
PONTIANAK POST — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan menyentuh level psikologis Rp18 ribu per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9). Tekanan datang bersamaan dari lonjakan harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), arus modal portofolio, serta meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) importir menjelang akhir kuartal III.
Rupiah dibuka sekitar Rp18.001 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB dan sempat bergerak ke kisaran Rp18.020 pada perdagangan pagi. Level tersebut lebih lemah dibandingkan JISDOR Bank Indonesia pada Senin (28/9) yang berada di Rp17.965 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan rupiah terutama dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal.
Harga minyak sempat menembus USD108 per barel ketika harapan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz memudar. Ketegangan di jalur strategis minyak dunia tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi.
’’Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas USD108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz,’’ kata Erwin, Selasa (29/9).
Minyak Dorong Yield AS
Lonjakan minyak bukan hanya persoalan energi. Harga minyak yang tinggi kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi di AS dan negara-negara lain.
Pasar kemudian memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve harus mempertahankan atau bahkan kembali memperketat kebijakan moneternya.
Dampaknya terlihat pada pasar obligasi. Imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun melonjak hingga sekitar 5,23 persen, level tertinggi sejak 2007. Pada perdagangan Senin, yield bahkan sempat mencapai sekitar 5,27 persen sebelum turun kembali.
’’Kondisi ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut,’’ ujar Erwin.



