Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

El-Mesaharaty, Pasukan Pembangun Sahur Cilik Pengisi Tradisi Religi Ramadhan Dari Abad Terdahulu

A'an • Minggu, 16 Maret 2025 | 13:34 WIB

 

Anak-anak dari Surau Al-Ikhwan saat membangunkan sahur di Komplek Staradis Residence-Villa Sejahtera III, Jalan Adisucipto.
Anak-anak dari Surau Al-Ikhwan saat membangunkan sahur di Komplek Staradis Residence-Villa Sejahtera III, Jalan Adisucipto.

Di tengah malam sunyi jelang subuh, suara merdu sekelompok anak-anak terdengar memecah keheningan. Saling bersahutan diiringi bunyi-bunyian campuran alat perkakas rumah tangga. Kalimat pujian-pujian berlafazkan Alquran menyeruak keluar dan terdengar merdu. Memuji kebesaran nama Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Bukan burung pagi yang berkicau, melainkan seruan penuh semangat dari sekelompok anak-anak cilik berbalut sarung dan peci. Mereka adalah El-Mesaharaty yunior, pasukan pembangun sahur cilik tradisional yang telah menjadi bagian penting dari tradisi Ramadan 1446 Hijriah di Arang Limbung (Kampung Arang), Sungai Raya, Kubu Raya. Gerombolan anak-anak ini sedang membangunkan puluhan sampai ratusan masyarakat guna bersantap sahur, sebelum masuk waktu Imsak (subuh). Seperti apa kegiatan mereka ?


DENY HAMDANI-KAMPUNG ARANG

 

Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, anak-anak berumur muda dari Surau Al-Ikhwan di Komplek Staradis Residence-Villa Sejahtera III, Jalan Adisucipto Km12,6, kembali bertugas sebagai “pembangun sahur”. Mereka berkeliling jalan komplek hingga gang sempit dengan alat musik sederhana. Ada pemekik suara dari suara , eks alat-alat dan perkakas rumah tangga dan lainnya mengiringi lantunan ayat suci Al-Quran. Tradisi yang telah ada sejak abad-abad silam ini tidak hanya membangunkan warga untuk makan sahur, tetapi juga menghidupkan semangat ibadah di bulan suci Ramadan

"Untuk pasukan pembangun sahur cilik alias El-Mesaharaty cilik, rata-rata bergerak karena ingin cari pahala di subuh hari. Mereka biasanya kembali aktiv pada Ramadhan 1446 Hijriah ini (2025). Hampir mayoritas usia anak-anak sekolah dari yang terkecil hingga terbesar. Mereka dibekali kemampuan membaca Al Quran dan dibekali peralatan sederhana saja," ucap Ibrahim, remaja senior pengurus Surau Al-Ikhwan Komplek Staradis Residence-Villa Sejahtera III Jalan Adisucipto Km 12,6 di Desa Arang Limbung (Kampung Arang), Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Menurutnya, memang sudah jadi kebiasaan beberapa tahun belakangan di surau ini sengaja menyiapkan pasukan pembangun sahur. Tujuannya memang membangunkan sahur tetapi dengan bunyi-bunyian merdu diiringi bacaan alquran. "Kami, mengambil tradisi tempo dulu dan terus melestarikannya sampai sekarang," kata Ibrahim.

Para El-Mesaharaty junior ini biasanya tidur di rumah ibadah seperti Surau atau Masjid, di lingkungan tempat tinggal mereka. Kemudian pada jam tertentu, bangun, berwudhu kemudian rombongan berjalan-jalan di sekitaran kampung pada waktu dini hari. Mereka membawa alat musik tradisional seperti tabuh dan rebana, dan obor sebagai tanda bahwa Ramadhan telah tiba. Mereka membaca ayat-ayat suci Al-Quran dengan suara merdu, yang diiringi oleh alunan musik yang khas.

Tradisi ini membawa makna yang dalam bagi masyarakat kampung. Selain membantu warga setempat memulai ibadah puasa dengan semangat yang tinggi, tradisi El-Mesaharaty juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial dan kebersamaan di antara masyarakat kampung. Banyak orang di kampung-kampung,  menantikan kehadiran El-Mesaharaty pada bulan Ramadhan. Mereka tidak hanya menunggu mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran yang dibacakan, tetapi juga menunggu momen kebersamaan yang tercipta saat El-Mesaharaty melewati rumah mereka. Warga kampung seringkali memberikan makanan atau minuman kepada El-Mesaharaty sebagai bentuk rasa terima kasih atas semangat dan kegembiraan yang telah mereka bawa.

Memang cerita El-Mesaharaty, Pasukan Pembangun Sahur dengan ayat-ayat suci Al-Quran sudah muncul berabad-abad silam di luaran sana. Gelar mereka inspiratif dan kerap terabaikan, namun menjadi sosok penting dalam tradisi Ramadhan di berbagai negara termasuk di Indonesia dan Kalimantan Barat. Dengan keterampilan baca Al-Quran yang merdu dan kiprah mereka yang berjalan di sepanjang gang-gang kecil, pasukan ini berhasil membangunkan ribuan orang untuk makan sahur dan bersiap-siap untuk memulai puasa.

