Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pontianak Perkuat Tata Kelola Risiko Banjir Lewat Pendekatan Ilmiah dan Partisipatif

Novantar Ramses Negara • Kamis, 22 Januari 2026 | 13:56 WIB

Pengunjung menyaksikan foto yang ditampilkan dalam Pameran Photovoice bertajuk "Mata Warga Memaknai Risiko Banjir Pontianak" Desember 2025 lalu.
Pengunjung menyaksikan foto yang ditampilkan dalam Pameran Photovoice bertajuk "Mata Warga Memaknai Risiko Banjir Pontianak" Desember 2025 lalu.


PEMERINTAH Kota Pontianak bekerja sama dengan berbagai mitra akademik dan organisasi masyarakat memperkuat tata kelola risiko banjir melalui pendekatan berbasis data, partisipatif, dan berorientasi jangka panjang.

Kolaborasi ini mendapat dukungan teknis dari Proyek Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability (FINCAPES) sebagai langkah strategis menghadapi tantangan banjir yang kian kompleks. Upaya tersebut mencakup penguatan basis ilmiah perencanaan, peningkatan keterlibatan masyarakat, serta pengembangan instrumen perencanaan keuangan untuk menghadapi dampak banjir.

Proyek FINCAPES dilaksanakan oleh Fakultas Matematika dan Fakultas Ilmu Lingkungan Hidup, Universitas Waterloo, Kanada, dengan dukungan pendanaan dari Global Affairs Canada.

Sebagai kota pesisir dataran rendah yang dipengaruhi pasang surut laut, curah hujan tinggi, dan penurunan muka tanah, Pontianak menghadapi risiko banjir yang terus meningkat. Pada Desember 2025, beberapa wilayah tercatat mengalami banjir rob hingga dua kali, dengan ketinggian air mendekati dua meter.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusti Kamtono, menyebutkan, di beberapa kawasan bantaran Sungai Kapuas, air laut kerap masuk ke rumah warga, menimbulkan kerusakan material, dan memaksa warga mengungsi

“Meski air dapat surut, banjir sering kembali keesokan harinya dan dapat berlangsung selama empat hingga lima hari berturut-turut,” ujarnya.

Kajian risiko banjir yang dilakukan Pemkot Pontianak dengan dukungan FINCAPES bertujuan memahami potensi perubahan frekuensi, kedalaman, dan durasi banjir di masa depan akibat perubahan iklim. Studi ini dilaksanakan oleh Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), Universitas Syiah Kuala, dan hasilnya telah diserahkan kepada Bapperida Kota Pontianak sebagai bahan rujukan perencanaan dan kebijakan pembangunan kota.

Melanjutkan kajian awal, studi tindak lanjut fokus pada perhitungan kerugian dan kerusakan banjir secara aktuaria, yang juga didukung oleh FINCAPES. Principal Investigator Proyek FINCAPES dari Universitas Waterloo, Prof. Stefan Steiner, menjelaskan bahwa kajian ini membantu memahami risiko banjir dari sisi dampak nyata yang harus ditanggung kota.

“Peta bahaya banjir menunjukkan tingkat paparan, tetapi belum menjawab besaran kerugian yang harus dihadapi. Analisis aktuaria membantu menerjemahkan risiko ke dampak finansial terukur, yang penting untuk mendukung pengambilan keputusan kebijakan dan penganggaran,” jelas Prof. Steiner.

Studi aktuaria dilaksanakan oleh Departemen Aktuaria, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada, dengan melibatkan Universitas Tanjungpura untuk pengumpulan data. Metode catastrophe modelling digunakan untuk memperkirakan kerugian pada berbagai periode ulang banjir dan skenario iklim, serta menghasilkan indikator seperti Average Annual Loss (AAL). Studi ini direncanakan berlangsung 6–9 bulan dan akan ditutup dengan presentasi hasil serta lokakarya diseminasi kepada para pemangku kepentingan.

Salah satu fokus utama adalah integrasi Gender Equality and Socio-Economic Inclusion (GESEI), agar perhitungan kerugian tidak hanya menilai kerusakan fisik dan ekonomi, tetapi juga memperhitungkan perbedaan dampak berdasarkan gender, usia, disabilitas, dan struktur rumah tangga.

“Banjir di Pontianak terjadi relatif sering, meskipun ketinggian genangannya tidak selalu besar. Dampaknya nyata secara sosial dan ekonomi. Ketika potensi kerugian finansial besar, kesiapsiagaan perlu dibangun sejak dini, bukan setelah bencana terjadi,” ujar Danang Teguh Qoyyimi, Team Lead Research Universitas Gadjah Mada.

Selain kajian teknis, Pemkot Pontianak mendukung peningkatan kesadaran publik dan komunikasi risiko sebagai bagian dari tata kelola risiko banjir yang inklusif. Pendekatan ini membuka ruang dialog, pembelajaran, dan partisipasi masyarakat dalam memahami serta merespons risiko banjir.

Pada 2025, Yayasan Kolase, dengan dukungan FINCAPES, melaksanakan inisiatif Photovoice, yang melibatkan warga dari kawasan rawan banjir untuk mendokumentasikan pengalaman melalui fotografi dan narasi. Kegiatan diseminasi bertajuk “Mata Warga Memaknai Risiko Banjir Pontianak” menampilkan 34 karya foto warga, refleksi komunitas, dan publikasi podcast, serta dihadiri pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan warga setempat.

Diseminasi dirancang sebagai ruang dialog berkelanjutan dengan melibatkan aktor komunitas dan organisasi lokal, termasuk Kreasi Sungai Putat dan Gantari Nawasena Society, yang berbagi pengalaman pendampingan masyarakat melalui diskusi podcast radio.

“Pendekatan Photovoice menempatkan warga sebagai subjek aktif, bukan sekadar objek penelitian,” ujar Andi Fachrizal, Ketua Yayasan Kolase. Menurutnya, foto dan cerita ini menggambarkan bagaimana banjir memengaruhi kehidupan sehari-hari, mata pencaharian, dan keselamatan warga, sekaligus membuka ruang dialog respons bersama komunitas dan institusi.

Prof. Steiner menambahkan, perspektif masyarakat menjadi pelengkap penting bagi kajian ilmiah. “Data pemodelan dan peta adalah perangkat penting, tetapi tidak menceritakan keseluruhan realita dan pengalaman dari peristiwa banjir.” Ia menjelaskan bahwa risiko banjir dialami di rumah, gang sempit, sekolah, dan usaha kecil. “Dengan mengaitkan data ilmiah dan pengalaman warga, tata kelola risiko banjir dapat tetap berpijak pada realitas sehari-hari,” jelas Prof. Steiner. (*)

Editor : Miftahul Khair
#kajian ilmiah #pemkot pontianak #photovoice #banjir #partisipasi warga