Masa Depan di Ujung Jari: Remaja Kalbar dalam Bayang-Bayang Game dan Judi Slot ?
Setiap tanggal 12 Agustus, dunia merayakan Hari Remaja Internasional, sebuah momen merayakan masa muda, semangat, prestasi, mimpi-mimpi dan potensi besar dalam diri para pemuda dan pemudi Indonesia. Hanya saja, dari balik dinding perayaan tersebut, tersembunyi realitas mengkhawatirkan. Sebagian remaja masih terjerat dalam permainan dunia game dan perjudian daring, termasuk di Kalimantan Barat (Kalbar). Seperti apa sebagian remaja ini, merayakannya ?
Deny Hamdani, Pontianak
MENTARI perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan jejak-jejak jingga mempesona. Medy-nama samaran seorang remaja dari Kota Pontianak, terlihat asyik dengan dunianya. Di sudut kecil kamarnya yang sederhana, dan ditemani sinar layar ponsel, ia terbenam dalam permainan yang dirancang oleh para developer game ternama. Hari Remaja Internasional yang jatuh pada tanggal 12 Agustus, bagi Medy, bukan sekadar perayaan. Bukan pula sekadar hari tercatat di kalender. Ini adalah hari ketika ia bisa mengekspresikan dirinya, bebas dari hiruk-pikuk dunia nyata.
Medy, seperti banyak remaja lain di seluruh penjuru dunia, tumbuh di tengah era digital yang berkembang pesat. Internet, media sosial, dan game online bukan sekadar hiburan baginya, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupannya sehari-hari. Di dunia virtual, Medy seperti menemukan kebebasan, yang sering kali sulit diraih di dunia nyata. Ia berkelana dari satu dunia digital ke dunia lainnya, merajut mimpi dan cita-cita yang entah kapan bisa diwujudkannya.
Namun, di balik gemerlap dan keseruan game daring, ada bayangan gelap yang sering kali tak disadari banyak remaja. Di sisi lain dari layar yang sama, beberapa remaja tergelincir ke dalam lubang hitam bernama perjudian daring . Slot digital yang menggiurkan dengan janji-janji kemenangan besar, kerap menjadi perangkap dalam mencari keberuntungan instan. Dengan sekali klik, mereka terjebak dalam siklus tanpa akhir, yang hanya memberikan janji-janji palsu dan kekecewaan. "Iya, saya tidak tahu apa itu hari Remaja Internasional. Tahunya saya main game dan ngeslot bang," katanya saat ditemui jurnalis di rumahnya.
Bagi pria yang masih berkuliah ini, Hari Remaja Internasional hanya hari-hari biasa. Medy tetap kuliah, ke kafe (warkop) untuk sekedar kongkow-kongkow kemudian pulang ke rumah. Setelah itu melihat kembali layar gawai pribadi, merek terkenal. Di situ, dia seperti menemukan kepuasan berselancar, bermain game atau sekedar membuka permainan yang dilarang undang-undang. Medy terus mencari jati dirinya dalam dunia daring.
Buat Medy, teknologi memberikan banyak peluang dan kemudahan. Namun di sisi lain, teknologi bisa menjadi pedang bermata dua. Medy dan remaja lain membutuhkan arahan yang bijak agar mereka bisa memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif, dan bukan terjerumus ke dalam bahaya yang mengintai di dunia maya.
Sejarah Hari Pemuda Internasional Pertama
Pada tahun 1999, Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa mengesahkan rekomendasi Konferensi Dunia Menteri Pemuda (Lisbon, 8-12 Agustus 1998) agar tanggal 12 Agustus ditetapkan sebagai Hari Pemuda Internasional (A/RES/54/120).
Selama dua dekade terakhir, perayaan tahunan Hari Pemuda Internasional telah meliput beragam tema yang relevan dengan generasi muda, mulai dari ketahanan pangan dan kesehatan mental hingga antargenerasi solidaritas dan keterampilan ramah lingkungan, menyoroti hubungan penting antara pemuda dan pembangunan berkelanjutan.
Hari Pemuda Internasional diperingati setiap tahun pada tanggal 12 Agustus, mengangkat isu-isu pemuda menjadi perhatian masyarakat internasional dan merayakan potensi pemuda sebagai mitra dalam masyarakat global saat ini
Untuk tahun 2024, Tema Hari Pemuda Internasional dilansir dari situs resmi PBB, adalah "From Clicks to Progress: Youth Digital Pathways for Sustainable Development" atau "Dari Klik Menuju Kemajuan: Jalur Digital Pemuda Menuju Pembangunan Berkelanjutan".
Tema ini menyoroti hubungan utama antara digitalisasi dan percepatan kemajuan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yang menekankan kontribusi penting kaum muda dalam proses transformatif ini.
Meskipun kesenjangan digital masih ada, khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah yang sering kali memiliki akses lebih sedikit ke internet, kaum muda sering dianggap sebagai "penduduk asli digital", karena mereka berada di garis depan dalam mengadopsi dan berinovasi dengan teknologi baru.
Mereka merupakan kelompok demografi pengguna dan pengembang terbesar yang membentuk tren digital secara global. Seiring dengan semakin dekatnya tenggat waktu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada tahun 2030, kaum muda tetap menjadi kelompok demografi penting dalam memanfaatkan kekuatan transformatif teknologi untuk mengatasi tantangan global.
Dalam rangka memperingati Hari Pemuda Internasional 2024, Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN DESA) berkolaborasi dengan mitra utama, termasuk International Telecommunication Union (ITU), Program Pemukiman Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN-Habitat), dan UN Internet Governance Forum (IGF). Bersama-sama, kemitraan ini akan menyoroti potensi transformatif solusi digital yang digerakkan oleh pemuda dalam memajukan pembangunan berkelanjutan.
Triwulan Pertama 2024 Capai Rp 600 Triliun, Perputaran Uang Judi Daring
Entah berhubungan atau tidak, ekspresi berselancar para remaja di dunia maya ternyata memunculkan kabar kurang sedap. Beberapa waktu lalu, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga melaporkan perputaran uang judi online di Indonesia terus meningkat berdasarkan catatan dalam kurun tiga tahun terakhir.
PPATK melaporkan, dalam kurun tiga tahun terakhir perputaran uang judi online di Indonesia terus meningkat. Koordinator Humas PPATK Natsir Kongah mengatakan peningkatan tersebut diketahui berdasarkan catatan laporan transaksi keuangan mencurigakan yang diidentifikasi antara 2021 hingga 2023.
Natsir mengatakan, pada 2021 PPATK mendeteksi ada Rp 57 triliun perputaran uang untuk judi daring. Jumlah tersebut melonjak 42,11 persen pada 2022 menjadi Rp 81 triliun. Kenaikan secara jor-joran terjadi pada 2023 menjadi Rp 327 triliun atau melambung tinggi setara 303,70 persen. Bahkan dalam triwulan pertama 2024, kenaikannya pun tak kalah signifikan.
“Masuk di 2024 triwulan pertama ini sudah Rp 600 triliun,” kata Natsir dalam diskusi daring pertengahan Juni 2024 ini.(**)
Editor : A'an