Sebenarnya tugas sebagai El-Mesaharaty sangat mulia. Sebab, menghidupkan semangat umat Muslim untuk memulai ibadah puasa. Pasukan Pembangun Sahur memang telah menjadi bagian dari tradisi Ramadhan di berbagai negara. Dari negara semacam Mesir, Turki, Suriah, Libanon, Yaman, Arab hingga Indonesia. Asal-usul tradisi ini memang masih diperdebatkan. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa kebiasaan ini berasal dari Mesir pada abad ke-10.

Baca Juga: Karunia Allah untuk Umat Nabi Muhammad

Di Mesir sendiri, El-Mesaharaty adalah orang-orang yang mengenakan pakaian tradisional dan membawa drum kecil untuk membangunkan warga setempat bersantap sahur. Di Turki, sendiri El-Mesaharaty dikenal dengan nama Davulcu. Biasanya berjalan mengelilingi kampung sambil memainkan drum besar.
Nah, di Negara semacam Suriah, tradisi El-Mesaharaty biasanya melibatkan anak-anak berpakaian tradisional dengan membawa lentera. Mereka berjalan menyinggahi rumah ke rumah untuk membangunkan warga setempat bersantap sahur.

"Meski memiliki perbedaan dalam tampilan dan cara pelaksanaan, tradisi El-Mesaharaty memiliki makna sama, yaitu menghidupkan semangat umat Muslim memulai ibadah puasa dengan membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Kehadiran El-Mesaharaty telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi dan sejarah Ramadan di banyak negara. Mereka juga dihargai sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan pantang menyerah sebelum umat muslim sadar dari tidurnya," kata Ustadz Miftah, penceramah sekaligus Da'i Kalbar ini bercerita.

Menurutnya tradisi religi El-Mesaharaty, merupakan momen penting dalam mempererat hubungan sosial dan kebersamaan di antara warga setempat. Selain itu, juga bertujuan membantu menghidupkan semangat umat Muslim bersantap sahur. El-Mesaharaty juga membantu menjaga kesehatan tubuh dan mental di bulan Ramadhan.

Meski tradisi El-Mesaharaty, telah berlangsung selama ratusan tahun. Tantangan dalam menjaga keberlangsungan tradisi religi ini semakin besar. Namun, dengan semangat kuat dan tekad  tinggi, skuad El-Mesaharaty biasanya akan jalan terus membangunkan warga setempat dan menghidupkan semangat beribadah di bulan Ramadhan.

Bahkan di beberapa negara, ucapnya, mengembangkan teknologi membantu tradisi El-Mesaharaty tetap berlangsung. Salah satunya mempergunakan aplikasi yang memungkinkan para pemilik ponsel  membunyikan suara merdu  menyerupai suara El-Mesaharaty pada waktu-waktu tertentu. "Tidak dapat dipungkiri pentingnya peran El-Mesaharaty dalam tradisi Ramadan dan keberlangsungan tradisi ini di masa depan harus diperhatikan. Para pelestari tradisi harus memikirkan bagaimana cara untuk melestarikan peran penting El-Mesaharaty dan menjaga agar tradisi ini tetap hidup di generasi berikut," kata Miftah.

Nah, lanjutnya, kepada para penikmat santap Sahur atau disebut dari berbagai negara dengan nama Sehur, Sehri, Sahari atau Suhoor dalam sejumlah bahasa, bisa menjadi salah satu bagian penting sepanjang bulan Ramadhan. Sahur mengacu pada aktivitas makan pada dini hari sebagai persiapan menjalankan ibadah puasa.
"Selama bulan puasa, Sahur dan Iftar, makan malam, menjadi pengganti jadwal makan tiga kali sehari, yang biasa terjadi di luar bulan Ramadan. Sahur biasa dilakukan pada sepertiga malam dan berakhir saat azan subuh berkumandang. Nah, peranan penting El-Mesaharaty sangat kental di sana," ucap dia.

Mengenai hal tersebut salah satu nas berbunyi. "Bersahur itu adalah suatu keberkahan. Maka, janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air, karena Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-orang yang bersahur (makan sahur) dinukil dari HR. Ahmad," ucapnya.

Di Kampung Arang sebutan masyarakat yang tinggal di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat membangunkan sahur sudah menjadi tradisi Islam. El-Mesaharaty di daerah ini mengacu tidak hanya pada anak-anak saja. Ada peran serta orang dewasa, yang berjalan di sekitar suatu daerah sambil menabuh genderang dan melantunkan ayat-ayat suci. "Hampir di beberapa titik wilayah sepanjang gang, jalan, desa dan wilayah pasti ada El-Mesaharaty. Namun umumnya terdiri dari anak-anak. Mereka bergembira sekali. Pun demikian pada puasa tahun 2025 ini, para El-Mesaharaty cilik ini sudah disiapkan para pengurus surau atau masjid termasuk di Kampung Arang," kata Sapardi, pengurus Masjid Radhiyatum Mardhiyah.

