Oleh: Ghea Lidyaza Safitri
Dalam sebuah keluarga, anak adalah anugerah terindah dari Allah SWT. Kehadiran anak menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Semua orang tua berharap anaknya menjadi orang berguna bagi agama, bangsa, negara, dan orang banyak.
Namun demikian, untuk mencapai itu semua butuh proses. Salah satunya lewat pendidikan terhadap anak. Pendidikan bisa diperoleh lewat jalur formal dan informal. Dimulai dari keluarga, terutama orang tua.
Peran orang tua adalah membesarkan dan mendidik anak menjadi manusia berguna. Maka dari itu orang tua harus menjadi contoh yang baik untuk buah hati mereka. Dalam mendidik anak, orang tua juga harus bijaksana. Tidak hanya mengedepankan keinginan, tanpa memerhatikan kondisi dan perkembangan si anak. Bagaimana sebenarnya makna bijaksana dalam mendidik anak?
Psikolog Dr. Hj. Fitri Sukmawati, M.Psi mengatakan bijaksana dalam mendidik anak ialah orang tua bisa menempatkan kondisi-kondisi sesuai dengan perkembangan psikologis anak.
“Di samping itu, orang tua juga harus tahu memperlakukan anak sesuai dengan usianya,” katanya.
Menurutnya, terkadang orang tua terlalu berpegang teguh dengan tiga karakter dalam mendidik anak. Ketiga karakter itu adalah demokratis, permisif, dan otoriter. Dalam mendidik, orang tua tidak bisa menerapkan cara yang sama kepada anak tanpa memandang batasan usianya.
Tentu saja, psikologis bayi dan balita berbeda. Anak-anak dan remaja juga demikian. Setiap anak punya kebiasaan berbeda, sesuai dengan usianya.
Menurut Ketua Jurusan Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN ini, semua anak pun harus bertanggung jawab dengan usianya.
“Namun, bentuk tanggung jawabnya sesuai dengan kemampuan kognitif dan psikomotorik yang harus dipertimbangkan,” kata Fitri.
Ia menjelaskan dalam psikologi, ada tahapan-tahapannya. Contohnya, bayi yang baru lahir dan balita, harus dilayani. Setelah menginjak usia anak-anak, maka orang tua harus bisa memberikan pemahaman.
Pada intinya, makin bertambahnya usia, orang tua bisa menjadikan anak sebagai teman. Orang tua dapat membuat anak mengikuti aturan main yang dibuat oleh mereka. Tidak lupa, orang tua juga harus memahami perkembangan psikomotorik, kognitif dan afeksi yang dimiliki anak.
Orang tua bijaksana tidak akan pernah memaksakan atau membiarkan anak atau bersikap permisif. Sebab, sampai kapan pun, anak masih masih perlu dibimbing dan diarahkan agar tidak salah dalam melangkah.
Orang tua bijaksana juga tidak akan mudah melakukan kekerasan saat memarahi anak. Kekerasan yang dilakukan orang tua justru akan menyakiti, dan membuat anak tidak memiliki rasa percaya diri. Namun, bukan berarti orang tua tidak boleh marah.
Ketua HIMPSI Kalbar ini menuturkan ketika orang tua kesal pada anak, boleh menyampaikan lewat ungkapan ihwal apa yang tidak disukai. Dengan kata lain, bisa juga menginformasikan perasaan orang tua saat itu kepada anak dengan cara yang baik.
“Anak juga harus tahu orang tua tidak suka kalau anak berlaku demikian,” tutur Fitri.
Lebih lanjut Fitri mencontohkan, saat orang tua mengetahui anak menyukai lawan jenis, padahal belum saatnya melakukan itu, tidak boleh langsung dihakimi. Lebih baik, orang tua mencari cara bijaksana untuk mengomunikasikan kepada anak, sesuai nilai dan norma agama, sosial dan lainnya. Nantinya, orang tua bisa mengarahkan agar anak tidak salah bertindak.
“Di sini peran ayah dan ibu untuk saling mendukung aturan-aturan yang telah ditetapkan bersama,” tutup ketua Jurusan Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN ini.** Editor : Super_Admin