Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Atong, Produsen Minuman Lidah Buaya yang Tersisa di Pontianak Utara

Misbahul Munir S • Minggu, 25 Juni 2023 | 10:09 WIB
Atong, pengusaha minuman lidah buaya Hovera. (Syahriani/Pontianak Post)
Atong, pengusaha minuman lidah buaya Hovera. (Syahriani/Pontianak Post)

Kerap dijadikan bahan kosmetik dan perawatan kulit, di Pontianak tanaman lidah buaya (Aloe vera) justru dijadikan minuman segar pelepas dahaga. Rasanya manis dengan isian daging yang kenyal meyerupai gel, minuman lidah buaya dijadikan oleh-oleh khas Pontianak.


Syahriani Siregar, Pontianak


Pontianak Utara menjadi sentra lidah buaya terbesar di Pontianak, banyak lahan dan pabrik olahan lidah buaya di daerah tersebut. Hovera salah satunya. Pabrik yang berada di Jalan Kebangkitan Nasional, Siantan Hulu, tampak sibuk ketika dikunjungi pada pagi hari beberapa waktu lalu.


Para pekerja yang didominasi ibu-ibu itu sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang sedang mencuci daging lidah buaya, memasak air gula, menuang ke dalam bungkusan dan ada pula yang mengepak. Sebanyak 200 kotak minuman lidah buaya siap dipasarkan.


Varian leci menjadi produk unggulan dan satu-satunya di Hovera. Pemasaran tentu saja ke tempat oleh-oleh khas Pontianak dan para reseller yang membeli untuk menjualnya kembali. Lidah buaya Hovera dijual Atong dengan harga Rp12.000 per batang.




Photo
Photo
Produk olahan lidah buaya Hovera. (Syahriani/Pontianak Post)

Satu minggu biasanya bisa memproduksi satu ton lidah buaya, sekitar 200 kotak. Satu kotak isinya empat batang, sementara satu batang isinya lima bungkus kecil,” jelas Bong Jitong, pemilik Hovera.


Berdiri sejak tahun 2008, industri rumahan lidah buaya Hovera menjadi salah satu yang mampu bertahan di tengah gempuran semakin menyempitnya lahan lidah buaya di Kalimantan Barat. Bong Jitong atau yang akrab disapa Atong (61) mengaku banyak mengalami pasang surut selama 15 tahun ia membuka usaha.


“Dulu tahun 2000-an awal lahan lidah buaya di sini ada 200 hektar, sekarang hanya tersisa sekitar 10 hektar saja,” ungkap Atong.


Hal itulah yang menyebabkan banyaknya pabrik lidah buaya yang tutup apalagi semenjak Covid-19. Dari sepuluh pabrik yang ada di Pontianak Utara, kini tersisa tiga pabrik rumahan, salah satunya pabrik mini yang dimiliki Atong.


Setidaknya pabrik mini Hovera Atong menyerap enam pekerja yang merupakan warga sekitar. Salah satunya Asnawati (53) yang sudah bekerja selama 13 tahun. Perempuan yang tinggal di dekat SMPN 28 Jalan 28 Oktober ini sudah bekerja sejak usia anaknya masih 4 tahun. Kini anak laki-lakinya tersebut sudah berusia 17 tahun dan juga menjadi karyawan di pabrik Hovera.


Semua bisa dikerjakan oleh Asnawati. Pengalaman belasan tahunnya menjadi pembuat minuman lidah buaya membuatnya gesit dan tak butuh waktu lama dalam pengerjaan.




Photo
Photo
Asnawati (kanan) beserta pekerja lainnya sedang membungkus lidah buaya. (Syahriani/Pontianak Post)

“Sekali pengerjaan bisa 200-300 kotak, tergantung pemesanan. Tidak setiap hari bekerja, tapi dalam setiap minggu tetap ada pengerjaan. Yang banyak permintaan biasanya bulan puasa,” ujar Asnawati.


Jarak rumahnya yang dekat dengan tempat bekerja membuat Asnawati betah dan bertahan. Sebagai ibu tunggal yang sudah tidak memiliki suami ia harus membiayai hidupnya dan anak-anaknya setiap hari. Hal itu pula yang membuat anak laki-lakinya ikut membantu di pabrik.


“Saya bekerja di sini dari gaji masih 10 ribu per hari sekarang sudah 70 rb per hari. Dari gaji itulah saya membiayai hidup kami sekeluarga. Syukurnya anak-anak saya sudah ada yang bekerja juga,” ceritanya.




Photo
Photo
Putra Asnawati yang berusia 17 tahun juga ikut membantu pekerjaan di pabrik Hovera. (Syahriani/Pontianak Post)

Atong, yang juga memiliki lahan lidah buaya sekaligus petani Bentasan ini mengungkap kriteria lidah buaya seperti apa yang bagus untuk pengolahan menjadi minuman. Menurut Atong lidah buaya yang baik untuk olahan adalah yang tidak terlalu muda sehingga dagingnya tidak terlalu lembut untuk diolah, namun jangan pula yang tertalu tua karena dagingnya akan terlalu sulit untuk diambil.


Sebelum membuka pabrik Hovera, Atong rutin mengirim komoditas pelepah lidah buayanya ke Jakarta yaitu ke PT Aloe Vera Indonesia dan pabrik-pabrik besar lainnya. Petani Pontianak menjadi pemasok aloe vera terbesar kala itu. Namun sejak tahun 2008, tidak ada pemesanan lagi bahkan banyak yang tutup. Dengan lahan lidah buaya yang ada dan komoditas yang masih melimpah, Atong memutuskan merintis Hovera, pabrik olahan minuman aloe vera. Sudah 15 tahun, Atong masih bertahan walau sudah jatuh bangun dengan pasar yang kadang lesu, kadang bangkit pula.**

Editor : Misbahul Munir S
#lidah buaya #aloe vera #UMKM #bri #siantan