Dari ensikkoledia www.emirates247.com menukilkan bahwa El-Mesaharaty sebenarnya sudah dikenal sejak masa Dinasti Abbasiyyah di bawah kepemimpinan Khalifah Al Nasser dari Mesir. Saat itu kiprah Pasukan Pembangun Sahur begitu populer di kalangan anak-anak. Anak-anak akan mengikuti kemana El-Mesaharaty berkeliling, walaupun hanya dengan berjalan kaki. Bahkan kesetiaan anak-anak begitu tinggi. Para bocah akan terus membuntuti para penabuh genderang atau pelantun syair-syair religi sampai selesai berkeliling.

Dalam perjalanan waktu, kebiasaan membangunkan masyarakat muslim bersantap sahur terus berkembang ke wilayah lain. Ada El-Mesaharaty special, berkeliling di jalanan ibu kota Mesir selama Ramadan, sambil melantunkan panggilan puitis. Kata-katanya puitis dengan kalimat-kalimat indah. "Oh! Barang siapa masih yang tertidur, mari bangun dan berdoa kepada Allah SWT," begitu salah satu bunyi tersebut.
Menariknya, seruan puitis diinisiasi para penguasa Mesir waktu itu, Otbah Ibn Ishaq. Dia menjadi orang pertama melakukan tur di jalanan Kairo selama satu bulan Ramadhan. Sungguh sebuah keutamaan seorang pemimpin muslim. Hanya memang pemandangan tersebut, terus berkembang tidak hanya muncul di Mesir. El-Mesaharaty terus berkembang di berbagai negara muslim.

Di Negara Islam Oman misalnya, El-Mesaharaty sampai sekarang masih beraksi dengan menabuh genderang membangunkan orang bersahur. Di Kuwait, Abu Tablyah, menjadi El-Mesaharaty pertama memilih jalan melantunkan doa, kemudian diulangi anak-anak saat berjalan keliling.

El-Mesaharaty pertama di Yaman dikabarkan mempergunakan tongkat guna memukul pintu orang. Di Sudan, El-Mesaharaty ditemani seorang anak dan akan berjalan keliling sambil memanggil nama setiap orang pada setiap rumah yang dilewati.

Di negara muslim semacam Suriah, Lebanon, dan Palestina pola bersiul menjadi pilihan El-Mesaharaty. Di Indonesia, khususnya di Sungai Raya, peranan El-Mesaharaty diwujudkan dalam berbagai bentuk. Umumnya membunyikan perkakas bekas rumah tangga. Ada juga sebagian warga memilih menggunakan alat musik tradisional seperti toa surau atau masjid, gendang, rebana, dan lain sebagainya. Tidak hanya mengandalkan bunyi instrumen, harmoni nada dihasilkan terkadang begitu menggoda mulut untuk ikut berdendang. Ada juga dari rumah ibadah dalam gang, komplek, jalan dan desa memakai speaker atau TOA rumah ibadah.

El-Mesaharaty, jembatan penghubung kehidupan religius dan sosial masyarakat. Dalam banyak hal, El-Mesaharaty menjadi jembatan yang menghubungkan antara kehidupan religius dan sosial di masyarakat kampung. Mereka membantu memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas diantara warga, serta membawa semangat kebaikan dan keberkahan di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, tradisi El-Mesaharaty tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kampung di berbagai negara, meskipun telah mengalami perubahan dan modernisasi dalam perkembangan zaman.

Di beberapa negara, El-Mesaharaty juga memiliki tanggung jawab untuk mengumpulkan sumbangan dari warga kampung untuk disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan, terutama pada bulan Ramadhan. Sumbangan yang terkumpul kemudian dibagikan ke orang-orang yang kurang mampu atau kepada anak-anak yatim piatu.

El-Mesaharaty,  juga memiliki peran penting dalam membantu masyarakat kampung membangun kebersamaan dan solidaritas. Tak jarang, tradisi El-Mesaharaty menjadi momen yang dinantikan dan disambut dengan meriah oleh warga setempat. Mereka membangkitkan semangat untuk sahur dan menjaga kebersamaan dalam memulai ibadah di bulan suci Ramadhan.

Dalam dunia yang semakin modern era sekarang, tradisi El-Mesaharaty mungkin tak terlalu sering ditemui. Namun, para pelestari tradisi dan para penggemar setia El-Mesaharaty memastikan bahwa tradisi ini tetap hidup dan diteruskan ke generasi berikut. Mereka adalah orang-orang yang membawa semangat dan kegembiraan dalam memulai ibadah puasa dengan membaca ayat-ayat suci Al-Quran.

Di kampung-kampung, tradisi El-Mesaharaty masih sangat kental. Mereka yang menjadi El-Mesaharaty biasanya adalah warga setempat yang telah lama tinggal di kampung tersebut dan telah memperoleh kepercayaan dari masyarakat setempat.(*)

Editor : A'an
#KAMPUNG ARANG #ramadan #sahur keliling #El-Mesaharaty