Oleh : Siti Sulbiyah
Setiap kali hendak makan, dr. Firdaus menepuk-nepuk bagian perutnya. Itu dilakukan untuk mengingatkan dirinya bahwa yang diberi makan adalah tubuhnya. Tubuhnya yang membutuhkan asupan secukupnya dan bergizi. Menepuk-nepuk perut adalah caranya membatasi makan yang ia konsumsi agar tidak berlebih.
“Setelah saya melakukan itu (menepuk perut, red), saya tidak lagi makan dengan kalap,” katanya.
Hal itu dilakukan agar ia ingat, jika keinginan makan tidak dikendalikan, ia bisa menjadi kalap dan berisiko mengganggu kesehatan tubuhnya. Ingatan itu sebagai reaksi dari pikiran yang telah dikondisikan sebelumnya dengan cara mengulangi atau mengasosiasikan kembali pengalaman pada masa lalu jika pemicunya diaktifkan. Teknik pengelolaan pikiran seperti ini disebut teknik penjangkaran atau anchoring.
“Anchoring adalah teknik memberikan pesan mental dengan sentuhan atau tindakan dan kata-kata untuk mengasosiasikan kejadian tertentu,” ungkap dr. Firdaus.
Dokter yang membuka praktik di Kota Pontianak ini menjelaskan, anchoring merupakan salah satu teknik yang dipakai dalam dunai NLP dan hypnosis. Prinsip kerjanya adalah pikiran yang cenderung mengulangi atau mengasosiasikankembali pengalaman pada masa lalu jika pemicunya diaktifkan. Pemicu ini bermacam-macam, bisa bersifat auditory, visual, bau-bauan dan lain-lain.
Teknik ini ditemukan oleh Ivan Pavlov, seorang Psikolog berkebangsaan Rusia. Pavlov, dikatakan Firdaus, melakukan percobaan dengan memberikan makan seekor anjing dan didahului dengan membunyikan bel. Percobaan ini dilakukan berulang-ulang. Saat berikutnya ketika bel dibunyikan, maka segera anjing bereaksi mengeluarkan air liur.
“Dari percobaan ini, kita bisa melihat bahwa hal tertentu bisa dikaitkan dengan hal tertentu lainnya. Seperti si Anjing secara tidak sadar mengeluarkan air liurnya, ketika mendengar bel. Artinya ada suatu reaksi fisik. Nah, anchor atau stimulus pemicunya itu adalah adalah suara bel itu,” jelasnya.
Teknik ini bisa diterapkan dalam upaya menyadarkan diri sendiri tentang pentingnya menjaga kesehatan. Pemicu yang digunakan bisa dampak dari kesehatan yang buruk.
“Misalnya, anchoring-nya adalah perasaan tidak nyaman ketika sakit. Pemicu ini jadi motivasi untuk membuat kita berusaha agar tidak sakit dengan menjaga kesehatan,” ucapnya.
Contoh lainnya, pada penderita penyakit jantung. Anchor yang bisa digunakan misalnya dengan cara memegang dada. Dilakukan secara berulang apabila ada rasa malas meminum obat. “Pegang dada di bagian jantung, ingat-ingat bagaimana tidak enaknya sakit jantung. Harus sayang sama jantung, dan tidak mau lagi kambuh,” ujarnya.
Menurutnya, seseorang bisa menciptakan anchor atau pemicunya sendiri, dengan melatihnya secara berulang-ulang. Namun dalam keadan lain, anchor bisa tercipta secara alami karena didahului sebuah peristiwa. Misalnya, ketika habis menjenguk orang sakit.
“Kadang kala habis jenguk orang yang sakit, kita sadar harus menjaga kesehatan. Apa yang dikonsumsi kemduian berubah menjadi makanan dan minuman yang sehat,” paparnya.** Editor : Super_Admin