Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kenali Tanda-tanda Pasangan Playing Victim

Syahriani Siregar • Minggu, 3 Desember 2023 | 17:02 WIB

Ilustrasi Toxic Relationship
Ilustrasi Toxic Relationship
PONTIANAK - Pasangan yang sering memainkan peran sebagai korban atau playing victim dapat menunjukkan pola perilaku yang tidak sehat dalam hubungan. Menghadapi pasangan yang terus-menerus berperan sebagai korban bisa menjadi situasi yang sulit dan menantang. Bagaimana ciri-ciri pasangan yang playing victim?

Viva Darma Putri, S.Psi., M.Psi., Psikolog mengatakan, playing victim adalah sikap atau perilaku seseorang yang merasa dirinya seolah-olah sebagai korban dari suatu masalah untuk berbagai alasan. Beberapa alasan seseorang melakukan playing victim adalah untuk memanipulasi orang lain, menarik perhatian, ataupun bertujuan untuk menyebarkan informasi ke orang lain termasuk di media sosial bahwa dirinya adalah korban.

Ciri khas dari playing victim adalah membuat alasan atau drama yang membuat dirinya sebagai korban agar terhindar dari tanggung jawab, menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dirinya buat, atau terhindar dari perasaan tidak menyenangkan.

“Orang yang playing victim enggan mengakui kesalahannya dan melimpahkannya pada orang lain, merasa seolah-olah korban agar terhindar dari konsekuensi negatif dari suatu tugas,” katanya.

Playing victim dalam sebuah hubungan romantis merupakan salah satu bentuk relasi beracun atau toxic relationship. Dalam hubungan toxic tersebut, pasangan yang menjadi pelaku playing victim cenderung menyalahkan orang lain atas masalah atau kesulitan mereka. Mereka jarang mengambil tanggung jawab atas tindakan atau keputusan mereka sendiri, dan melimpahkan kesalahan tersebut pada pasangannya.

“Orang yang playing victim memutarbalikkan fakta agar (pasangan) yang seharusnya adalah korban yang sebenarnya jadi menganggap bahwa semua ini salah dia,” tutupnya. 

Beberapa orang yang merasa jadi korban ini ingin menyembunyikan kelemahan atau kesalahan pribadinya. Untuk menutupi hal tersebut, si pelaku mencari-cari alasan agar terhindar dari tanggung jawab. Dengan menempatkan diri sebagai korban, mereka mungkin merasa lebih aman dari kritik atau penilaian negatif.

Selain menghindari tanggung jawab, pelaku playing victim kerap melakukan hal tersebut untuk memanipulasi pasangannya secara emosional. Orang yang melakukan ini mungkin berharap dapat memanipulasi perasaan orang lain untuk mendapatkan dukungan, simpati, atau perlakuan khusus. 

Dalam sebuah hubungan romantis, umumnya bila playing victim itu dilakukan oleh laki-laki bertujuan untuk menunjukkan power atau kontrol terhadap pasangannya dalam bentuk fisik, agresif, ekonomi, dan verbal yang kasar. Sedangkan bila perempuan, perilaku playing victim ini umumnya dilakukan untuk mengendalikan pasangannya dengan cara mengancam, ataupun bermain secara emosi atau manipulasi lainnya. 

Perilaku playing victim bisa memiliki dampak negatif pada kesejahteraan mental pasangan yang lain. Pasangan yang terus-menerus mendapat tekanan emosional dari pasangan yang berperan sebagai korban mungkin akan merasa harga dirinya rendah.

“Orang yang pasangannya selalu berperilaku playing victim, maka bisa jadi orang itu merasa harga dirinya jatuh, merasa tidak percaya diri, bahkan trauma,” terangnya.

Dirinya mengingatkan untuk jangan terlalu percaya bila belum ada bukti yang jelas dari apa yang diucapkan oleh pasangan. Karena belum tentu yang diucapkan pelaku playing victim ini benar. 

Selain itu, berikan batasan pribadi untuk diri sendiri, dan jangan sampai merusak kesejahteraan emosi dan mental. “Pahami bahwa kita tidak bertanggung jawab atas perasaan atau tindakan orang lain,” ucapnya. 

Bila terjadi konflik, hal yang bisa dilakukan adalah dengan memberikannya bantuan untuk menyelesaikan masalah. Bila pada akhirnya pasangan tetap menunjukkan perilaku playing victim, maka hal yang bisa dilakukan adalah dengan menyampaikan hal tersebut dengan komunikasi terbuka.

“Sampaikan bila tidak nyaman dengan perilaku dia,” ucapnya.

Jika diperlukan, tambahnya, pertimbangkan batasan yang lebih jauh kalau dirasa hubungan tersebut sudah tidak menyenangkan terlalu banyak ruginya. Bila hal ini akan merusak mental, tak ada salahnya untuk mepertimbangkan opsi berpisah. 

Bisa juga, lanjutnya, dengan menawarkannya bantuan profesional, seperti psikolog atau konselor. Dengan catatan, si pelaku playing victim sadar akan kekurangan dan punya komitmen untuk berubah. (sti)

Editor : Syahriani Siregar
#playing victim