Pernikahan adalah perubahan besar dalam hidup seseorang. Tak jarang perubahan ini dapat memengaruhi perilaku suami. Perubahan dalam perilaku suami setelah menikah bisa disebabkan oleh sejumlah faktor.
Oleh : Siti Sulbiyah
Pernikahan seringkali berpengaruh terhadap perubahan hidup seseorang, tidak hanya terjadi pada individu yang menikah, tetapi juga pada pasangan mereka. Salah satu aspek yang sering menjadi perhatian adalah bagaimana suami bisa berubah setelah menikah.
Menurut sebuah penelitian, ternyata menikah memang bisa merubah seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh tim riset di Universitas George di Amerika Serikat, meneliti 169 pasangan yang sudah menikah di 18 bulan pertama awal pernikahan.
Berdasarkan penelitian tersebut ditemukan bahwa kebanyakan pasangan mengalami perubahan kepribadian setelah menikah. Penelitian tersebut menemukan fakta bahwa setelah menikah kebanyakan suami menjadi kurang terbuka. Sedangkan istri menjadi jauh lebih tertutup.
Psikolog klinis dewasa, Syifa Zunuraina, M.Psi., Psikolog mengatakan dinamika kehidupan pasca menikah adalah hal umum terjadi. Perubahan seseorang, baik itu suami maupun istri setelah menikah adalah hal yang alami dan bisa terjadi pada siapa pun.
“Dalam hal suami, misalnya jadi kurang romantis atau perubahan lainnya yang mungkin saja terjadi setelah beberapa waktu menjalani pernikahan,” ucapnya.
Menurutnya, perubahan dalam perilaku suami setelah menikah bisa disebabkan oleh sejumlah faktor kompleks. Selain itu, penyebab perubahan tersebut bisa karena alasan khusus atau sangat individual, sehingga tidak bisa disamakan antara pasangan yang satu dengan pasangan lainnya.
Namun, lanjut Psikolog yang bekerja sebagai Associate Psychologist di DSP Consulting Pontianak ini, ada beberapa kemungkinan yang bisa menjadi faktor perubahan sikap suami, terutama terhadap istrinya.
Salah satunya karena ada perubahan tanggung jawab. Menikah tentunya membawa banyak tanggung jawab baru yang bisa saja menimbulkan tekanan dan stres pada suami.
“Misalnya tekanan bekerja memenuhi kebutuhan rumah tangga,” ucapnya.
Kondisi ini tentunya berbeda dengan saat masih sendiri atau berpacaran. Pada fase pendekatan atau sebelum ke jenjang pernikahan, interaksi antara laki-laki dan perempuan tidak seintens ketika telah menikah. Sehingga saat fase ini, sang laki-laki masih bisa memberikan effort dan menunjukan kasih sayangnya secara penuh.
Proses penyesuaian terhadap kehidupan baru sebagai pasangan bisa menimbulkan stres dan ketegangan. Terlebih, ada konflik-konflik baru saat berumah tangga yang tentunya memerlukan energi yang sangat banyak.
“Sehingga sisa-sisa energi untuk romantis, effort yang sebelumnya dirasa membahagiakan saat pacaran atau awal menikah jadi terasa berkurang,” terang Careline Counsellor di PT Naluri Hidup Indonesia ini.
Selain itu, pernikahan kerap kali mengubah prioritas seseorang. Seorang suami mungkin mulai memprioritaskan kebutuhan keluarga, termasuk anak, dan lain sebagainya.
Dari hal ini, maka baik suami maupun istri perlu menyadari bahwa pernikahan itu memiliki tekanan dan tanggung jawab berbeda bila dibandingkan dengan masa berpacaran.
Kurangnya komunikasi yang efektif antara pasangan juga bisa menyebabkan perubahan dalam hubungan. Ketika harapan dan kebutuhan tidak diungkapkan dengan jelas, bisa muncul ketidaksesuaian yang menyebabkan perubahan dalam hubungan.
“Barangkali ada keinginan yang tidak bisa disampaikan. Ada perilaku pasangan perilaku pasangan yang tidak disenangi dan tidak disampaikan dengan baik sehingga menimbulkan kekecewaan,” paparnya.
Dalam konteks komunikasi yang kurang ini, suami mungkin merasa tidak dipahami atau dihargai oleh pasangannya. Hal ini juga dapat menyebabkan ketidakpuasan dan perubahan perilaku.
Namun dirinya menilai persoalan ini sangat bisa diatasi bila ada kemauan dari kedua pasangan suami istri tersebut. Sebab, dalam pernikahan pastinya banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi terhadap pasangan. Mendapatkan seseorang yang sempurna 100 persen sesuai harapan rasanya agak sulit,
“Tinggal bagaimana dua-dua mau saling sadar dan mengakui bila ada hal yang seperti itu. Dan tentunya kedua orang ini mau mencari solusinya. Kalaupun tidak bisa dihilangkan, setidaknya bisa dikompromikan solusinya,” jelasnya.**
Editor : Syahriani Siregar