Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Banyak Negara Tawarkan Diri, Indonesia Harus Cermat Memilih Mitra PLTN

A
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung berbasis kapal tongkang. Teknologi yang dikembangkan Rusia melalui Akademik Lomonosov tersebut menjadi salah satu opsi pembangkit modular yang dikaji sejumlah negara untuk mendukung pasokan listrik rendah emisi dan ketahanan energi jangka panjang. ILUSTRASI/AI
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung berbasis kapal tongkang. Teknologi yang dikembangkan Rusia melalui Akademik Lomonosov tersebut menjadi salah satu opsi pembangkit modular yang dikaji sejumlah negara untuk mendukung pasokan listrik rendah emisi dan ketahanan energi jangka panjang. ILUSTRASI/AI

Advertisement

 

PONTIANAK POST – Indonesia perlu cermat memilih mitra asing dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Selain mempertimbangkan teknologi dan biaya, kerja sama dengan negara pemasok harus memperhatikan aspek keamanan serta kepentingan strategis nasional.

Dosen Departemen Manajemen Bisnis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Gogor Arif Handiwibowo menyoroti tawaran teknologi PLTN dari sejumlah negara, mulai Rusia, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Amerika Serikat hingga Kanada.

Advertisement

Menurut dia, Indonesia perlu berhati-hati menentukan mitra karena teknologi nuklir merupakan sektor yang sensitif. Pilihan kerja sama akan berpengaruh terhadap arah pengembangan energi nasional dalam jangka panjang.

Di sisi lain, diversifikasi energi menjadi kebutuhan untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara. Dosen ITS tersebut menyebut sekitar 60 persen pasokan listrik nasional masih ditopang pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Sementara itu, cadangan batu bara diperkirakan akan habis dalam sekitar 30 tahun ke depan.

“Batu bara Indonesia juga punya masa. Kalau selama 30 tahun kita enggak punya diversifikasi energi yang lain, habis juga kita. Apalagi, Indonesia punya komitmen net zero emission tahun 2060,” ujarnya dalam diskusi kelompok terarah (focus group discussion) di Surabaya, Selasa (27/10).

Advertisement

Guru Besar Bidang Pengoperasian Sistem Tenaga Listrik ITS Rony Seto Wibowo menambahkan, pengembangan PLTN juga perlu mempertimbangkan keseimbangan sistem kelistrikan. PLTN dirancang sebagai pembangkit beban dasar (baseload) yang memasok listrik secara stabil, sedangkan energi surya dan angin memiliki produksi yang berubah-ubah mengikuti kondisi alam.

Karena itu, sistem kelistrikan membutuhkan pembangkit fleksibel, seperti pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), untuk menyesuaikan pasokan ketika produksi energi terbarukan berfluktuasi.

Dengan demikian, keputusan mengembangkan PLTN tidak hanya menyangkut pemilihan teknologi dan negara pemasok, tetapi juga kesiapan sistem kelistrikan serta strategi energi Indonesia dalam jangka panjang. (had/bil)

Advertisement

Artikel Terkait

Pertemuan AS-China: Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Harus Terbuka

Pertemuan AS-China: Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Harus Terbuka

Presiden Trump dan Xi Jinping sepakat jaga Selat Hormuz tetap terbuka demi energi global. Keduanya juga bahas ekonomi dan isu fentanyl.

Proyek PLTN Makin Serius: Siapkan Tapak dan Tender, Pemerintah Kaji Sejumlah Lokasi

Proyek PLTN Makin Serius: Siapkan Tapak dan Tender, Pemerintah Kaji Sejumlah Lokasi

Ketahanan energi bukan sekadar soal menjaga lampu tetap menyala, melainkan keberanian sebuah bangsa menyiapkan pilihan hari ini agar generas

PLTN Tak Lagi Jadi Opsi Terakhir, Indonesia Target Operasikan Pembangkit Nuklir Pertama pada 2032

PLTN Tak Lagi Jadi Opsi Terakhir, Indonesia Target Operasikan Pembangkit Nuklir Pertama pada 2032

Pemerintah menargetkan PLTN pertama Indonesia beroperasi pada 2032 sebagai bagian transisi energi bersih menuju Net Zero Emission.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer