahkan kebutuhan bisa muncul karena gaya hidup. Ketika individu memegang uang dalam jumlah tertentu, selalu ada dorongan psikologi untuk membelanjakannya.
“Untuk mengatasi ini, lakukan pola terbalik, tabung dulu, sisanya baru untuk keperluan bulanan, termasuk mengalokasikan sejumlah uang untuk orang tua pada saat menerima gaji,” pungkas Wendy. ** Editor : Ari Aprianz