Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Terancam Tembus Rp17.400 per USD, Dampak Konflik Iran–AS

A
Ilustrasi penukaran Rupiah dengan Dolar AS.
Ilustrasi penukaran Rupiah dengan Dolar AS.

Advertisement

 

PONTIANAK POST - Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan setelah memanasnya konflik Timur Tengah menyusul gagalnya perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat.

Situasi geopolitik tersebut mendorong penguatan dolar AS dan berpotensi menekan rupiah hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar AS.

Advertisement

Pada penutupan perdagangan Senin (13/4/2026), rupiah berada di level Rp17.122 per USD atau melemah tipis dibanding posisi Jumat (10/4) yang berada di Rp17.112 per USD.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Advertisement

Menurutnya, pelaku pasar global kini cenderung memburu dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Hal itu terlihat dari indeks dolar AS yang melonjak dari kisaran 98,6 menjadi di atas 99.

Di saat yang sama, harga minyak mentah dunia jenis WTI juga melonjak hingga menembus USD 104 per barel.

“Jika konflik di Selat Hormuz benar-benar memanas, rupiah berpotensi menuju Rp17.400 per dolar AS. Padahal sebelumnya proyeksi itu baru terjadi di akhir tahun,” ujarnya.

Advertisement

Artikel Terkait

ICP Tembus US$112 per Barel, Ancaman Harga Energi Merembet ke APBN dan BBM

ICP Tembus US$112 per Barel, Ancaman Harga Energi Merembet ke APBN dan BBM

Ketegangan AS-Iran Ganggu Pasokan, Selat Hormuz Jadi Titik Rawan Perdagangan Minyak Dunia

Rupiah Dekati Rp18 Ribu, BI Perkuat Intervensi

Rupiah Dekati Rp18 Ribu, BI Perkuat Intervensi

Rupiah tertekan mendekati Rp18 ribu per dolar AS akibat lonjakan harga minyak, kenaikan yield obligasi AS, dan meningkatnya kebutuhan valas.

Prediksi IHSG Pekan Ini: Masih Konsolidasi, Dibayangi Inflasi AS dan Harga Minyak

Prediksi IHSG Pekan Ini: Masih Konsolidasi, Dibayangi Inflasi AS dan Harga Minyak

IHSG berpeluang menguat terbatas, tetapi inflasi AS, minyak di atas USD 100, dan jual bersih asing masih membayangi pasar.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer